Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2013

Image

(Cahyadi Muharam)

Beberapa waktu ke belakang kita mendapat berita gembira dari dunia olahraga. Pasangan ganda putra dan ganda campuran Indonesia yaitu Moch. Ahsan/ Hendra Setiawan juga Liliyana Natsir/ Tontowi Ahmad mampu mempersembahkan gelar juara dunia bulu tangkis setelah dinyatakan menang dalam turnamen di Cina. Pasangan tersebut, terutama ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliana Natshir sangat padu dan saling melengkapi. Tontowi handal dalam pergerakan dan pertahanan berduet dengan Liliana yang memiliki kemampuan penempatan bola baik dan serangan balik yang bagus. Maka pantas mereka menjadi juara.

Hal diatas adalah gambaran pasangan yang ideal. Pasangan dalam arti relasi kerja yang saling sinergi dan melengkapi. Sehingga ketika keduanya bersatu, menjadikan musuh sulit menemukan celah kelemahannya. Mereka saling menutupi kekurangan dan meng-cover kelemahan pasangannya dengan kelebihan yang ia punya.

Pada saat bulan Ramadhan kemarin, diadakan kegiatan buka bareng di sekolah. Kepala sekolah yang juga seorang ustadz memulai kegiatan tersebut dengan berceramah. Dan tema ceramahnya adalah pasangan yang dikemas semi game. Kita ditugaskan memcari pasangan dari hal-hal yang beliau sebutkan. Karena menurutnya setiap ciptaan Allah pasti ada pasangannya.

Beliau memulai dengan menyebut malam, maka kami spontan menjawab siang. Dan ternyata benar. Malam akan sempurna dengan hadirnya siang. Malam selalu menyelimuti bumi dengan dingin, gelap dan sunyi tapi menawarkan istirahat, pemulihan dan juga waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan siang yang merupakan pasangannya, menawarkan kehangatan, optimisme dan dinamisme. Semuanya akan seimbang karena beriringan. Malam tak pernah mendahului siang begitu juga sebaliknya. Dan bayangkan bila dunia ini hanya ada malam? Maka akan jadi planet mati yang tak berkehidupan. Atau hanya ada siang. Maka akan menjadi planet tiruan Mars yang teramat sangat panas tanpa kehidupan.

Beliau bertanya tentang pasangan buku. Maka ada yang menjawab pensil, bolpoin, spidol dan lain sebagainya. Pasangan buku adalah tinta. Karena dengan tinta, buku menjadi punya makna. Dapat menjadi gudang ilmu dan bermanfaat bagi semua.

Kemudian beliau menyebut saum maka kami menjawab beragam. Sholat! Buka! Sabar! Bahkan ada yang menjawab tarawih. Dan ternyata jawaban yang benarnya adalah… Diam. Ya, diam adalah pasangan saum. Mengapa? Karena diam dapat menyempurnakan saum. Saat saum semua indra kita tahan agar tidak melakukan maksiat, dan maksiat terberat tapi paling tidak terasa adalah lewat mulut kita. Perkataan kita. Maka diam adalah penyempurna saum. Saum menahan segala yang masuk melalui mulut dan diam menahan segala yang keluar dari mulut.

Kemudian beliau menyebutkan shalat, maka kami menjawab sabar. Dan memang benar. Sabar adalah pasangan shalat. Seperti sabda Allah dalam Al-Qur’an. Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Karena sabar adalah menerima segala putusan dari Allah dengan mengusahakan yang terbaik sedangkan shalat adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Sabar dan shalat lah.

Beliau bertanya kembali, pasangan dari Al Qur’an. Sebagain menjawab sunnah, sebagian yang lain menjawab Rasulullah. Dan jawaban yang benar adalah yang mengajarkannya. Al Qur’an akan sempurna bila diamalkan dan diajarkan. Dan para pengajar Al Qur’an ini lah orang yang menjelaskan dan menyebarkan nur dari Al Qur’an sehingga dapat diamalkan oleh umat. Mereka lah yang Akan Allah Angkat ketika kiamat hendak terjadi. Dengan mengangkat ahli Al Qur’an maka Al Qur’an akan tak tersentuh cahayanya sehingga dunia akan gelap gulita.

