Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2013

dari: watashi-ahmad.blogspot.com

(Cahyadi Muharam)

“Kawan, ikut ngak ke nikahan si Fulan.? Temen SMA kita.”  Begitulah celoteh kawanku beberapa waktu kebelakang. Disaat yang berdekatan beberapa teman melangsungkan pernikahan yang alhamdulillah semua berjalan lancar. Mudah-mudahan mereka semua dikaruniai keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amiiin.

Tertarik dengan pernikahan kawan-kawanku ini, kemudian penulis membuka-buka tulisan tentang pernikahan. Tulisan-tulian beberapa tokoh terkemuka membuka pengetahuan penulis tentang pernikahan. Salah satu yang berkesan adalah tulisan dari KH. Jalaluddin Rakhmat dan Ust. Miftah F. Rahmat. Berikut sedikit cuplikan intisari tulisannya yang penulis padukan dengan sumber-sumber lainnya.

Nabi yang Mulia pernah bersabda, untuk menikah atas dasar agama. Agama ini bukanlah karena kesamaan agama “saja”, kesamaan ritual. Atas dasar agama jauh lebih agung dari tu. Mintalah pasangan untuk berjanji, bahwa ia akan membantu sesungguh hati, mendekatkan kita pada ilahi.jadilah kita pengingat dikala dia alpa, pencegah diwaktu lupa, dan penyemangat dikala duka.

Pernikahan itu adalah perjanjia yang sangat berat (mitsaqan ghalizha). Hanya tiga kali Allah menyebutkan kata ini dalam Al Qur’an. Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan para Nabi- dengan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Rasulullah Saw (QS. 33:7) dan mengangkat derajat mereka lebih tinggi dari Nabi yang lain. Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (QS. 4:154). Dan Ketiga, ketika Allah menyetakan hubungan pernikahan (QS. 4:21). Seolah-olah bila janji suci ini ditepati, Allah akan mengangkat derajat kita diatas manusia. Tapi bila kita mengingkari, Allah akan merendahkan kita sebagaimana Dia mengubah Bani Israil menjadi kera yang dihinakan karena melanggar perjanjian.

Dua kaliamat yang terucap dalam pernikahan sangat besar nilainya dimata Allah. Kalimat itu adalah: ijab dan kabul. Ijab mengendung pesan penyerahan dan dalam kabul penerimaan. Dalam serah terima tersebut terdapat campur tangan Tuhan. Dengan dua kalimat, terjadi perubahan yang besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun akan berubah menjadi kasih dan sayang.

Kawan, dikala pernikahan itu berlangsung, seluruh orang yang hadir akan berbahagia. Dan andai kita tahu, malaikat pun akan berbahagia. Mereka melantunkan do’a keselamatan untuk para mempelai. Rasulullah pernah bersebda bahwa belumlengkap agama seorang hamba hingga hamba tersebut menikah. Maka maknailah pernikahan tersebut adalah ibadah, pelengkap agama dan ketaqwaan kita.

Dari sumber lain saya menemuka fakta yang mengejutkan. Bahwa suatu negara yang melegalkan sepasang wanita dan pria bukan muhrim untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan memiliki tingkat stress yang tinggi dan tingkat kebahagiaan yang sangat rendah. Hal ini karena hubungan yang demikian memiliki kebebasan, tak ada ikatan tanggung jawab secara formal. Anak yang dihasilkan pun tak dapat menggugat warisan orng tuanya. Semuanya atas dasar nafsu dan bertopeng “cinta”.  Suatu keadaan seperti halnya jaman Jahilliah. Nauzubillah..

