Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Renungan’ Category

CINTA (Sang Saudara Iman)

Image

Seorang bapa paruh baya datang kepada seorang ustadz. Dia mengadukan bahwa sekrang ia dan istrinya sudah tak saling mencintai. Sudah tak ada kehangatan dalam keluarga. dan ustadz itu pun berkata “berilah istrimu itu hadiah, perhatian dan jadwalkan acara bersama.” Sang bapa kaget, ia protes. Mana mungkin ia melakukan hal itu, rasa cinta pun sudah tak ada. Sang ustadz tersenyum lalu berkata, “Justru itulah kuncinya. Cinta itu terukur dari perbuatan yng kita lakukan. Makin kit cintai maka makin kuat pengorbanan kita. Cara terbaik menumbuhkan cinta adalah dengan makin banyak memperjuangkan hal itu.”

Kawan, cerita diatasa adalah kisah nyata yang saya dengarkan dari sesi curhatan  di sebuah chanel radio Islam.

Kata Cinta adalah satu kata yang paling sering diangkat menjadi suatu lagu. Satu kata yang paling sering menjadi tema cerita dan satu kata yang selalu menjadi tag line karya sastra modern. Menurut orang, dunia ini menjdi indah karena cinta. Dan karena cinta pula mereka menjadi berarti.

Benarkah pernyataan itu?

Ya memang benar. Kita tercipta di dunia ini karena cinta Illahi (baca: Rahmat). Kita tahu jalan kebenaranpun karena cinta dari sang pemberi petunjuk, Rasulullah yang mulia. Dan kita terlahir di dunia ini pun hasil dari cinta kasih kedua orang tua kita. Karena cinta-lah kita ada.

Maka apakah itu cinta? Cinta adalah suatu anugrah yang timbul dari cahaya Illahi yang selalu menghendaki kebaikan bagi yang kita cintai. Jadi kalau orang mengatakan dalil cinta demi melindungi kemaksiatan yang ia buat, itu adalah kesalahan besar. Karena cinta itu selalu menghendaki kebaikan.

Ternyata cita itu adalah sumber energi. Seorang teman yang penghobi Fisika pernah berkata Cinta itu laksana energi. Yang memberi daya dan upaya yang luarbiasa sehingga seseorang bisa melangkah dan berbuat sesuatu yang hebat. Namun sama seperti energi yang memiliki hukum kekekalan, diman energi tak dapat kita ciptakan atau musnahkan, hanya bisa berubah wujud. Begitu pula cinta. Tak dapat kita inginkan atau hilangkan hanya berubah wujud.”

Masih ingat cerita tentang seorang penghobi burung? Yang begitu mencintai burung-burung peliharaannya. seorang Penghobi berat burung kicau akan sangat telaten merawat dan menjaga peliharaannya tersebut. Ia akan sangat selektif dalam segala hal, makanan, perawatan, obat-obatan, porsi latihan, sangkar, waktu bertanding, pembiakan, bahkan porsi waktu yang ia sediakan untuk peliharaannya itu terkadang lebih besar dari porsi waktu untuk keluarganya. Dan hasilnya, burung kesayangannya akan kerap menjuarai kejuaran kicau. Ini nyata. Itulah bentuk sabar, karna sabar adalah turunan dari cinta. Kita akan sabar bila kita cinta pada hal yang mendatangkan masalah.

Seperti Tuhan yang mencintai hambanya. Ia menciptakannya kemudian membinanya, memberinya rizki, memberi petunjuk, mengurus, memberi penghargaan atas prestasi kita. Dan akan menghukum kita saat kita salah. Itulah bukti cinta.

Rasulullah teramat sangat mencintai umatnya. Menjelang akhir hayatnya ia masih meanggil-manggil umatnya. “umatti… umatti…” Beliau teramat sangat menghawatirkan umatnya hingga akhir hayatnya. Jutaan kisah tentang bukti cinta beliau terhadap umatnya telah diabadikan dalam buku. Suatu hal yang luar biasa

Dari cerita-cerita diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Ternyata cinta itu terukur. Dapat dilihat dan dibuktikan. Semakin cinta seseorang terhadap hal lain, maka makin kuatlah bukti yang ia berikan. Suatu standar awal tentang bukti cinta adalah yang dicintai itu selalu ada dalam ingatan, selalu yang paling utama.

Dan ingat. Cinta terindah itu adalah cinta kepada yang Maha Cinta. Cinta itu terukur dari perbuatan kita. Karena cinta seperti iman, butuh tekad, butuh amal, butuh bukti dan butuh perjuangan. Bila kita mengatakan cinta pada Allah dan pada Rasulullah, maka hal tersebut akan dituntut pembuktianya. Sebesar apa cinta kita. Sebesar itu lah pembuktian yang kita tunjukan.

Kita mungkin dengan mudah bisa bilang kita cinta agama ini. Kita cinta perubahan, kita cinta negeri ini. Tapi kita akan berat bila harus membuktikanya. Membuat pernyataan itu mudah. Tapi membuktikan pernyataan itu hal yang berbeda.

Dari hal diatas, maka kita dapat menakar kadar cinta seseorang terhadap sesuatu. Tak perlu pernyataan yang berapi-api. Karena cinta itu dapat dilihat dari pengorbanan yang ia lakukan. Bila seseorang waktunya lebih banyak dipergunakan untuk mengabdi pada suatu bidang seperti dakwah, kerja, menimbun harta atau “berpacaran” maka itulah cintanya.

Secara sederhana tanda cinta itu adalah kita rela berkorban, bekerja tanpa dibayar, menghabiskan waktu, untuk suatu hal. Hal itu kita rasa membawa kebahagiaan hati dan kepuasan batin. Maka hal apa yang paling membuat kita merasa nyaman, tenang? Itulah tanda cinta kita. Dan beruntunglah bila cinta kita itu pada jalan yang benar. Cinta pada agama, keluarga, masyarakat, pendidikan dan lain sebagainya. Dan celaka bila kita cinta pada hal yang tidak manfaat bahkan hal yang negatif, “ubud dunya” cinta pada kenikmatan semu dunia.

Orang akan cenderung melakukan hal yang ia senangi, yang ia merasa nyaman dalamnya. Dan percayalah kawan. Itulah gambaran cintanya. Mungkin cinta itu berwujud pekerjaan, harta, atau pasangan. Yang jelas yang selalu ada dalam pikiran seseorang. Itulah cintanya.

