Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April 30th, 2013

Image

(Cahyadi Muharam)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Q.S. 21: 35)

Minggu lalu, penulis terkaget-kaget karena mendapatkan kabar tentang sahabatku semasa SMA dulu meninggal dunia. Umurnya belum lah genap 23 tahun. Sakit keras dan mendadak, begitulah kabar yang saya terima. Padahal yang saya ketahui, semasa di asrama SMA dulu dia itu termasuk anak yang rajin olahraga menjaga kesehatan. Sehingga tak pernah terdengar ia sakit.

Semasa hidup beliau teramat sangat baik. Ketika teman-teman berkumpul, seorang tean bertanya pernahkan almarhum menyakiti, berhutang atau setidaknya membuat kita tidak enak? Tak seorangpun berbicara, malah dalam hati dan terucap oleh beberapa teman, malah kitalah yang sering menyusahkan almarhum. Almarhum adalah anak baik yang tak banyak bicara, selalu menjaga diri dari hal yang merugikan orang lain, menghormati semua orang bahkan juniornya sendiri. Alamarhum pun selalu menjaga saum sunah hingga akhir hayatnya, menghormati dan menjunjung orang tuanya. Tak pernah sekalipun keluar dari bibirnya kata-kata yang melukai hati orang tua.

Di hari-hari akhirnya, menurut ibu almarhum (ia sudah yatim) ia terlihat seperti biasa-biasa aja. Hingga suatu hari ia mengirim pesan singkat kepada adiknya auntuk dijemput di tempat bekerjanya karena ia tak kuat membawa motor sendiri. Setibanya di rumah keadaanya terus menurun, namun tak pernah sedikitpun ia mengeluh dan mengaduh. Hanya kalimat takbir dan istigfar yang keluar dari bibirnya. Keesokan harinya ia pun diajak berobat ke rumah sakit. Di rumah sakit keadaanya semakin memburuk, hingga suatu hari ia berbicara kepada kakanya yang menungguinya “Kak, saya mau solat. Saya boleh minta air untuk wudu? Ada yang ngajak Jajang (Namanya) solat. Orangnya mirip Jajang.” Begitulah ujarnya. Setelah selesai wudu, ia pun menunikan solat. Selesai solat, kakanya tertidur di bawahkakinya. Sementara ia tetap terjaga. Menjelang malam, ia membangunkan kakanya. Ia pun berbisik “Kak, Jajang udah nga kuat. Omat jangan pada nangis ya. Nanti ambil tabungan Jajang buat Mamah. Tolong tuntun jajang takbir!” itulah ucapnya. Kakanya pun takbir di sebelah telinganya dan diikuti olehnya. Jajang menunjuk ke matanya, memberi tanda agar matanya ditutup oleh kakanya, maka ditutuplah matanya. Setelah itu Jajang menunjuk bibirnya, kakanya mentup bibirnya. Tak lama kemudian Jajang pun berpulang ke Rahmat-Nya.

Mendengar cerita diatas dituturkan oleh Ibu Jajang, pecahlah tangis sahabat-sahabatnya. Tangis kehilangan yang teramat sangat. Penulis pun menangis, tangis karena tiga hal. Pertama karena kehilangan seorang sahabat yag sangat-sangat baik, sahabat yang selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kedua tangis karena menyesali diri, mampukah kelak akhir hayatku seindah sahabatku? Sakaratul maut yang husnul khatimah. Maut yang indah, menghadap rahmatnya denagn keadaan suci dan berserah pada-Nya. Dan ketiga tangis sejadi-jadinya karena dosa. Dosa yang menumpuk dan pasti memberatkan dalam sakaratul maut dan alam barzah.

Kawan, sering penulis berfikir bahwa maut itu masih jauh karena penulis masih sangat muda. Oleh karena itu sering penulis mengumbar diri melakukan banyak kesalahan. Menyakiti orang lain, lalai dalam ibadah, bermaksiat, bergunjing, dan banyak lagi. Semua dengan alasan ”nanti juga kalau sudah tua bisa tobat!”. Setelah melihat kematian sahabatku, penulis pun berfikir, masihkah optimis akan berumur panjang? Masihkah optimis bis bertobat sebelum maut? Masihkah yakin dengan kualitas ibadah? Solat, puasa, sedekah sudah yakin diterima? Tidak takutkah disisipi ria, takabur, lalai? Subhanallah…. Siapkah penulis bila hari ini adalah hari terakhir di dunia? Bekal apa yang sudah disiapkan? Kalau hanya untuk bepergian keluar kota saja untuk mudik lebaran kadang kita mempersiapkan bekal jauh-jauh hari. Maka bekal apa yang telah penulis siapkan untuk perjalanan tak berujung  ke akhirat? Ya Allah….

Kawan, marilah kita merenung sejenak. Semenit setelah solat. Hal apakah yang telah kita kerjakan dari solat ke solat. Introspeksi rutin, maka kita akan kaget, sangat banyak kesalahan yang kita lakukan. Kita kadang membagus-baguskan kata atau berbohong, hanya untuk membuat orang sekitar kita tertawa, tahu kah kawan itu dosa. Memanggil kawan kita dengan panggilan yang tak disenanginya. Itu dosa. Membuang bekas permen kita di embarang tempatpun dosa. Berapa banyak dosa dan kesalahan kita dalam sehari. Masih kah kita percaya diri untuk mendapat sakaratul maut yang indah? Terhindar dari gada panas dalam siksa kubur? Digampangkan urusan di yaumul hisab? Dan masuk surga? Kawan.. marilah kita instrospeksi. Kita tak tahu kapan kita akan mati. Tapi mati itu pasti!

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. 31: 34)

Read Full Post »