Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2013

climbing-clip-art-15(Cahyadi Muharam)

Ketika bersekolah di SMP dulu, saya pernah memiliki seorang kawan, Heri, namun lebih akrab disapa Apak, entah mengapa. Satu hal yang saya ingat dari dia saat bersekolah dulu adalah setiap berangkat sekolah, pasti tangannya tak pernah lepas dari satu jingjingan kecil wadah plastik. Ya, sebuah wadah plastik yang berisi dagangannya. Cilok bumbu kacang. Itu adalah bekalnya setiap hari dan juga biaya sekolahnya. Karena untuk mendapatkan bekal uang jajan dia harus menjual dulu dagangannya tersebut. Begitu juga untuk SPP sekolah (ketika itu masih sangat murah). Pertama kali melihatnya kadang saya merasa terharu, tapi semakin lama, apalagi setelah kenal dengan dia lebih lanjut, saya tahu satu hal. Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Orangtuanya tak membiayai sekolahnya, tapi ia optimis untuk sekolah. Dan hasilnya? Ia lulus sekolah, bukan hanya SMP, tapi juga SMA. Subhanallah.

Sahabatku, percayalah bahwa optimism itu adalah kunci kesuksesan. Putus asa adalah virus berbahaya yang menggerogoti keimanan. Ia akan mencabik-cabik kepercayaan atas kauasa Allah. Dalam keadaaan putus asa, jiwa kehilangan kekuatan untuk berkehendak dan bergerak, memupus semua harapan dan nilai yang dituju sehingga tak memiliki tekad. Orang yang putus asa tak ubahnya buih dilautan yang hanya terombang ambing oleh jaman.

Suatu hal yang menjadi fakta saat ini, umat Islam sangat lemah. Apakaha mereka sedikit? Tidak populasi mereka banyak, bahkan di negri kita adalah mayoritas. Tapi tak berdaya. Bagai buih di lautan. Mengapa? Karena tak ada optimis dalam hidup mereka.

Islam = Ajaran Optimis

Pernah mendengar hadist yang berbunyai : “Kejarlah duniamu seakan kamu akan hidup selamanya. Dan kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati esok pagi”

Lihatlah perumpamaan yang Rasulullah ambil, beliau menyebutkan suatu hal dengan tujuan akhir hal tersebut (dunia dan akhirat), sehingga semua orang menjadi termotivasai. Bayangkan saja kita disuruh bekerja mencari dunia seakan kita tak akan pernah mati. maka mungkin kita akan semangat bekerja. Dan bayangkan kita disuruh ibadah seakan kita akan mati besok. Ketakutan akan kematian akan membuat kita khusyu dalam ibadah dan tentu bila kita tahu kita akan meninggal besok, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri pada Allah.

Mari kita cermati ayat berikut:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Bila kit abaca dengan seksama, kita akan melihat bahwa Nabi (menurut wahyu dari Allah tentunya) menyebutkan bahwa orang yang berputus asa itu adalah kafir. Bukan berarti saya menyebutkan kafir orang yang putus asa, tapi sebagian tanda kafir itu (dari banyak tenda) adalah putus asa dan tidak percaya pada kuasa Allah.

Sebuah cerita yang saya temukan dari Sirah Nabawiya, diceritakan ketika terjadi perang Khandaq (parit), tentara muslim dikepung oleh 10.000 pasukan Kafir. Mereka terkurung di Madinah. Maka, atas gagasan Salman Al Farisi dibuatlah parit agar pasukan musuh tak dapat memasuki kota. Ketika menggali parit, muslim dalam keadaan takut, lelah dan terkepung. Ditengah penggalian, ada sebungkah batu karang yang menghalangi parit. Kemudian Rasulullah datang dan memukul batu tersebut. Keluarlah percikan tanda kuatnya batu tersebut. Nabi kemudian berseru dengan keras “Allahu Akbar.. Romawi pasti dikuasai.” Batu itu bergeming dan kembali mengeluarkan percikan.

Para sahabat ketika itu tertegun dan saling bertatap. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah masih menghembuskan angin optimism dan mimpi yang sangat besar. Rasulullah kembali berseru “Allahu Akbar.. Persia pasti dikuasai” pada pukulan ke tiga, batu karang tersebut pecah berkepin-keping.

Kawan, apa yang dikatakan Rasulullah itu ternyata terbukti. Ketika kekuasaan khulafaurasidin, Persia ditaklukan, dan 600 tahun kemudian, Ibukota Romawi Timur di Konstantinopel ditaklukan Al faith. Kemudian kota itu menjadi Istambul (kota Islam) sampai sekarang.