Mari sucikan cinta kita degan mencintai yang Maha Mencinta. Karena Cinta itu terukur dari perbuatan kita. Karena cinta seperti iman, butuh tekad, butuh amal, butuh bukti dan butuh perjuangan

Iklan

Read Full Post »

Image

(Cahyadi Muharam)

Beberapa waktu ke belakang kita mendapat berita gembira dari dunia olahraga. Pasangan ganda putra dan ganda campuran Indonesia yaitu Moch. Ahsan/ Hendra Setiawan juga Liliyana Natsir/ Tontowi Ahmad mampu mempersembahkan gelar juara dunia bulu tangkis setelah dinyatakan menang dalam turnamen di Cina. Pasangan tersebut, terutama ganda campuran Tontowi Ahmad dan Liliana Natshir sangat padu dan saling melengkapi. Tontowi handal dalam pergerakan dan pertahanan berduet dengan Liliana yang memiliki kemampuan penempatan bola baik dan serangan balik yang bagus. Maka pantas mereka menjadi juara.

Hal diatas adalah gambaran pasangan yang ideal. Pasangan dalam arti relasi kerja yang saling sinergi dan melengkapi. Sehingga ketika keduanya bersatu, menjadikan musuh sulit menemukan celah kelemahannya. Mereka saling menutupi kekurangan dan meng-cover kelemahan pasangannya dengan kelebihan yang ia punya.

Pada saat bulan Ramadhan kemarin, diadakan kegiatan buka bareng di sekolah. Kepala sekolah yang juga seorang ustadz memulai kegiatan tersebut dengan berceramah. Dan tema ceramahnya adalah pasangan yang dikemas semi game. Kita ditugaskan memcari pasangan dari hal-hal yang beliau sebutkan. Karena menurutnya setiap ciptaan Allah pasti ada pasangannya.

Beliau memulai dengan menyebut malam, maka kami spontan menjawab siang. Dan ternyata benar. Malam akan sempurna dengan hadirnya siang. Malam selalu menyelimuti bumi dengan dingin, gelap dan sunyi tapi menawarkan istirahat, pemulihan dan juga waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Sedangkan siang yang merupakan pasangannya, menawarkan kehangatan, optimisme dan dinamisme. Semuanya akan seimbang karena beriringan. Malam tak pernah mendahului siang begitu juga sebaliknya. Dan bayangkan bila dunia ini hanya ada malam? Maka akan jadi planet mati yang tak berkehidupan. Atau hanya ada siang. Maka akan menjadi planet tiruan Mars yang teramat sangat panas tanpa kehidupan.

Beliau bertanya tentang pasangan buku. Maka ada yang menjawab pensil, bolpoin, spidol dan lain sebagainya. Pasangan buku adalah tinta. Karena dengan tinta, buku menjadi punya makna. Dapat menjadi gudang ilmu dan bermanfaat bagi semua.

Kemudian beliau menyebut saum maka kami menjawab beragam. Sholat! Buka! Sabar! Bahkan ada yang menjawab tarawih. Dan ternyata jawaban yang benarnya adalah… Diam. Ya, diam adalah pasangan saum. Mengapa? Karena diam dapat menyempurnakan saum. Saat saum semua indra kita tahan agar tidak melakukan maksiat, dan maksiat terberat tapi paling tidak terasa adalah lewat mulut kita. Perkataan kita. Maka diam adalah penyempurna saum. Saum menahan segala yang masuk melalui mulut dan diam menahan segala yang keluar dari mulut.

Kemudian beliau menyebutkan shalat, maka kami menjawab sabar. Dan memang benar. Sabar adalah pasangan shalat. Seperti sabda Allah dalam Al-Qur’an. Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Karena sabar adalah menerima segala putusan dari Allah dengan mengusahakan yang terbaik sedangkan shalat adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Sabar dan shalat lah.

Beliau bertanya kembali, pasangan dari Al Qur’an. Sebagain menjawab sunnah, sebagian yang lain menjawab Rasulullah. Dan jawaban yang benar adalah yang mengajarkannya. Al Qur’an akan sempurna bila diamalkan dan diajarkan. Dan para pengajar Al Qur’an ini lah orang yang menjelaskan dan menyebarkan nur dari Al Qur’an sehingga dapat diamalkan oleh umat. Mereka lah yang Akan Allah Angkat ketika kiamat hendak terjadi. Dengan mengangkat ahli Al Qur’an maka Al Qur’an akan tak tersentuh cahayanya sehingga dunia akan gelap gulita.

Terakhir beliau menyebut kata ibadah, maka jawaban kami kembali beragam. Ikhlas! Ihsan! Niat! Tawakal! Dan masih banyak lagi. Dan ternyata, pasangan ibadah adalah kata pasangan itu sendiri, yaitu Safa’at. Syafa’at adalah pertolongan yang diberikan oleh Baginda Nabi Rasulullah S.A.W kelak. Safa’at adalah penyempurna dari ibadah kita. Bila kita benar dalam ibadah kita dan sungguh-sungguh, maka safaat itu pun akan dapat kita peroleh. Hal ini karena safaat adalah hal mulia dan hanya akan diberikan bagi mereka yang memiliki “modal” kemuliaan juga. Karena pasangan itu saling melengkapi dan setaraf.

Dari pemaparan diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa pasangan itu bukanlah lawan seperti selama ini kita bayangkan. Jujur bukanlah pasangan dari bohong. Ibadah pun bukan pasangan maksiat. Pasangan itu sesuatu yang saling melengkapi dan menyempurnakan. Sehingga menjadi kuat, tangguh dan lebih berkualitas.

Sering kita dengar orang-orang berkeluh kesah tentang pasanganya atau yang danggap “calon pasangannya”. Seperti sahabat saya yang sering bercerita tentang “calon pasangnya” atau yang lebih umum dikenal dengan istilah “pacar”. Semenjak kenal dengan pacarnya ini, dia menjadi “bukan dia”. Mulai jauh dari kehidupannya dulu. Tak lagi mampu jujur dan terbuka. Dan perlahan tapi pasti, menjauh dari sahabatnya yang selama ini berjuang bersama dalam suka dan duka. Dan dia pun tak merasakan kebahagiaan seutuhnya walaupun berteman pacarnya. Timbullah dalam pikiran yang mempertanyakan. Apakah itu yang akan jadi “pasangan” nya? Bukankah pasangan itu harus saling menguatkan dan membuat lebih berkualitas? Buak malah menjadi lebih terpuruk?

