Feeds:
Pos
Komentar

Assalamu’alaikum

index2Salam kebanggaan dan salam kebersamaan yang selalu terucap dari lisan setiap muslim.. Lama tak bersua di dunia maya, penulis merasa kangen dengan aktifitas di depan monitor berbagi sedikit cerita dari mozaik kehidupan. Salam bagi sekalian sahabat yang senantiasa mengikuti cerita penulis. mudah-mudahan kedepannya, dapat lebih bisa rutin berbagi kembali…

Image

Seorang bapa paruh baya datang kepada seorang ustadz. Dia mengadukan bahwa sekrang ia dan istrinya sudah tak saling mencintai. Sudah tak ada kehangatan dalam keluarga. dan ustadz itu pun berkata “berilah istrimu itu hadiah, perhatian dan jadwalkan acara bersama.” Sang bapa kaget, ia protes. Mana mungkin ia melakukan hal itu, rasa cinta pun sudah tak ada. Sang ustadz tersenyum lalu berkata, “Justru itulah kuncinya. Cinta itu terukur dari perbuatan yng kita lakukan. Makin kit cintai maka makin kuat pengorbanan kita. Cara terbaik menumbuhkan cinta adalah dengan makin banyak memperjuangkan hal itu.”

Kawan, cerita diatasa adalah kisah nyata yang saya dengarkan dari sesi curhatan  di sebuah chanel radio Islam.

Kata Cinta adalah satu kata yang paling sering diangkat menjadi suatu lagu. Satu kata yang paling sering menjadi tema cerita dan satu kata yang selalu menjadi tag line karya sastra modern. Menurut orang, dunia ini menjdi indah karena cinta. Dan karena cinta pula mereka menjadi berarti.

Benarkah pernyataan itu?

Ya memang benar. Kita tercipta di dunia ini karena cinta Illahi (baca: Rahmat). Kita tahu jalan kebenaranpun karena cinta dari sang pemberi petunjuk, Rasulullah yang mulia. Dan kita terlahir di dunia ini pun hasil dari cinta kasih kedua orang tua kita. Karena cinta-lah kita ada.

Maka apakah itu cinta? Cinta adalah suatu anugrah yang timbul dari cahaya Illahi yang selalu menghendaki kebaikan bagi yang kita cintai. Jadi kalau orang mengatakan dalil cinta demi melindungi kemaksiatan yang ia buat, itu adalah kesalahan besar. Karena cinta itu selalu menghendaki kebaikan.

Ternyata cita itu adalah sumber energi. Seorang teman yang penghobi Fisika pernah berkata Cinta itu laksana energi. Yang memberi daya dan upaya yang luarbiasa sehingga seseorang bisa melangkah dan berbuat sesuatu yang hebat. Namun sama seperti energi yang memiliki hukum kekekalan, diman energi tak dapat kita ciptakan atau musnahkan, hanya bisa berubah wujud. Begitu pula cinta. Tak dapat kita inginkan atau hilangkan hanya berubah wujud.”

Masih ingat cerita tentang seorang penghobi burung? Yang begitu mencintai burung-burung peliharaannya. seorang Penghobi berat burung kicau akan sangat telaten merawat dan menjaga peliharaannya tersebut. Ia akan sangat selektif dalam segala hal, makanan, perawatan, obat-obatan, porsi latihan, sangkar, waktu bertanding, pembiakan, bahkan porsi waktu yang ia sediakan untuk peliharaannya itu terkadang lebih besar dari porsi waktu untuk keluarganya. Dan hasilnya, burung kesayangannya akan kerap menjuarai kejuaran kicau. Ini nyata. Itulah bentuk sabar, karna sabar adalah turunan dari cinta. Kita akan sabar bila kita cinta pada hal yang mendatangkan masalah.

Seperti Tuhan yang mencintai hambanya. Ia menciptakannya kemudian membinanya, memberinya rizki, memberi petunjuk, mengurus, memberi penghargaan atas prestasi kita. Dan akan menghukum kita saat kita salah. Itulah bukti cinta.