Percaya kah kawan bila saya berikan info, saat Rasulullah memecah batu dan meneriakan gema optimis itu, perut beliau bahkan diganjal batu. Mengapa? Untuk menahan lapar. Beliau tidak dalam keadaan kuat, hebat, tapi selemah-lemahnya keadaan fisik, tidak untuk mental. Mentalnya lebih kuat intan yang kuat dan berkilau.

Ingat saat Perang Badar? 300 pasukan Muslim menghadapi musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat. Gentarkah mereka? Putus harapan kah? Tidak. Mereka maju dengan optimis, hingga mampu menjadi pemenang.

Bahkan Nabi pernah bersabda : ”Bila kiamat terjadi, dan di tangan salah seorang dari kalian ada tunas pohon kurma, maka tanam lah! ” (H. R. Ahmad) bayangkan, bahkan ketika terjadi kiamat pun kita harus menggantungkan asa dan harapan. Untuk menumbuhkan sebatang pohon kurma hingga menghasilkan buah itu dibutuhkan waktu puluhan tahun, tapi saat itu kiamat. Sia-sia kah? Rasulullah sesungguhnya mengajarkan kita untuk terus berikhtir, tak putus harapan, apapun yang terjadi. Bukan masalah hasilnya yang akan menjadi kebaikan, tapi optimism dan kerja kerasnya lah yang akan menjadikan kita lebih bernilai.

Agama ini dibangan atas dasar optimis. Tak ada satupun kemajuan Islam yang dibuat melainkan berdasarkan optimis yang tinggi.

TAPI vs. DAN

Bila kita ingin tahu tanda-tada orang pesimis, ternyata sangat gampang sekali. Bukan dari semangatnya mengejar hal yang diinginkanya, atau motivasinya. Karena itu sudah jelas. Orang pesimis akan tak bersemangat dalam menjalani hidpnya. Galau setiap saat, dan tak punya pegangan. Itu terlihat nyata.

Sesungguhnya tanda dari pesimis, putus asa bias kita prediksi sejak dini, bahkan dari sejak terucap pertama. Kuncinya adalah kata “TAPI”. Semakin sering orang mengucap tapi, makin pesimis lah orang tersebut.

Pernah dengar orang berkata “Iya hal itu mungkin saja terwujud, tapi…….” Atau “ Ya saya tau hal itu baik, tapi…….”. atau mungkin itu perkataan kita sendiri?

Setiap kata tapi adalah penyangkalan dengan menyuguhkan alasan. Hal ini membuat kita lemah, karena kita merasa nyaman berlindung dibalik alas an. Seakan itulah zona aman kita. Zona Tapi.

Satu tapi, satu alas an, satu batu yang menghalangi kita meraih tujuan kita. Kita menginginkan apa. Jadikan itu target, dan jangan halangi pandangan kita dengan tapi.

Untuk menahan “hasrat” menyebut tapi, kita ganti dengan kata “DAN” sederhana kan? Mengapa dengan kata dan? Karena setiap kita berkata dan, maka otak kita akan berfikir keras untuk menemukan alternatif untuk masalah pertma. Dan secara tak sadar kita pun didorong untuk bangkit lebih. Contohnya:

“Saya tahu hal itu munkin, DAN saya harus mencapainya.”

“Ya saya athu hal itu baik, DAN bagus untuk dikerjakan.”

Kata dan tidak menawarkan penolakan, tapi justru mendorong kita untuk lebih baik. Satu kata dan berarti satu solusi kreatif dan satu alternatif meraih tujuan kita. Jangan pernah merasa aman di Zona Tapi. Bangkitlah!

Rumus Optimis

Sangat banyak rumusan untuk menjadi optimis tersebut. Bila kit abaca buku tebal yang berisi biografi seorang sukses, kita akan menjumpai 90% di dalamnya adalah motivasi untuk sukses. Namun saya mencoba menyarikan dari dari stu sumber yang sudah cukup terkenal, agar lebih familiar. Pernah dengar 7 Habits? Buku yang sangat laris. Saya mangambil tiga pilar pertama dari 7 Habits fot Teen Karya Sean Covey. Mengapa hanya tiga pilar? Karena ini adalah pondasi. Seperti halnya optimis yang merupakan pondasi dari kerja keras, tahan banting, dan selalu kreatif mengakali tantangan. Apasaja pilar itu?