Teman yang lain bercerita ketiaka dia bertemu pasangannya yang telah menjadi halal saat ini, ia seakan menjadi sosok sempurna karena selalu ada orang yang mengerti dan mendorongnya kearah kebaikan walaupun pengetahuan agama pasangan ini tak terlampau bagus. Tapi mereka berkomitmen dan saling memotivasi sehingga semua orang pun “pangling” terhadap perubahan yang mereka capai terlebih setelah menikah.

Ingat cerita yang akhir-akhir ini sedang banyak dipernbincangkan? Tentang cerita cinta B.J. Habibie dan Ibu Ainun. Mereka pasangan yang saling menguatkan. Kita pikir Pak Habibie sebagai orang super hebat yang mampu menarik gerbong industri taktis Indonesia kea rah kemajuan dan juga menjadi patok yang menghindarkan Indonesia dari kehancuran pada era revormasi dengan menjadi presiaden yang begitu bertanggung jawab. Tapi bila kita menyimak cerita dari film terutama dari novel, ternyata ibu Ainun lah yang membuatnya menjadi sanggat kuat tersebut. Beliau lah tokoh yang ada di belakang Pak Habibie yang menggenapkan dan menyempurnakan Pak Habibie.

Jelas sudah, bahwa pasangan itu adalah pelengkap, penyempurna yang senantiasa meningkatkan kualitas suatu hal. Terutama kualitas diri. Maka untuk mengetahui apakah seseorang adalah pasangan yang baik atau tidak (pasangan kerja, pasangan usaha terutama pasangan pernikahan) lihatlah sebesar apa mereka melengkapi kekurangan kita. Sejauh mana mereka meningkatkan kualitas diri kita. Bila hanya menggerogoti dan membuat kita malah makin terjerumus pada kesalahan, itu bukanlah pasangan tapi hal yang seharusnya kita jauhi.

Ingatlah. Kejujuran itu bukan lah pasangan dari kebohongan. Kebaikan bukan pasangan keburukan. Itu adalah lawan. Karena pasangan hanya akan selalu menambah sesuatu menjadi lebih baik, lebih bernilai dan sempurna.

Read Full Post »

dari: watashi-ahmad.blogspot.com

(Cahyadi Muharam)

“Kawan, ikut ngak ke nikahan si Fulan.? Temen SMA kita.”  Begitulah celoteh kawanku beberapa waktu kebelakang. Disaat yang berdekatan beberapa teman melangsungkan pernikahan yang alhamdulillah semua berjalan lancar. Mudah-mudahan mereka semua dikaruniai keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amiiin.

Tertarik dengan pernikahan kawan-kawanku ini, kemudian penulis membuka-buka tulisan tentang pernikahan. Tulisan-tulian beberapa tokoh terkemuka membuka pengetahuan penulis tentang pernikahan. Salah satu yang berkesan adalah tulisan dari KH. Jalaluddin Rakhmat dan Ust. Miftah F. Rahmat. Berikut sedikit cuplikan intisari tulisannya yang penulis padukan dengan sumber-sumber lainnya.

Nabi yang Mulia pernah bersabda, untuk menikah atas dasar agama. Agama ini bukanlah karena kesamaan agama “saja”, kesamaan ritual. Atas dasar agama jauh lebih agung dari tu. Mintalah pasangan untuk berjanji, bahwa ia akan membantu sesungguh hati, mendekatkan kita pada ilahi.jadilah kita pengingat dikala dia alpa, pencegah diwaktu lupa, dan penyemangat dikala duka.

Pernikahan itu adalah perjanjia yang sangat berat (mitsaqan ghalizha). Hanya tiga kali Allah menyebutkan kata ini dalam Al Qur’an. Pertama, ketika Allah membuat perjanjian dengan para Nabi- dengan Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Rasulullah Saw (QS. 33:7) dan mengangkat derajat mereka lebih tinggi dari Nabi yang lain. Kedua, ketika Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah (QS. 4:154). Dan Ketiga, ketika Allah menyetakan hubungan pernikahan (QS. 4:21). Seolah-olah bila janji suci ini ditepati, Allah akan mengangkat derajat kita diatas manusia. Tapi bila kita mengingkari, Allah akan merendahkan kita sebagaimana Dia mengubah Bani Israil menjadi kera yang dihinakan karena melanggar perjanjian.

Dua kaliamat yang terucap dalam pernikahan sangat besar nilainya dimata Allah. Kalimat itu adalah: ijab dan kabul. Ijab mengendung pesan penyerahan dan dalam kabul penerimaan. Dalam serah terima tersebut terdapat campur tangan Tuhan. Dengan dua kalimat, terjadi perubahan yang besar: yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadah, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun akan berubah menjadi kasih dan sayang.

Kawan, dikala pernikahan itu berlangsung, seluruh orang yang hadir akan berbahagia. Dan andai kita tahu, malaikat pun akan berbahagia. Mereka melantunkan do’a keselamatan untuk para mempelai. Rasulullah pernah bersebda bahwa belumlengkap agama seorang hamba hingga hamba tersebut menikah. Maka maknailah pernikahan tersebut adalah ibadah, pelengkap agama dan ketaqwaan kita.

Dari sumber lain saya menemuka fakta yang mengejutkan. Bahwa suatu negara yang melegalkan sepasang wanita dan pria bukan muhrim untuk hidup bersama tanpa ikatan pernikahan memiliki tingkat stress yang tinggi dan tingkat kebahagiaan yang sangat rendah. Hal ini karena hubungan yang demikian memiliki kebebasan, tak ada ikatan tanggung jawab secara formal. Anak yang dihasilkan pun tak dapat menggugat warisan orng tuanya. Semuanya atas dasar nafsu dan bertopeng “cinta”.  Suatu keadaan seperti halnya jaman Jahilliah. Nauzubillah..