Rasulullah teramat sangat mencintai umatnya. Menjelang akhir hayatnya ia masih meanggil-manggil umatnya. “umatti… umatti…” Beliau teramat sangat menghawatirkan umatnya hingga akhir hayatnya. Jutaan kisah tentang bukti cinta beliau terhadap umatnya telah diabadikan dalam buku. Suatu hal yang luar biasa

Dari cerita-cerita diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Ternyata cinta itu terukur. Dapat dilihat dan dibuktikan. Semakin cinta seseorang terhadap hal lain, maka makin kuatlah bukti yang ia berikan. Suatu standar awal tentang bukti cinta adalah yang dicintai itu selalu ada dalam ingatan, selalu yang paling utama.

Dan ingat. Cinta terindah itu adalah cinta kepada yang Maha Cinta. Cinta itu terukur dari perbuatan kita. Karena cinta seperti iman, butuh tekad, butuh amal, butuh bukti dan butuh perjuangan. Bila kita mengatakan cinta pada Allah dan pada Rasulullah, maka hal tersebut akan dituntut pembuktianya. Sebesar apa cinta kita. Sebesar itu lah pembuktian yang kita tunjukan.

Kita mungkin dengan mudah bisa bilang kita cinta agama ini. Kita cinta perubahan, kita cinta negeri ini. Tapi kita akan berat bila harus membuktikanya. Membuat pernyataan itu mudah. Tapi membuktikan pernyataan itu hal yang berbeda.

Dari hal diatas, maka kita dapat menakar kadar cinta seseorang terhadap sesuatu. Tak perlu pernyataan yang berapi-api. Karena cinta itu dapat dilihat dari pengorbanan yang ia lakukan. Bila seseorang waktunya lebih banyak dipergunakan untuk mengabdi pada suatu bidang seperti dakwah, kerja, menimbun harta atau “berpacaran” maka itulah cintanya.

Secara sederhana tanda cinta itu adalah kita rela berkorban, bekerja tanpa dibayar, menghabiskan waktu, untuk suatu hal. Hal itu kita rasa membawa kebahagiaan hati dan kepuasan batin. Maka hal apa yang paling membuat kita merasa nyaman, tenang? Itulah tanda cinta kita. Dan beruntunglah bila cinta kita itu pada jalan yang benar. Cinta pada agama, keluarga, masyarakat, pendidikan dan lain sebagainya. Dan celaka bila kita cinta pada hal yang tidak manfaat bahkan hal yang negatif, “ubud dunya” cinta pada kenikmatan semu dunia.

Orang akan cenderung melakukan hal yang ia senangi, yang ia merasa nyaman dalamnya. Dan percayalah kawan. Itulah gambaran cintanya. Mungkin cinta itu berwujud pekerjaan, harta, atau pasangan. Yang jelas yang selalu ada dalam pikiran seseorang. Itulah cintanya.

Mari sucikan cinta kita degan mencintai yang Maha Mencinta. Karena Cinta itu terukur dari perbuatan kita. Karena cinta seperti iman, butuh tekad, butuh amal, butuh bukti dan butuh perjuangan

Subhanallah..

طبيب الطب النبوي Dokter Pengobatan Nabawi

ADAB – ADAB DI DALAM MAJELIS ILMU

 

Berikut ini adalah beberapa adab di majelis ilmu yang kiranya penting untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seorang penuntut ilmu. Adab-adab ini sengaja kami tulis dengan ringkas agar mudah diingat dan dipraktekkan. Di antara adab tersebut adalah:
1. Mengikhlaskan niat
2. Berpenampilan yang baik
3. Berlomba untuk berada di tempat terdepan
4. Menunjukkan akhlaq yang baik
5. Tenang dan fokus
6. Membaca Doa Kaffaratul Majelis

Adapun perinciannya sebagai berikut:

1. Mengikhlaskan niat

Menuntut ilmu adalah ibadah yang mulia. Agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta’ala dan berbuah pahala, maka hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga betul keikhlasan niatnya. Allah berfirman,

Lihat pos aslinya 1.701 kata lagi

Friends

Friends.

Image

(Cahyadi Muharam)

Beberapa waktu ke belakang kita mendapat berita gembira dari dunia olahraga. Pasangan ganda putra dan ganda campuran Indonesia yaitu Moch. Ahsan/ Hendra Setiawan juga Liliyana Natsir/ Tontowi Ahmad mampu mempersembahkan gelar juara dunia bulu tangkis setelah dinyatakan menang dalam turnamen di Cina. Pasangan tersebut, terutama ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliana Natshir sangat padu dan saling melengkapi. Tontowi handal dalam pergerakan dan pertahanan berduet dengan Liliana yang memiliki kemampuan penempatan bola baik dan serangan balik yang bagus. Maka pantas mereka menjadi juara.