1.   Proaktif (Bertanggng jawab pada diri sendiri)

Jadilah pribadi yang mandiri. Berdiri dengan prinsip dan kekuatan diri. Setiap orang pasti memiliki kepentingannya, maka kejarlah kepentingan tersebut, focus lah. Lakukan hal-hal yang berguna bagi dirimu dan lingkunganmu. Aa Gym pernah berkata, jangan kita bergantung hidup pada orang lain dengan hutang budi, karena hal itu akan melemahkan kita. Jadi, lakukan lah hal terbaik yang kau bias lakukan. Bukan tak boleh meminta bantuan orang lain, tapi bekerja maksimal dan bekerja samalah secara proporsional dan harmonis.

2.      Mulai dari akhir ( definisikan misi dan sasaran hidup)

Memulai dari akhir, sama halnya yang diajarkan Islam sebelumnya. Tentukan lah target hidupmu, setelah itu, mulailah rintis jalan menuju kesana. Ha ini akan menjadi rambu-rambu bila kita melenceng. Cara paling gampang, biasakan dengan kata Dan tadi.

“Saya ingin naik haji atau umroh segera dan saya harus bekerja untuk itu.”

“Saya ingin punya suami/ istri soleh dan saya juga tentu harus soleh juga”

Saya ingin memiliki pekerjaan yang nyaman, dan saya harus menciptakannya.”

Ayo… kita bangkit. Mulai dari tujuan kita…

 3.      Prioritas (dahulukan yang utama)

Setelah tau tujuan kita, dan kita proaktif di dalmnya, maka kita harus selektif. Pilih jalan paling efektif untuk mencapai tjuan kita. Lalui hal-hal yang yang utama. Memang terkadang sulit mengambil pilihan yang sulit. Tapi lihatlah resikonya. Saat kita dihadapkan pada beberpa pilihan yang sama penting, pilihlah yang paling besar pengaruhnya pada kemaslahatan orang banyak atau keselamatan jiwa. Hal-hal yang tak dapat ditolak.

Mari kita menapaki diri kita dengan optimis. Karena sesungguhnya itulah modal terbesar orang sukses.

Read Full Post »

Image

(Cahyadi Muharam)

Memeriksa hasil ujian anak didik terkadang menjadi sesuatu hal yang mengasikan sekaligus mengisyaratkan suatu hikmah. Dalam ujian ada pertanyaan teka teki silang : “Tokoh wayang, anak tengah pandawa” Tersedia kotak A _ _ U _ _. 30% siswa saya menjawab “ASTUTI”. Pertanyaan selanjutnya, “Kapan kah pagelaran Wayang golek biasa disajikan?” Soal pilihan ganda. 20% Menjawab ketika acara kenaikan kelas, 10% Ketika malam takbiran Idul Fitri dan paling lucu, 10% menjawab ketika upacara pamakaman jenazah. Subhanallah.

Percayakah kawan bila saya katakan bahwa anak didik saya tersebut sudah mendapat kisi-kisi untuk ujian dua minggu sebelum ujian. Seminggu sebelum ujian dilaksanakan review yang soalnya 40% dari soal ujian. Tapi hasilnya? Sangat jauh. Tidak menutup mata, banyak anak yang nilai 100 atau diatas 90. Tapi lebih banyak yang kurang dari itu. Mengapa? Jawaban paling sering kita dapat adalah “Setiap anak memiliki keterbatasan dalam kemampuannya”. Bila berbicara hal itu, selesai sudah.

Setiap ujian yang diberikan oleh guru, (khususnya guru kelas bukan dinas) adalah pengulanagan dari materi yang telah diberikan. Sumber dan rujukannya jelas, materinya tegas, kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya pun lengkap. Sejujurnya, bila kita jujur, andai kita mau berusaha, belajar, mendalami materi yang ada, ulangan/ ujian itu akan menjadi hal yang sangat mudah. Setuju?

Andai kita tempatkan Allah SWT sebagai Maha Guru kita, maka sanggat wajar bila Dia memberikan ujian pada kita (baca: muridnya). Dan seperti saya ungkapkan tadi, setiap ujian hakikatnya adalah pengulangan materi yang telah kita terima, disertai kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya (baca: agama/ Qur’an). Sebagai mana sabda-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S: Al Baqarah:155)

Mari kita cermati ayat diatas. Allah berkata mencoba dengan sedikit ketakutan, bukan ketakutan atau kecemasan. Ini berarti setiap ujian yang kita terima hanya sedikit dari karunia yang Dia berikan. Contohnya disaat kita kehilangan barang, apakah seluruhnya? Tidak pernah, hanya sedikit dibanding seluruh harta kita. Dibenci oleh orang. Apakah seluruh alam dunia membenci kita? Tidak pernah. Hanya sekelompok orang dari sekumpulan orang yang sayang pada kita. Saat ditimpa kemalangan. Masih banyak hal yang dapat membuat kita tersenyum. Tak ada satupun ujian yang Allah berikan pada kita itu melebihi kemampuan kita atau Rahmat Allah.