Sebuah kisah tentang pengalaman membina rumah tangga pernah saya temukan dari tumpukn buku-buku. Ungkilan kisah tersebut disebtkan saat seorang suami mendapat guncangan hebat karena masalah pekerjaan yang memaksanya terjerembab kedalam keadaan stress yang lluar biasa. Satu-satuya penolong adalah senyum istrinya yng selalu hadir menyemangati suaminya. Ia mati-matian membangkitkan kepercayaan diri suaminya. Ia lah garda terdepan yang selalu pasang badan ketika suaminya drop hingga titik nadir. Wanita superkah dia? Ia sendiri sering menangis sendiri di kamar mandi atau ditengah malam dalam sujudnya. Disaat suaminya tak dapat melihat kesedihanya,dan selalu memberi kekuatan kesekitar walau sebenarnya ia rapuh. Subhanallah. Inilah hakikat pernikahan, saling menguatkan,  menegarkan menutupi aib, memahami kekurangan dan saling menjaga. Karena sungguh, kehidupan ini sangat berat, namun akan indah bila dilalui bersama.

Rasullulah pernah bersabda bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu. Disaat kita memutuskan untuk menikah, sesungguhnya kita akan menikahi seorang ibu. Ibu dari rumah tangga yang akan kita bangun bersama. Apakah rumah tangga yang akan kita tempuh akan menjadi surga atau neraka, tergantung dari peran seorang istri sebagai ibu rumah tangga. Dan seorang istri adalah tanggung jawab suami. Bagai mana akhlak nya adalah bagaimana suami mengarahkanya. Rumah tangga akan menjadi surga bila disana kita hiaskan kesabaran, kesetiaan, dan kesucian.

Sebuah kajian tentang pola hubungan sumi istri pernah penulis dapatkan ketika medengarakan ulasan di sebuah radio Islami. Menurut pembicara dalam acara tersebut, suatu hubungan antara suami istri dapat berjalan baik bila dilandasi kejujuran, kasih, sayang dan saling menerima.seorang isrti atau suami harus bisa bermain peran sebagai PISIK. Apakah “PISIK” itu? Itu merupakan singkatan dari Partner, Ibu, Sahabat, Istri, dan Kekasih. Mari kita bahas satu persatu.

Partner, rekan kerja atau orang yang memiliki kedudukan sama dengan kita. Seorang rekan kerja adalah seseorang yang dapat kita andalkan, memberi dukungan dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Andaikan pasangan kita adalah partner kita, maka dia akan sungguh-sungguh membantu kita. Membagi-bagi tugas dan tanggung jawab. Mengingatkan kita disaat kita lupa, menyemangati kita saat kita jatuh. Karena partner yang baik menginginkan yang terbaik untuk rekannya untuk kesuksesan bersama.

Ibu, (Ayah). Pernah ada suatu ungkapan yang berbunyi, “saat kau menikahi seorang wanita, sesungguhnya kau menikahi seorang Ibu”. Seorang ibu adalah sosok mulia yang bahkan Rasulullah menyebutkan Ibu sebanyak tiga kali dibnding ayah yang sekali ketika ditanya siapa yang harus kita hormati.   Surgapun berada di bawah kaki ibu. Seorang ibu akan bersungguh-sungguh  melindungi keluarganya terutama anak-anaknya.

Sahabat, Sahabat adalah orang.  yang melindungi kta saat kita lemah. Mendukung kita saat kita ingin bangkit dan mungkin jadi orang yang paling sibuk saat kita punya rencana. Merasa perih saat kita terluka, walau kita tegar. Itulah pendamping yang selalu memberi kesejukan pada kita. Setuju?

Istri, istri adalah pelengkap dari kehidupan. Tak sempurna iman seseorang hingga ia menikah. Itu kata Rasulullah. Seorang yang menggenapkan kita. Mengisi setiap kelemahan kita. Menghibur kita. Perhiasan yang paling indah.

Kekasih, inilah konsep Islam. Saat kita menikah bukan berarti memutus hubungan “pacaran” tapi malah memulainya. Kekasih seperti yang biasa kita dengar dari lagu-lagu jaman kini merupakan sesosok gambaran lawan jenis yang memiliki pesona yang kita sayangi, cintai dengan sungguh-sungguh. Sehingga kehdiranya akan membri kedamaian. Kemesraan setelah menikah itu adalah ibadah.

Itulah kawan sedikit yang ku ketahui tentang pernikahan. Semuanya adalah ibadah bila didasari karena Allah. Wallahu ‘alam.

Read Full Post »

Image

(Cahyadi Muharam)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Q.S. 21: 35)

Minggu lalu, penulis terkaget-kaget karena mendapatkan kabar tentang sahabatku semasa SMA dulu meninggal dunia. Umurnya belum lah genap 23 tahun. Sakit keras dan mendadak, begitulah kabar yang saya terima. Padahal yang saya ketahui, semasa di asrama SMA dulu dia itu termasuk anak yang rajin olahraga menjaga kesehatan. Sehingga tak pernah terdengar ia sakit.

Semasa hidup beliau teramat sangat baik. Ketika teman-teman berkumpul, seorang tean bertanya pernahkan almarhum menyakiti, berhutang atau setidaknya membuat kita tidak enak? Tak seorangpun berbicara, malah dalam hati dan terucap oleh beberapa teman, malah kitalah yang sering menyusahkan almarhum. Almarhum adalah anak baik yang tak banyak bicara, selalu menjaga diri dari hal yang merugikan orang lain, menghormati semua orang bahkan juniornya sendiri. Alamarhum pun selalu menjaga saum sunah hingga akhir hayatnya, menghormati dan menjunjung orang tuanya. Tak pernah sekalipun keluar dari bibirnya kata-kata yang melukai hati orang tua.

Di hari-hari akhirnya, menurut ibu almarhum (ia sudah yatim) ia terlihat seperti biasa-biasa aja. Hingga suatu hari ia mengirim pesan singkat kepada adiknya auntuk dijemput di tempat bekerjanya karena ia tak kuat membawa motor sendiri. Setibanya di rumah keadaanya terus menurun, namun tak pernah sedikitpun ia mengeluh dan mengaduh. Hanya kalimat takbir dan istigfar yang keluar dari bibirnya. Keesokan harinya ia pun diajak berobat ke rumah sakit. Di rumah sakit keadaanya semakin memburuk, hingga suatu hari ia berbicara kepada kakanya yang menungguinya “Kak, saya mau solat. Saya boleh minta air untuk wudu? Ada yang ngajak Jajang (Namanya) solat. Orangnya mirip Jajang.” Begitulah ujarnya. Setelah selesai wudu, ia pun menunikan solat. Selesai solat, kakanya tertidur di bawahkakinya. Sementara ia tetap terjaga. Menjelang malam, ia membangunkan kakanya. Ia pun berbisik “Kak, Jajang udah nga kuat. Omat jangan pada nangis ya. Nanti ambil tabungan Jajang buat Mamah. Tolong tuntun jajang takbir!” itulah ucapnya. Kakanya pun takbir di sebelah telinganya dan diikuti olehnya. Jajang menunjuk ke matanya, memberi tanda agar matanya ditutup oleh kakanya, maka ditutuplah matanya. Setelah itu Jajang menunjuk bibirnya, kakanya mentup bibirnya. Tak lama kemudian Jajang pun berpulang ke Rahmat-Nya.