Hal diatas adalah gambaran pasangan yang ideal. Pasangan dalam arti relasi kerja yang saling sinergi dan melengkapi. Sehingga ketika keduanya bersatu, menjadikan musuh sulit menemukan celah kelemahannya. Mereka saling menutupi kekurangan dan meng-cover kelemahan pasangannya dengan kelebihan yang ia punya.

Pada saat bulan Ramadhan kemarin, diadakan kegiatan buka bareng di sekolah. Kepala sekolah yang juga seorang ustadz memulai kegiatan tersebut dengan berceramah. Dan tema ceramahnya adalah pasangan yang dikemas semi game. Kita ditugaskan memcari pasangan dari hal-hal yang beliau sebutkan. Karena menurutnya setiap ciptaan Allah pasti ada pasangannya.

Beliau memulai dengan menyebut malam, maka kami spontan menjawab siang. Dan ternyata benar. Malam akan sempurna dengan hadirnya siang. Malam selalu menyelimuti bumi dengan dingin, gelap dan sunyi tapi menawarkan istirahat, pemulihan dan juga waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan siang yang merupakan pasangannya, menawarkan kehangatan, optimisme dan dinamisme. Semuanya akan seimbang karena beriringan. Malam tak pernah mendahului siang begitu juga sebaliknya. Dan bayangkan bila dunia ini hanya ada malam? Maka akan jadi planet mati yang tak berkehidupan. Atau hanya ada siang. Maka akan menjadi planet tiruan Mars yang teramat sangat panas tanpa kehidupan.

Beliau bertanya tentang pasangan buku. Maka ada yang menjawab pensil, bolpoin, spidol dan lain sebagainya. Pasangan buku adalah tinta. Karena dengan tinta, buku menjadi punya makna. Dapat menjadi gudang ilmu dan bermanfaat bagi semua.

Kemudian beliau menyebut saum maka kami menjawab beragam. Sholat! Buka! Sabar! Bahkan ada yang menjawab tarawih. Dan ternyata jawaban yang benarnya adalah… Diam. Ya, diam adalah pasangan saum. Mengapa? Karena diam dapat menyempurnakan saum. Saat saum semua indra kita tahan agar tidak melakukan maksiat, dan maksiat terberat tapi paling tidak terasa adalah lewat mulut kita. Perkataan kita. Maka diam adalah penyempurna saum. Saum menahan segala yang masuk melalui mulut dan diam menahan segala yang keluar dari mulut.

Kemudian beliau menyebutkan shalat, maka kami menjawab sabar. Dan memang benar. Sabar adalah pasangan shalat. Seperti sabda Allah dalam Al-Qur’an. Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Karena sabar adalah menerima segala putusan dari Allah dengan mengusahakan yang terbaik sedangkan shalat adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Sabar dan shalat lah.

Beliau bertanya kembali, pasangan dari Al Qur’an. Sebagain menjawab sunnah, sebagian yang lain menjawab Rasulullah. Dan jawaban yang benar adalah yang mengajarkannya. Al Qur’an akan sempurna bila diamalkan dan diajarkan. Dan para pengajar Al Qur’an ini lah orang yang menjelaskan dan menyebarkan nur dari Al Qur’an sehingga dapat diamalkan oleh umat. Mereka lah yang Akan Allah Angkat ketika kiamat hendak terjadi. Dengan mengangkat ahli Al Qur’an maka Al Qur’an akan tak tersentuh cahayanya sehingga dunia akan gelap gulita.

Terakhir beliau menyebut kata ibadah, maka jawaban kami kembali beragam. Ikhlas! Ihsan! Niat! Tawakal! Dan masih banyak lagi. Dan ternyata, pasangan ibadah adalah kata pasangan itu sendiri, yaitu Safa’at. Syafa’at adalah pertolongan yang diberikan oleh Baginda Nabi Rasulullah S.A.W kelak. Safa’at adalah penyempurna dari ibadah kita. Bila kita benar dalam ibadah kita dan sungguh-sungguh, maka safaat itu pun akan dapat kita peroleh. Hal ini karena safaat adalah hal mulia dan hanya akan diberikan bagi mereka yang memiliki “modal” kemuliaan juga. Karena pasangan itu saling melengkapi dan setaraf.