Allah tidak akan menimpakan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Allah tak akan menjadikan seseorang diuji menjadi Presiden, bila mental dan kemampunya baru sampai RT. Allah tidak akan mencoba seseorang menjadi Milyuner bila mentalnya lebih kuat dalam kadaan fakir. Percaya?

Setiap ujian memiliki tujuan. Ujian disekolah adalah untuk mengukur kelayakan siswa untuk naik atau tidak ke kelas selanjutnya. Begitu pula ujian dari Allah. Diciptakan untuk mengukur kadar ketaqwaan kita. Makin taqwa, makin berat cobaan yang ditimpakan. Dan ujian lah cara tersepat mencapai kenaikan tingkat. Laksana kelas akselerasi, bila kita berani mengambil resiko ujian yang lebih berat, maka akan lebih cepat kita mencapai ketaqwaan pula.

Berbicara tentang masalah dan ujian, maka timbulah pertanyaan, bagaimana menyikapainya dan menghadapinya? Mengambil contoh dari seorang manusia yang diberi kelebihan oleh Allah, yaitu orang tercerdas abad lalu, Albert Einstein. Sebagai seorang cerdas, ternyata kunci suksesnya adalah dia selalu dapat mengurai masalah yang ia hadapi dan memecahkanya, serumit apapun masalah tersebut. Beginilah cara berfikir dan mengurai masalah yang ia tempuh:

1.  Mengindentifikasi masalah

Sering saya mendengar keluahan dari teman-teman “Duh aku lagi banyak masalah ni. Lagi suntuk” pernah saya iseng kepada teman yang mengeluh tersebut memberikan selembar kertas berikut pena. Kemudian saya suruh ia menuliskan seluruh masalah yang ia punya. Hasilnya… 5 menit kemudian, hanya ada deretan angka, mungkin untuk urutan nomor masalahnya. 10 menit kemudian, tak berubah, setengah jam kemudian, kertas telah berpindah ke dalam tong sampah.

Pernah mengalami hal itu? Itulah kita. Sering merasa bingung, “galau”, bimbang, atau apapun istilahnya, tanpa kita tahu masalah apa yang sebenarya menimpa kita. Kadang hanya karena hal sepele, kita menjadi membesar-besarkan masalah. Mendramatisir, menambah-nambahkan. Setelah ditelusur, ternyata bukan itu masalahnya.

Tanpa mengetaui musuh kita, mana mungkin kita siap berperang. Mana mungkin kita bisa menang. Oleh karena itu, kenali musuh kita. Pahami masalah kita. Masalah adalah ketidak sesuaian keadaan dengan aturan atau harapan.

Contoh, saya sudah kerja sangat keras. Menurut aturan seharusnya hasil yang didapat harus besar, tapi tidak. Itu masalah. Saya sudah belajar dengan baik, tapi ulangan saya jelek. Itu masalah. Saya telah berusaha mengajar dengan baik, tetapi anak-anak masih juga banyak yang kurang baik dalam belajar. Itu masalah. Saya sudah berusaha memahami pasangan saya, tapi dia tak juga memahami saya (bagi yang telah berkeluarga). Itu masalah.

Saya tidak kerja, kemudian tidak juga mendapat penghasilan. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak belajar, saya tidak naik kelas. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak mau mengerti tentang keadaan pasangan saya maka dia pun sangat cuek (bagi yang berkeluarga). Itu akibat.

Jadi apa masalahmu?

2.    Mengenali pola dari masalah

Setiap masalah memiliki proses timbul, berkembang dan klimaks dalam rangkaian pola. Kenali pola tersebut maka kita akan memiliki peramal pribadi yang menuntun kita mengambil tindakan dilangkah selanjutnya.

Contoh, penghasilan yang besar ternyata bukan berarti bekerja keras, tetapi bekerja pintar. Makin pintar kita bekerja, makin besar penghasilan kita. Bukan sebanyak apa waktu kita bekerja, tapi seberapa berkualitas waktu kita bekerja. Itu pola pekerjaan.

Belajar itu ternyata bukan menjawab soal yang diajukan dalam ujian, tapi memahami konsep dasar dari setiap materi. Dengan mengerti konsep dasar, maka seberat apapun soal yang diberikan, bagaimanapun variasi soal yang diberikan akan dapat kita kerjakan. Bahkan dengan waktu belajar yang singkat.