Sebuah kisah tentang pengalaman membina rumah tangga pernah saya temukan dari tumpukn buku-buku. Ungkilan kisah tersebut disebtkan saat seorang suami mendapat guncangan hebat karena masalah pekerjaan yang memaksanya terjerembab kedalam keadaan stress yang lluar biasa. Satu-satuya penolong adalah senyum istrinya yng selalu hadir menyemangati suaminya. Ia mati-matian membangkitkan kepercayaan diri suaminya. Ia lah garda terdepan yang selalu pasang badan ketika suaminya drop hingga titik nadir. Wanita superkah dia? Ia sendiri sering menangis sendiri di kamar mandi atau ditengah malam dalam sujudnya. Disaat suaminya tak dapat melihat kesedihanya,dan selalu memberi kekuatan kesekitar walau sebenarnya ia rapuh. Subhanallah. Inilah hakikat pernikahan, saling menguatkan,  menegarkan menutupi aib, memahami kekurangan dan saling menjaga. Karena sungguh, kehidupan ini sangat berat, namun akan indah bila dilalui bersama.

Rasullulah pernah bersabda bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu. Disaat kita memutuskan untuk menikah, sesungguhnya kita akan menikahi seorang ibu. Ibu dari rumah tangga yang akan kita bangun bersama. Apakah rumah tangga yang akan kita tempuh akan menjadi surga atau neraka, tergantung dari peran seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Dan seorang istri adalah tanggung jawab suami. Bagai mana akhlak nya adalah bagaimana suami mengarahkanya. Rumah tangga akan menjadi surga bila disana kita hiaskan kesabaran, kesetiaan, dan kesucian.

Sebuah kajian tentang pola hubungan sumi istri pernah penulis dapatkan ketika medengarakan ulasan di sebuah radio Islami. Menurut pembicara dalam acara tersebut, suatu hubungan antara suami istri dapat berjalan baik bila dilandasi kejujuran, kasih, sayang dan saling menerima.seorang isrti atau suami harus bisa bermain peran sebagai PISIK. Apakah “PISIK” itu? Itu merupakan singkatan dari Partner, Ibu, Sahabat, Istri, dan Kekasih. Mari kita bahas satu persatu.

Partner, rekan kerja atau orang yang memiliki kedudukan sama dengan kita. Seorang rekan kerja adalah seseorang yang dapat kita andalkan, memberi dukungan dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Andaikan pasangan kita adalah partner kita, maka dia akan sungguh-sungguh membantu kita. Membagi-bagi tugas dan tanggung jawab. Mengingatkan kita disaat kita lupa, menyemangati kita saat kita jatuh. Karena partner yang baik menginginkan yang terbaik untuk rekannya untuk kesuksesan bersama.

Ibu, (Ayah). Pernah ada suatu ungkapan yang berbunyi, “saat kau menikahi seorang wanita, sesungguhnya kau menikahi seorang Ibu”. Seorang ibu adalah sosok mulia yang bahkan Rasulullah menyebutkan Ibu sebanyak tiga kali dibnding ayah yang sekali ketika ditanya siapa yang harus kita hormati.   Surgapun berada di bawah kaki ibu. Seorang ibu akan bersungguh-sungguh  melindungi keluarganya terutama anak-anaknya.

Sahabat, Sahabat adalah orang.  yang melindungi kta saat kita lemah. Mendukung kita saat kita ingin bangkit dan mungkin jadi orang yang paling sibuk saat kita punya rencana. Merasa perih saat kita terluka, walau kita tegar. Itulah pendamping yang selalu memberi kesejukan pada kita. Setuju?

Istri, istri adalah pelengkap dari kehidupan. Tak sempurna iman seseorang hingga ia menikah. Itu kata Rasulullah. Seorang yang menggenapkan kita. Mengisi setiap kelemahan kita. Menghibur kita. Perhiasan yang paling indah.

Kekasih, inilah konsep Islam. Saat kita menikah bukan berarti memutus hubungan “pacaran” tapi malah memulainya. Kekasih seperti yang biasa kita dengar dari lagu-lagu jaman kini merupakan sesosok gambaran lawan jenis yang memiliki pesona yang kita sayangi, cintai dengan sungguh-sungguh. Sehingga kehdiranya akan membri kedamaian. Kemesraan setelah menikah itu adalah ibadah.

Itulah kawan sedikit yang ku ketahui tentang pernikahan. Semuanya adalah ibadah bila didasari karena Allah. Wallahu ‘alam.

Iklan

Read Full Post »