Dari pemaparan diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa pasangan itu bukanlah lawan seperti selama ini kita bayangkan. Jujur bukanlah pasangan dari bohong. Ibadah pun bukan pasangan maksiat. Pasangan itu sesuatu yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Sehingga menjadi kuat, tangguh dan lebih berkualitas.

Sering kita dengar orang-orang berkeluh kesah tentang pasanganya atau yang danggap “calon pasangannya”. Seperti sahabat saya yang sering bercerita tentang “calon pasangnya” atau yang lebih umum dikenal dengan istilah “pacar”. Semenjak kenal dengan pacarnya ini, dia menjadi “bukan dia”. Mulai jauh dari kehidupannya dulu. Tak lagi mampu jujur dan terbuka. Dan perlahan tapi pasti, menjauh dari sahabatnya yang selama ini berjuang bersama dalam suka dan duka. Dan dia pun tak merasakan kebahagiaan seutuhnya walaupun berteman pacarnya. Timbullah dalam pikiran yang mempertanyakan. Apakah itu yang akan jadi “pasangan” nya? Bukankah pasangan itu harus saling menguatkan dan membuat lebih berkualitas? Buak malah menjadi lebih terpuruk?

Teman yang lain bercerita ketiaka dia bertemu pasangannya yang telah menjadi halal saat ini, ia seakan menjadi sosok sempurna karena selalu ada orang yang mengerti dan mendorongnya kearah kebaikan walaupun pengetahuan agama pasangan ini tak terlampau bagus. Tapi mereka berkomitmen dan saling memotivasi sehingga semua orang pun “pangling” terhadap perubahan yang mereka capai terlebih setelah menikah.

Ingat cerita yang akhir-akhir ini sedang banyak dipernbincangkan? Tentang cerita cinta B.J. Habibie dan Ibu Ainun. Mereka pasangan yang saling menguatkan. Kita pikir Pak Habibie sebagai orang super hebat yang mampu menarik gerbong industri taktis Indonesia kea rah kemajuan dan juga menjadi patok yang menghindarkan Indonesia dari kehancuran pada era revormasi dengan menjadi presiaden yang begitu bertanggung jawab. Tapi bila kita menyimak cerita dari film terutama dari novel, ternyata ibu Ainun lah yang membuatnya menjadi sanggat kuat tersebut. Beliau lah tokoh yang ada di belakang Pak Habibie yang menggenapkan dan menyempurnakan Pak Habibie.

Jelas sudah, bahwa pasangan itu adalah pelengkap, penyempurna yang senantiasa meningkatkan kualitas suatu hal. Terutama kualitas diri. Maka untuk mengetahui apakah seseorang adalah pasangan yang baik atau tidak (pasangan kerja, pasangan usaha terutama pasangan pernikahan) lihatlah sebesar apa mereka melengkapi kekurangan kita. Sejauh mana mereka meningkatkan kualitas diri kita. Bila hanya menggerogoti dan membuat kita malah makin terjerumus pada kesalahan, itu bukanlah pasangan tapi hal yang seharusnya kita jauhi.

Ingatlah. Kejujuran itu bukan lah pasangan dari kebohongan. Kebaikan bukan pasangan keburukan. Itu adalah lawan. Karena pasangan hanya akan selalu menambah sesuatu menjadi lebih baik, lebih bernilai dan sempurna.

dari: watashi-ahmad.blogspot.com

(Cahyadi Muharam)

“Kawan, ikut ngak ke nikahan si Fulan.? Temen SMA kita.”  Begitulah celoteh kawanku beberapa waktu kebelakang. Disaat yang berdekatan beberapa teman melangsungkan pernikahan yang alhamdulillah semua berjalan lancar. Mudah-mudahan mereka semua dikaruniai keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amiiin.

Tertarik dengan pernikahan kawan-kawanku ini, kemudian penulis membuka-buka tulisan tentang pernikahan. Tulisan-tulian beberapa tokoh terkemuka membuka pengetahuan penulis tentang pernikahan. Salah satu yang berkesan adalah tulisan dari KH. Jalaluddin Rakhmat dan Ust. Miftah F. Rahmat. Berikut sedikit cuplikan intisari tulisannya yang penulis padukan dengan sumber-sumber lainnya.