Mendengar cerita diatas dituturkan oleh Ibu Jajang, pecahlah tangis sahabat-sahabatnya. Tangis kehilangan yang teramat sangat. Penulis pun menangis, tangis karena tiga hal. Pertama karena kehilangan seorang sahabat yag sangat-sangat baik, sahabat yang selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kedua tangis karena menyesali diri, mampukah kelak akhir hayatku seindah sahabatku? Sakaratul maut yang husnul khatimah. Maut yang indah, menghadap rahmatnya denagn keadaan suci dan berserah pada-Nya. Dan ketiga tangis sejadi-jadinya karena dosa. Dosa yang menumpuk dan pasti memberatkan dalam sakaratul maut dan alam barzah.

Kawan, sering penulis berfikir bahwa maut itu masih jauh karena penulis masih sangat muda. Oleh karena itu sering penulis mengumbar diri melakukan banyak kesalahan. Menyakiti orang lain, lalai dalam ibadah, bermaksiat, bergunjing, dan banyak lagi. Semua dengan alasan ”nanti juga kalau sudah tua bisa tobat!”. Setelah melihat kematian sahabatku, penulis pun berfikir, masihkah optimis akan berumur panjang? Masihkah optimis bis bertobat sebelum maut? Masihkah yakin dengan kualitas ibadah? Solat, puasa, sedekah sudah yakin diterima? Tidak takutkah disisipi ria, takabur, lalai? Subhanallah…. Siapkah penulis bila hari ini adalah hari terakhir di dunia? Bekal apa yang sudah disiapkan? Kalau hanya untuk bepergian keluar kota saja untuk mudik lebaran kadang kita mempersiapkan bekal jauh-jauh hari. Maka bekal apa yang telah penulis siapkan untuk perjalanan tak berujung  ke akhirat? Ya Allah….

Kawan, marilah kita merenung sejenak. Semenit setelah solat. Hal apakah yang telah kita kerjakan dari solat ke solat. Introspeksi rutin, maka kita akan kaget, sangat banyak kesalahan yang kita lakukan. Kita kadang membagus-baguskan kata atau berbohong, hanya untuk membuat orang sekitar kita tertawa, tahu kah kawan itu dosa. Memanggil kawan kita dengan panggilan yang tak disenanginya. Itu dosa. Membuang bekas permen kita di embarang tempatpun dosa. Berapa banyak dosa dan kesalahan kita dalam sehari. Masih kah kita percaya diri untuk mendapat sakaratul maut yang indah? Terhindar dari gada panas dalam siksa kubur? Digampangkan urusan di yaumul hisab? Dan masuk surga? Kawan.. marilah kita instrospeksi. Kita tak tahu kapan kita akan mati. Tapi mati itu pasti!

 

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. 31: 34)

Read Full Post »

climbing-clip-art-15(Cahyadi Muharam)

Ketika bersekolah di SMP dulu, saya pernah memiliki seorang kawan, Heri, namun lebih akrab disapa Apak, entah mengapa. Satu hal yang saya ingat dari dia saat bersekolah dulu adalah setiap berangkat sekolah, pasti tangannya tak pernah lepas dari satu jingjingan kecil wadah plastik. Ya, sebuah wadah plastik yang berisi dagangannya. Cilok bumbu kacang. Itu adalah bekalnya setiap hari dan juga biaya sekolahnya. Karena untuk mendapatkan bekal uang jajan dia harus menjual dulu dagangannya tersebut. Begitu juga untuk SPP sekolah (ketika itu masih sangat murah). Pertama kali melihatnya kadang saya merasa terharu, tapi semakin lama, apalagi setelah kenal dengan dia lebih lanjut, saya tahu satu hal. Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Orangtuanya tak membiayai sekolahnya, tapi ia optimis untuk sekolah. Dan hasilnya? Ia lulus sekolah, bukan hanya SMP, tapi juga SMA. Subhanallah.

Sahabatku, percayalah bahwa optimism itu adalah kunci kesuksesan. Putus asa adalah virus berbahaya yang menggerogoti keimanan. Ia akan mencabik-cabik kepercayaan atas kauasa Allah. Dalam keadaaan putus asa, jiwa kehilangan kekuatan untuk berkehendak dan bergerak, memupus semua harapan dan nilai yang dituju sehingga tak memiliki tekad. Orang yang putus asa tak ubahnya buih dilautan yang hanya terombang ambing oleh jaman.

Suatu hal yang menjadi fakta saat ini, umat Islam sangat lemah. Apakaha mereka sedikit? Tidak populasi mereka banyak, bahkan di negri kita adalah mayoritas. Tapi tak berdaya. Bagai buih di lautan. Mengapa? Karena tak ada optimis dalam hidup mereka.

Islam = Ajaran Optimis

Pernah mendengar hadist yang berbunyai : “Kejarlah duniamu seakan kamu akan hidup selamanya. Dan kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati esok pagi”

Lihatlah perumpamaan yang Rasulullah ambil, beliau menyebutkan suatu hal dengan tujuan akhir hal tersebut (dunia dan akhirat), sehingga semua orang menjadi termotivasai. Bayangkan saja kita disuruh bekerja mencari dunia seakan kita tak akan pernah mati. maka mungkin kita akan semangat bekerja. Dan bayangkan kita disuruh ibadah seakan kita akan mati besok. Ketakutan akan kematian akan membuat kita khusyu dalam ibadah dan tentu bila kita tahu kita akan meninggal besok, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri pada Allah.