Terakhir beliau menyebut kata ibadah, maka jawaban kami kembali beragam. Ikhlas! Ihsan! Niat! Tawakal! Dan masih banyak lagi. Dan ternyata, pasangan ibadah adalah kata pasangan itu sendiri, yaitu Safa’at. Syafa’at adalah pertolongan yang diberikan oleh Baginda Nabi Rasulullah S.A.W kelak. Safa’at adalah penyempurna dari ibadah kita. Bila kita benar dalam ibadah kita dan sungguh-sungguh, maka safaat itu pun akan dapat kita peroleh. Hal ini karena safaat adalah hal mulia dan hanya akan diberikan bagi mereka yang memiliki “modal” kemuliaan juga. Karena pasangan itu saling melengkapi dan setaraf.

Dari pemaparan diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa pasangan itu bukanlah lawan seperti selama ini kita bayangkan. Jujur bukanlah pasangan dari bohong. Ibadah pun bukan pasangan maksiat. Pasangan itu sesuatu yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Sehingga menjadi kuat, tangguh dan lebih berkualitas.

Sering kita dengar orang-orang berkeluh kesah tentang pasanganya atau yang danggap “calon pasangannya”. Seperti sahabat saya yang sering bercerita tentang “calon pasangnya” atau yang lebih umum dikenal dengan istilah “pacar”. Semenjak kenal dengan pacarnya ini, dia menjadi “bukan dia”. Mulai jauh dari kehidupannya dulu. Tak lagi mampu jujur dan terbuka. Dan perlahan tapi pasti, menjauh dari sahabatnya yang selama ini berjuang bersama dalam suka dan duka. Dan dia pun tak merasakan kebahagiaan seutuhnya walaupun berteman pacarnya. Timbullah dalam pikiran yang mempertanyakan. Apakah itu yang akan jadi “pasangan” nya? Bukankah pasangan itu harus saling menguatkan dan membuat lebih berkualitas? Buak malah menjadi lebih terpuruk?

Teman yang lain bercerita ketiaka dia bertemu pasangannya yang telah menjadi halal saat ini, ia seakan menjadi sosok sempurna karena selalu ada orang yang mengerti dan mendorongnya kearah kebaikan walaupun pengetahuan agama pasangan ini tak terlampau bagus. Tapi mereka berkomitmen dan saling memotivasi sehingga semua orang pun “pangling” terhadap perubahan yang mereka capai terlebih setelah menikah.

Ingat cerita yang akhir-akhir ini sedang banyak dipernbincangkan? Tentang cerita cinta B.J. Habibie dan Ibu Ainun. Mereka pasangan yang saling menguatkan. Kita pikir Pak Habibie sebagai orang super hebat yang mampu menarik gerbong industri taktis Indonesia kea rah kemajuan dan juga menjadi patok yang menghindarkan Indonesia dari kehancuran pada era revormasi dengan menjadi presiaden yang begitu bertanggung jawab. Tapi bila kita menyimak cerita dari film terutama dari novel, ternyata ibu Ainun lah yang membuatnya menjadi sanggat kuat tersebut. Beliau lah tokoh yang ada di belakang Pak Habibie yang menggenapkan dan menyempurnakan Pak Habibie.

Jelas sudah, bahwa pasangan itu adalah pelengkap, penyempurna yang senantiasa meningkatkan kualitas suatu hal. Terutama kualitas diri. Maka untuk mengetahui apakah seseorang adalah pasangan yang baik atau tidak (pasangan kerja, pasangan usaha terutama pasangan pernikahan) lihatlah sebesar apa mereka melengkapi kekurangan kita. Sejauh mana mereka meningkatkan kualitas diri kita. Bila hanya menggerogoti dan membuat kita malah makin terjerumus pada kesalahan, itu bukanlah pasangan tapi hal yang seharusnya kita jauhi.

Ingatlah. Kejujuran itu bukan lah pasangan dari kebohongan. Kebaikan bukan pasangan keburukan. Itu adalah lawan. Karena pasangan hanya akan selalu menambah sesuatu menjadi lebih baik, lebih bernilai dan sempurna.

Read Full Post »