Nabi yang Mulia pernah bersabda, untuk menikah atas dasar agama. Agama ini bukanlah karena kesamaan agama “saja”, kesamaan ritual. Atas dasar agama jauh lebih agung dari tu. Mintalah pasangan untuk berjanji, bahwa ia akan membantu sesungguh hati, mendekatkan kita pada ilahi.jadilah kita pengingat dikala dia alpa, pencegah diwaktu lupa, dan penyemangat dikala duka.

Pernikahan itu adalah perjanjia yang sangat berat (mitsaqan ghalizha). Hanya tiga kali Allah menyebutkan kata ini dalam Al Qur’an. Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan para Nabi- dengan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Rasulullah Saw (QS. 33:7) dan mengangkat derajat mereka lebih tinggi dari Nabi yang lain. Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (QS. 4:154). Dan Ketiga, ketika Allah menyetakan hubungan pernikahan (QS. 4:21). Seolah-olah bila janji suci ini ditepati, Allah akan mengangkat derajat kita diatas manusia. Tapi bila kita mengingkari, Allah akan merendahkan kita sebagaimana Dia mengubah Bani Israil menjadi kera yang dihinakan karena melanggar perjanjian.

Dua kaliamat yang terucap dalam pernikahan sangat besar nilainya dimata Allah. Kalimat itu adalah: ijab dan kabul. Ijab mengendung pesan penyerahan dan dalam kabul penerimaan. Dalam serah terima tersebut terdapat campur tangan Tuhan. Dengan dua kalimat, terjadi perubahan yang besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun akan berubah menjadi kasih dan sayang.

Kawan, dikala pernikahan itu berlangsung, seluruh orang yang hadir akan berbahagia. Dan andai kita tahu, malaikat pun akan berbahagia. Mereka melantunkan do’a keselamatan untuk para mempelai. Rasulullah pernah bersebda bahwa belumlengkap agama seorang hamba hingga hamba tersebut menikah. Maka maknailah pernikahan tersebut adalah ibadah, pelengkap agama dan ketaqwaan kita.

Dari sumber lain saya menemuka fakta yang mengejutkan. Bahwa suatu negara yang melegalkan sepasang wanita dan pria bukan muhrim untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan memiliki tingkat stress yang tinggi dan tingkat kebahagiaan yang sangat rendah. Hal ini karena hubungan yang demikian memiliki kebebasan, tak ada ikatan tanggung jawab secara formal. Anak yang dihasilkan pun tak dapat menggugat warisan orng tuanya. Semuanya atas dasar nafsu dan bertopeng “cinta”.  Suatu keadaan seperti halnya jaman Jahilliah. Nauzubillah..

Sebuah kisah tentang pengalaman membina rumah tangga pernah saya temukan dari tumpukn buku-buku. Ungkilan kisah tersebut disebtkan saat seorang suami mendapat guncangan hebat karena masalah pekerjaan yang memaksanya terjerembab kedalam keadaan stress yang lluar biasa. Satu-satuya penolong adalah senyum istrinya yng selalu hadir menyemangati suaminya. Ia mati-matian membangkitkan kepercayaan diri suaminya. Ia lah garda terdepan yang selalu pasang badan ketika suaminya drop hingga titik nadir. Wanita superkah dia? Ia sendiri sering menangis sendiri di kamar mandi atau ditengah malam dalam sujudnya. Disaat suaminya tak dapat melihat kesedihanya,dan selalu memberi kekuatan kesekitar walau sebenarnya ia rapuh. Subhanallah. Inilah hakikat pernikahan, saling menguatkan,  menegarkan menutupi aib, memahami kekurangan dan saling menjaga. Karena sungguh, kehidupan ini sangat berat, namun akan indah bila dilalui bersama.

Rasullulah pernah bersabda bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu. Disaat kita memutuskan untuk menikah, sesungguhnya kita akan menikahi seorang ibu. Ibu dari rumah tangga yang akan kita bangun bersama. Apakah rumah tangga yang akan kita tempuh akan menjadi surga atau neraka, tergantung dari peran seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Dan seorang istri adalah tanggung jawab suami. Bagai mana akhlak nya adalah bagaimana suami mengarahkanya. Rumah tangga akan menjadi surga bila disana kita hiaskan kesabaran, kesetiaan, dan kesucian.