Mari kita cermati ayat berikut:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Bila kit abaca dengan seksama, kita akan melihat bahwa Nabi (menurut wahyu dari Allah tentunya) menyebutkan bahwa orang yang berputus asa itu adalah kafir. Bukan berarti saya menyebutkan kafir orang yang putus asa, tapi sebagian tanda kafir itu (dari banyak tenda) adalah putus asa dan tidak percaya pada kuasa Allah.

Sebuah cerita yang saya temukan dari Sirah Nabawiya, diceritakan ketika terjadi perang Khandaq (parit), tentara muslim dikepung oleh 10.000 pasukan Kafir. Mereka terkurung di Madinah. Maka, atas gagasan Salman Al Farisi dibuatlah parit agar pasukan musuh tak dapat memasuki kota. Ketika menggali parit, muslim dalam keadaan takut, lelah dan terkepung. Ditengah penggalian, ada sebungkah batu karang yang menghalangi parit. Kemudian Rasulullah datang dan memukul batu tersebut. Keluarlah percikan tanda kuatnya batu tersebut. Nabi kemudian berseru dengan keras “Allahu Akbar.. Romawi pasti dikuasai.” Batu itu bergeming dan kembali mengeluarkan percikan.

Para sahabat ketika itu tertegun dan saling bertatap. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah masih menghembuskan angin optimism dan mimpi yang sangat besar. Rasulullah kembali berseru “Allahu Akbar.. Persia pasti dikuasai” pada pukulan ke tiga, batu karang tersebut pecah berkepin-keping.

Kawan, apa yang dikatakan Rasulullah itu ternyata terbukti. Ketika kekuasaan khulafaurasidin, Persia ditaklukan, dan 600 tahun kemudian, Ibukota Romawi Timur di Konstantinopel ditaklukan Al faith. Kemudian kota itu menjadi Istambul (kota Islam) sampai sekarang.

Percaya kah kawan bila saya berikan info, saat Rasulullah memecah batu dan meneriakan gema optimis itu, perut beliau bahkan diganjal batu. Mengapa? Untuk menahan lapar. Beliau tidak dalam keadaan kuat, hebat, tapi selemah-lemahnya keadaan fisik, tidak untuk mental. Mentalnya lebih kuat intan yang kuat dan berkilau.

Ingat saat Perang Badar? 300 pasukan Muslim menghadapi musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat. Gentarkah mereka? Putus harapan kah? Tidak. Mereka maju dengan optimis, hingga mampu menjadi pemenang.

Bahkan Nabi pernah bersabda : ”Bila kiamat terjadi, dan di tangan salah seorang dari kalian ada tunas pohon kurma, maka tanam lah! ” (H. R. Ahmad) bayangkan, bahkan ketika terjadi kiamat pun kita harus menggantungkan asa dan harapan. Untuk menumbuhkan sebatang pohon kurma hingga menghasilkan buah itu dibutuhkan waktu puluhan tahun, tapi saat itu kiamat. Sia-sia kah? Rasulullah sesungguhnya mengajarkan kita untuk terus berikhtir, tak putus harapan, apapun yang terjadi. Bukan masalah hasilnya yang akan menjadi kebaikan, tapi optimism dan kerja kerasnya lah yang akan menjadikan kita lebih bernilai.

Agama ini dibangan atas dasar optimis. Tak ada satupun kemajuan Islam yang dibuat melainkan berdasarkan optimis yang tinggi.

TAPI vs. DAN

Bila kita ingin tahu tanda-tada orang pesimis, ternyata sangat gampang sekali. Bukan dari semangatnya mengejar hal yang diinginkanya, atau motivasinya. Karena itu sudah jelas. Orang pesimis akan tak bersemangat dalam menjalani hidpnya. Galau setiap saat, dan tak punya pegangan. Itu terlihat nyata.

Sesungguhnya tanda dari pesimis, putus asa bias kita prediksi sejak dini, bahkan dari sejak terucap pertama. Kuncinya adalah kata “TAPI”. Semakin sering orang mengucap tapi, makin pesimis lah orang tersebut.

Pernah dengar orang berkata “Iya hal itu mungkin saja terwujud, tapi…….” Atau “ Ya saya tau hal itu baik, tapi…….”. atau mungkin itu perkataan kita sendiri?

Setiap kata tapi adalah penyangkalan dengan menyuguhkan alasan. Hal ini membuat kita lemah, karena kita merasa nyaman berlindung dibalik alas an. Seakan itulah zona aman kita. Zona Tapi.

Satu tapi, satu alas an, satu batu yang menghalangi kita meraih tujuan kita. Kita menginginkan apa. Jadikan itu target, dan jangan halangi pandangan kita dengan tapi.

Untuk menahan “hasrat” menyebut tapi, kita ganti dengan kata “DAN” sederhana kan? Mengapa dengan kata dan? Karena setiap kita berkata dan, maka otak kita akan berfikir keras untuk menemukan alternatif untuk masalah pertma. Dan secara tak sadar kita pun didorong untuk bangkit lebih. Contohnya:

“Saya tahu hal itu munkin, DAN saya harus mencapainya.”

“Ya saya athu hal itu baik, DAN bagus untuk dikerjakan.”

Kata dan tidak menawarkan penolakan, tapi justru mendorong kita untuk lebih baik. Satu kata dan berarti satu solusi kreatif dan satu alternatif meraih tujuan kita. Jangan pernah merasa aman di Zona Tapi. Bangkitlah!

Rumus Optimis

Sangat banyak rumusan untuk menjadi optimis tersebut. Bila kit abaca buku tebal yang berisi biografi seorang sukses, kita akan menjumpai 90% di dalamnya adalah motivasi untuk sukses. Namun saya mencoba menyarikan dari dari stu sumber yang sudah cukup terkenal, agar lebih familiar. Pernah dengar 7 Habits? Buku yang sangat laris. Saya mangambil tiga pilar pertama dari 7 Habits fot Teen Karya Sean Covey. Mengapa hanya tiga pilar? Karena ini adalah pondasi. Seperti halnya optimis yang merupakan pondasi dari kerja keras, tahan banting, dan selalu kreatif mengakali tantangan. Apasaja pilar itu?