Ternyata hubungan yang baik (sahabat, suami-istri, keluarga) itu terjalin atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Dengan saling jujur dan terbuka maka setiap orang akan saling menghargai dan mengisi kekosongan. Jangan pernah berharap suatu hubungana akan berjalan langgeng bila kejujuran dan keterbukaan tak pernah diikutsertakan. Itulah pola hubungan.

3.    Melanggar azas konfensional/ aturan

Azas konfensional atau aturan adalah sesuatu yang dipahami setiap orang sebagai suatu keharusan untuk tahapan menyelesaikan masalah atau menyikapi ujian. Tapi dengan melanggar hal itu (setelah 2 tahapan terdahulu kita lalui) maka kita malah akan mendapat altenatif yang lebih baik. Percaya?

Kata orang, makin keras kita kerja, makin besar hasilnya. Kita coba balik aturan itu, makin santai kita kerja, makin besar penghasilanya. Lihatlah para bos. Apa mereka lebih sibuk dari OB yang harus stand by terus? Tidak.. mereka kerja santai. Tapi cerdas. Waktu mereka berharga. Tempatkanlah kita menjadi BOS (bukan sifat, tapi mental dan pandangan) dimana kita harus siap memanage segala hal. Terutama waktu. Pilih jalan dan peluang paling tepat untuk berusaha. Agar usaha yang kita lakukan efektif.

Kata orang, belajar agama itu sulit dan perlu waktu lama. Hanya orang tua yang mampu. Kita balik. Belajar agama itu gampang, menyenangkan, dan untuk kaum muda. Belajar agama itu adalah belajar disiplin, belajar hidup bersih, belajar jadi warga yang baik. Rubah sudut pandang kita tentang agama. Bukan hanya tentang kitab kuning, fiqih, dan tarih. Tapi lebih sederhana. Hidup selaras dengan hati nurani dan kejujuran untuk menjadi manusia yang selalu lebih baik di setiap hari. Mudah kan?

Kata orang untuk mendapatkan pasangan hidup itu harus melewati fase “pacaran”. Kita rubah, untuk mencapai fase “pacaran” kita harus menikah. Sederhana. Tapi berani kah kita? Ini melawan arus. Contoh inspiratif, saya angkat dari kawan dekat saya. Seorang akhwat yang menjaga kehormatanya. Ia dianugrahi kecantikan yang sangat luar biasa. Kalau saya hitung, entah berapa puluh laki-laki yang menginginkanya. Tapi ia jaga. Ketika di pertengahan tahun 2012 ia berkata akan menikah di akhir tahun tersebut. Sayapun bertanya, siapakah laki-laki beruntung yang menjadi pacarnya atau calonnya. Ia menggeleng kepala. Dan berkata “Saya gak pacaran. Allah pasti ngasih ko nanti”. Dan terbukti. Tanggal 3-12-12 ia bertemu dengan seorang ikhwan, tanggal 6-12-12 ia dilamar oleh ikhwan tersebut, 12-12-12 mereka melangsungkan pernikahan. Subhanallah.

4.    Menemukan solusi

Solusi adalah jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Setelah kita tahu masalah kita, tau polanya, mencoba melanggar aturan agar mendapat alternatif penyelesaian, saatnya melakuan gerakan sapu jagat, menuntaskan masalah hingga ke akarnya.

Masalah apa yang kita hadapai. Kalau kita benar melakukan tiga tahapan sebelumnya, maka kita sesungguhnya telah mengetahui solusi apa yang akan kita ambil. Tapi kuncinya kembali pada kita. Berani atau tidak kita mengambil solusi tersebut.

Memiliki mental BOS (memanage, inovatif, perpandanagn kedepan, dan kerja cerdas) dalam kerja mengundang resiko tanggung jawab yang sangat besar. Belajar dan mengajar kreatif, adalah suatu yang sulit dan memerlukan pembiasaan yang luarbiasa. Sanggupkah? Mengamalkan agama adalah tuntutan yang berat, tapi bila dijalankan sehari-hari dengan bertahap dan konsisten. Mau kah kita? Terbuka, jujur dan selalu pengertian dalam hubungan adalah keharusan. Itu berat sekali. Sanggupkah?

Solusi itu terkadang telah kita ketahui. Hanya perlu keberanian kita untuk mengambil dan melaksanakanya. Pesan saya, jangan jadi orang lemah. Bila kita lemah pada kehidupan, maka kehidupan akan keras terhadap kita. Bila kita keras menghadapi hidup, hidup akan menjadi lunak kepada kita.

Ujian dan masalah adalah cara tercepat menaikan level kita bila kita mampu menyelesaikanya dengan sungguh-sungguh.

Read Full Post »