Sebuah kajian tentang pola hubungan sumi istri pernah penulis dapatkan ketika medengarakan ulasan di sebuah radio Islami. Menurut pembicara dalam acara tersebut, suatu hubungan antara suami istri dapat berjalan baik bila dilandasi kejujuran, kasih, sayang dan saling menerima.seorang isrti atau suami harus bisa bermain peran sebagai PISIK. Apakah “PISIK” itu? Itu merupakan singkatan dari Partner, Ibu, Sahabat, Istri, dan Kekasih. Mari kita bahas satu persatu.

Partner, rekan kerja atau orang yang memiliki kedudukan sama dengan kita. Seorang rekan kerja adalah seseorang yang dapat kita andalkan, memberi dukungan dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Andaikan pasangan kita adalah partner kita, maka dia akan sungguh-sungguh membantu kita. Membagi-bagi tugas dan tanggung jawab. Mengingatkan kita disaat kita lupa, menyemangati kita saat kita jatuh. Karena partner yang baik menginginkan yang terbaik untuk rekannya untuk kesuksesan bersama.

Ibu, (Ayah). Pernah ada suatu ungkapan yang berbunyi, “saat kau menikahi seorang wanita, sesungguhnya kau menikahi seorang Ibu”. Seorang ibu adalah sosok mulia yang bahkan Rasulullah menyebutkan Ibu sebanyak tiga kali dibnding ayah yang sekali ketika ditanya siapa yang harus kita hormati.   Surgapun berada di bawah kaki ibu. Seorang ibu akan bersungguh-sungguh  melindungi keluarganya terutama anak-anaknya.

Sahabat, Sahabat adalah orang.  yang melindungi kta saat kita lemah. Mendukung kita saat kita ingin bangkit dan mungkin jadi orang yang paling sibuk saat kita punya rencana. Merasa perih saat kita terluka, walau kita tegar. Itulah pendamping yang selalu memberi kesejukan pada kita. Setuju?

Istri, istri adalah pelengkap dari kehidupan. Tak sempurna iman seseorang hingga ia menikah. Itu kata Rasulullah. Seorang yang menggenapkan kita. Mengisi setiap kelemahan kita. Menghibur kita. Perhiasan yang paling indah.

Kekasih, inilah konsep Islam. Saat kita menikah bukan berarti memutus hubungan “pacaran” tapi malah memulainya. Kekasih seperti yang biasa kita dengar dari lagu-lagu jaman kini merupakan sesosok gambaran lawan jenis yang memiliki pesona yang kita sayangi, cintai dengan sungguh-sungguh. Sehingga kehdiranya akan membri kedamaian. Kemesraan setelah menikah itu adalah ibadah.

Itulah kawan sedikit yang ku ketahui tentang pernikahan. Semuanya adalah ibadah bila didasari karena Allah. Wallahu ‘alam.

Image

(Cahyadi Muharam)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Q.S. 21: 35)

Minggu lalu, penulis terkaget-kaget karena mendapatkan kabar tentang sahabatku semasa SMA dulu meninggal dunia. Umurnya belum lah genap 23 tahun. Sakit keras dan mendadak, begitulah kabar yang saya terima. Padahal yang saya ketahui, semasa di asrama SMA dulu dia itu termasuk anak yang rajin olahraga menjaga kesehatan. Sehingga tak pernah terdengar ia sakit.

Semasa hidup beliau teramat sangat baik. Ketika teman-teman berkumpul, seorang tean bertanya pernahkan almarhum menyakiti, berhutang atau setidaknya membuat kita tidak enak? Tak seorangpun berbicara, malah dalam hati dan terucap oleh beberapa teman, malah kitalah yang sering menyusahkan almarhum. Almarhum adalah anak baik yang tak banyak bicara, selalu menjaga diri dari hal yang merugikan orang lain, menghormati semua orang bahkan juniornya sendiri. Alamarhum pun selalu menjaga saum sunah hingga akhir hayatnya, menghormati dan menjunjung orang tuanya. Tak pernah sekalipun keluar dari bibirnya kata-kata yang melukai hati orang tua.