1.   Proaktif (Bertanggng jawab pada diri sendiri)

Jadilah pribadi yang mandiri. Berdiri dengan prinsip dan kekuatan diri. Setiap orang pasti memiliki kepentingannya, maka kejarlah kepentingan tersebut, focus lah. Lakukan hal-hal yang berguna bagi dirimu dan lingkunganmu. Aa Gym pernah berkata, jangan kita bergantung hidup pada orang lain dengan hutang budi, karena hal itu akan melemahkan kita. Jadi, lakukan lah hal terbaik yang kau bias lakukan. Bukan tak boleh meminta bantuan orang lain, tapi bekerja maksimal dan bekerja samalah secara proporsional dan harmonis.

2.      Mulai dari akhir ( definisikan misi dan sasaran hidup)

Memulai dari akhir, sama halnya yang diajarkan Islam sebelumnya. Tentukan lah target hidupmu, setelah itu, mulailah rintis jalan menuju kesana. Ha ini akan menjadi rambu-rambu bila kita melenceng. Cara paling gampang, biasakan dengan kata Dan tadi.

“Saya ingin naik haji atau umroh segera dan saya harus bekerja untuk itu.”

“Saya ingin punya suami/ istri soleh dan saya juga tentu harus soleh juga”

Saya ingin memiliki pekerjaan yang nyaman, dan saya harus menciptakannya.”

Ayo… kita bangkit. Mulai dari tujuan kita…

 3.      Prioritas (dahulukan yang utama)

Setelah tau tujuan kita, dan kita proaktif di dalmnya, maka kita harus selektif. Pilih jalan paling efektif untuk mencapai tjuan kita. Lalui hal-hal yang yang utama. Memang terkadang sulit mengambil pilihan yang sulit. Tapi lihatlah resikonya. Saat kita dihadapkan pada beberpa pilihan yang sama penting, pilihlah yang paling besar pengaruhnya pada kemaslahatan orang banyak atau keselamatan jiwa. Hal-hal yang tak dapat ditolak.

Mari kita menapaki diri kita dengan optimis. Karena sesungguhnya itulah modal terbesar orang sukses.

Read Full Post »

Image

(Cahyadi Muharam)

Memeriksa hasil ujian anak didik terkadang menjadi sesuatu hal yang mengasikan sekaligus mengisyaratkan suatu hikmah. Dalam ujian ada pertanyaan teka teki silang : “Tokoh wayang, anak tengah pandawa” Tersedia kotak A _ _ U _ _. 30% siswa saya menjawab “ASTUTI”. Pertanyaan selanjutnya, “Kapan kah pagelaran Wayang golek biasa disajikan?” Soal pilihan ganda. 20% Menjawab ketika acara kenaikan kelas, 10% Ketika malam takbiran Idul Fitri dan paling lucu, 10% menjawab ketika upacara pamakaman jenazah. Subhanallah.

Percayakah kawan bila saya katakan bahwa anak didik saya tersebut sudah mendapat kisi-kisi untuk ujian dua minggu sebelum ujian. Seminggu sebelum ujian dilaksanakan review yang soalnya 40% dari soal ujian. Tapi hasilnya? Sangat jauh. Tidak menutup mata, banyak anak yang nilai 100 atau diatas 90. Tapi lebih banyak yang kurang dari itu. Mengapa? Jawaban paling sering kita dapat adalah “Setiap anak memiliki keterbatasan dalam kemampuannya”. Bila berbicara hal itu, selesai sudah.

Setiap ujian yang diberikan oleh guru, (khususnya guru kelas bukan dinas) adalah pengulanagan dari materi yang telah diberikan. Sumber dan rujukannya jelas, materinya tegas, kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya pun lengkap. Sejujurnya, bila kita jujur, andai kita mau berusaha, belajar, mendalami materi yang ada, ulangan/ ujian itu akan menjadi hal yang sangat mudah. Setuju?

Andai kita tempatkan Allah SWT sebagai Maha Guru kita, maka sanggat wajar bila Dia memberikan ujian pada kita (baca: muridnya). Dan seperti saya ungkapkan tadi, setiap ujian hakikatnya adalah pengulangan materi yang telah kita terima, disertai kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya (baca: agama/ Qur’an). Sebagai mana sabda-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S: Al Baqarah:155)

Mari kita cermati ayat diatas. Allah berkata mencoba dengan sedikit ketakutan, bukan ketakutan atau kecemasan. Ini berarti setiap ujian yang kita terima hanya sedikit dari karunia yang Dia berikan. Contohnya disaat kita kehilangan barang, apakah seluruhnya? Tidak pernah, hanya sedikit dibanding seluruh harta kita. Dibenci oleh orang. Apakah seluruh alam dunia membenci kita? Tidak pernah. Hanya sekelompok orang dari sekumpulan orang yang sayang pada kita. Saat ditimpa kemalangan. Masih banyak hal yang dapat membuat kita tersenyum. Tak ada satupun ujian yang Allah berikan pada kita itu melebihi kemampuan kita atau Rahmat Allah.

Allah tidak akan menimpakan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Allah tak akan menjadikan seseorang diuji menjadi Presiden, bila mental dan kemampunya baru sampai RT. Allah tidak akan mencoba seseorang menjadi Milyuner bila mentalnya lebih kuat dalam kadaan fakir. Percaya?

Setiap ujian memiliki tujuan. Ujian disekolah adalah untuk mengukur kelayakan siswa untuk naik atau tidak ke kelas selanjutnya. Begitu pula ujian dari Allah. Diciptakan untuk mengukur kadar ketaqwaan kita. Makin taqwa, makin berat cobaan yang ditimpakan. Dan ujian lah cara tersepat mencapai kenaikan tingkat. Laksana kelas akselerasi, bila kita berani mengambil resiko ujian yang lebih berat, maka akan lebih cepat kita mencapai ketaqwaan pula.

Berbicara tentang masalah dan ujian, maka timbulah pertanyaan, bagaimana menyikapainya dan menghadapinya? Mengambil contoh dari seorang manusia yang diberi kelebihan oleh Allah, yaitu orang tercerdas abad lalu, Albert Einstein. Sebagai seorang cerdas, ternyata kunci suksesnya adalah dia selalu dapat mengurai masalah yang ia hadapi dan memecahkanya, serumit apapun masalah tersebut. Beginilah cara berfikir dan mengurai masalah yang ia tempuh:

1.  Mengindentifikasi masalah

Sering saya mendengar keluahan dari teman-teman “Duh aku lagi banyak masalah ni. Lagi suntuk” pernah saya iseng kepada teman yang mengeluh tersebut memberikan selembar kertas berikut pena. Kemudian saya suruh ia menuliskan seluruh masalah yang ia punya. Hasilnya… 5 menit kemudian, hanya ada deretan angka, mungkin untuk urutan nomor masalahnya. 10 menit kemudian, tak berubah, setengah jam kemudian, kertas telah berpindah ke dalam tong sampah.