Di hari-hari akhirnya, menurut ibu almarhum (ia sudah yatim) ia terlihat seperti biasa-biasa aja. Hingga suatu hari ia mengirim pesan singkat kepada adiknya auntuk dijemput di tempat bekerjanya karena ia tak kuat membawa motor sendiri. Setibanya di rumah keadaanya terus menurun, namun tak pernah sedikitpun ia mengeluh dan mengaduh. Hanya kalimat takbir dan istigfar yang keluar dari bibirnya. Keesokan harinya ia pun diajak berobat ke rumah sakit. Di rumah sakit keadaanya semakin memburuk, hingga suatu hari ia berbicara kepada kakanya yang menungguinya “Kak, saya mau solat. Saya boleh minta air untuk wudu? Ada yang ngajak Jajang (Namanya) solat. Orangnya mirip Jajang.” Begitulah ujarnya. Setelah selesai wudu, ia pun menunikan solat. Selesai solat, kakanya tertidur di bawahkakinya. Sementara ia tetap terjaga. Menjelang malam, ia membangunkan kakanya. Ia pun berbisik “Kak, Jajang udah nga kuat. Omat jangan pada nangis ya. Nanti ambil tabungan Jajang buat Mamah. Tolong tuntun jajang takbir!” itulah ucapnya. Kakanya pun takbir di sebelah telinganya dan diikuti olehnya. Jajang menunjuk ke matanya, memberi tanda agar matanya ditutup oleh kakanya, maka ditutuplah matanya. Setelah itu Jajang menunjuk bibirnya, kakanya mentup bibirnya. Tak lama kemudian Jajang pun berpulang ke Rahmat-Nya.

Mendengar cerita diatas dituturkan oleh Ibu Jajang, pecahlah tangis sahabat-sahabatnya. Tangis kehilangan yang teramat sangat. Penulis pun menangis, tangis karena tiga hal. Pertama karena kehilangan seorang sahabat yag sangat-sangat baik, sahabat yang selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kedua tangis karena menyesali diri, mampukah kelak akhir hayatku seindah sahabatku? Sakaratul maut yang husnul khatimah. Maut yang indah, menghadap rahmatnya denagn keadaan suci dan berserah pada-Nya. Dan ketiga tangis sejadi-jadinya karena dosa. Dosa yang menumpuk dan pasti memberatkan dalam sakaratul maut dan alam barzah.

Kawan, sering penulis berfikir bahwa maut itu masih jauh karena penulis masih sangat muda. Oleh karena itu sering penulis mengumbar diri melakukan banyak kesalahan. Menyakiti orang lain, lalai dalam ibadah, bermaksiat, bergunjing, dan banyak lagi. Semua dengan alasan ”nanti juga kalau sudah tua bisa tobat!”. Setelah melihat kematian sahabatku, penulis pun berfikir, masihkah optimis akan berumur panjang? Masihkah optimis bis bertobat sebelum maut? Masihkah yakin dengan kualitas ibadah? Solat, puasa, sedekah sudah yakin diterima? Tidak takutkah disisipi ria, takabur, lalai? Subhanallah…. Siapkah penulis bila hari ini adalah hari terakhir di dunia? Bekal apa yang sudah disiapkan? Kalau hanya untuk bepergian keluar kota saja untuk mudik lebaran kadang kita mempersiapkan bekal jauh-jauh hari. Maka bekal apa yang telah penulis siapkan untuk perjalanan tak berujung  ke akhirat? Ya Allah….

Kawan, marilah kita merenung sejenak. Semenit setelah solat. Hal apakah yang telah kita kerjakan dari solat ke solat. Introspeksi rutin, maka kita akan kaget, sangat banyak kesalahan yang kita lakukan. Kita kadang membagus-baguskan kata atau berbohong, hanya untuk membuat orang sekitar kita tertawa, tahu kah kawan itu dosa. Memanggil kawan kita dengan panggilan yang tak disenanginya. Itu dosa. Membuang bekas permen kita di embarang tempatpun dosa. Berapa banyak dosa dan kesalahan kita dalam sehari. Masih kah kita percaya diri untuk mendapat sakaratul maut yang indah? Terhindar dari gada panas dalam siksa kubur? Digampangkan urusan di yaumul hisab? Dan masuk surga? Kawan.. marilah kita instrospeksi. Kita tak tahu kapan kita akan mati. Tapi mati itu pasti!

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. 31: 34)