Pernah mengalami hal itu? Itulah kita. Sering merasa bingung, “galau”, bimbang, atau apapun istilahnya, tanpa kita tahu masalah apa yang sebenarya menimpa kita. Kadang hanya karena hal sepele, kita menjadi membesar-besarkan masalah. Mendramatisir, menambah-nambahkan. Setelah ditelusur, ternyata bukan itu masalahnya.

Tanpa mengetaui musuh kita, mana mungkin kita siap berperang. Mana mungkin kita bisa menang. Oleh karena itu, kenali musuh kita. Pahami masalah kita. Masalah adalah ketidak sesuaian keadaan dengan aturan atau harapan.

Contoh, saya sudah kerja sangat keras. Menurut aturan seharusnya hasil yang didapat harus besar, tapi tidak. Itu masalah. Saya sudah belajar dengan baik, tapi ulangan saya jelek. Itu masalah. Saya telah berusaha mengajar dengan baik, tetapi anak-anak masih juga banyak yang kurang baik dalam belajar. Itu masalah. Saya sudah berusaha memahami pasangan saya, tapi dia tak juga memahami saya (bagi yang telah berkeluarga). Itu masalah.

Saya tidak kerja, kemudian tidak juga mendapat penghasilan. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak belajar, saya tidak naik kelas. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak mau mengerti tentang keadaan pasangan saya maka dia pun sangat cuek (bagi yang berkeluarga). Itu akibat.

Jadi apa masalahmu?

2.    Mengenali pola dari masalah

Setiap masalah memiliki proses timbul, berkembang dan klimaks dalam rangkaian pola. Kenali pola tersebut maka kita akan memiliki peramal pribadi yang menuntun kita mengambil tindakan dilangkah selanjutnya.

Contoh, penghasilan yang besar ternyata bukan berarti bekerja keras, tetapi bekerja pintar. Makin pintar kita bekerja, makin besar penghasilan kita. Bukan sebanyak apa waktu kita bekerja, tapi seberapa berkualitas waktu kita bekerja. Itu pola pekerjaan.

Belajar itu ternyata bukan menjawab soal yang diajukan dalam ujian, tapi memahami konsep dasar dari setiap materi. Dengan mengerti konsep dasar, maka seberat apapun soal yang diberikan, bagaimanapun variasi soal yang diberikan akan dapat kita kerjakan. Bahkan dengan waktu belajar yang singkat.

Ternyata hubungan yang baik (sahabat, suami-istri, keluarga) itu terjalin atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Dengan saling jujur dan terbuka maka setiap orang akan saling menghargai dan mengisi kekosongan. Jangan pernah berharap suatu hubungana akan berjalan langgeng bila kejujuran dan keterbukaan tak pernah diikutsertakan. Itulah pola hubungan.

3.    Melanggar azas konfensional/ aturan

Azas konfensional atau aturan adalah sesuatu yang dipahami setiap orang sebagai suatu keharusan untuk tahapan menyelesaikan masalah atau menyikapi ujian. Tapi dengan melanggar hal itu (setelah 2 tahapan terdahulu kita lalui) maka kita malah akan mendapat altenatif yang lebih baik. Percaya?

Kata orang, makin keras kita kerja, makin besar hasilnya. Kita coba balik aturan itu, makin santai kita kerja, makin besar penghasilanya. Lihatlah para bos. Apa mereka lebih sibuk dari OB yang harus stand by terus? Tidak.. mereka kerja santai. Tapi cerdas. Waktu mereka berharga. Tempatkanlah kita menjadi BOS (bukan sifat, tapi mental dan pandangan) dimana kita harus siap memanage segala hal. Terutama waktu. Pilih jalan dan peluang paling tepat untuk berusaha. Agar usaha yang kita lakukan efektif.

Kata orang, belajar agama itu sulit dan perlu waktu lama. Hanya orang tua yang mampu. Kita balik. Belajar agama itu gampang, menyenangkan, dan untuk kaum muda. Belajar agama itu adalah belajar disiplin, belajar hidup bersih, belajar jadi warga yang baik. Rubah sudut pandang kita tentang agama. Bukan hanya tentang kitab kuning, fiqih, dan tarih. Tapi lebih sederhana. Hidup selaras dengan hati nurani dan kejujuran untuk menjadi manusia yang selalu lebih baik di setiap hari. Mudah kan?

Kata orang untuk mendapatkan pasangan hidup itu harus melewati fase “pacaran”. Kita rubah, untuk mencapai fase “pacaran” kita harus menikah. Sederhana. Tapi berani kah kita? Ini melawan arus. Contoh inspiratif, saya angkat dari kawan dekat saya. Seorang akhwat yang menjaga kehormatanya. Ia dianugrahi kecantikan yang sangat luar biasa. Kalau saya hitung, entah berapa puluh laki-laki yang menginginkanya. Tapi ia jaga. Ketika di pertengahan tahun 2012 ia berkata akan menikah di akhir tahun tersebut. Sayapun bertanya, siapakah laki-laki beruntung yang menjadi pacarnya atau calonnya. Ia menggeleng kepala. Dan berkata “Saya gak pacaran. Allah pasti ngasih ko nanti”. Dan terbukti. Tanggal 3-12-12 ia bertemu dengan seorang ikhwan, tanggal 6-12-12 ia dilamar oleh ikhwan tersebut, 12-12-12 mereka melangsungkan pernikahan. Subhanallah.

4.    Menemukan solusi

Solusi adalah jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Setelah kita tahu masalah kita, tau polanya, mencoba melanggar aturan agar mendapat alternatif penyelesaian, saatnya melakuan gerakan sapu jagat, menuntaskan masalah hingga ke akarnya.

Masalah apa yang kita hadapai. Kalau kita benar melakukan tiga tahapan sebelumnya, maka kita sesungguhnya telah mengetahui solusi apa yang akan kita ambil. Tapi kuncinya kembali pada kita. Berani atau tidak kita mengambil solusi tersebut.

Memiliki mental BOS (memanage, inovatif, perpandanagn kedepan, dan kerja cerdas) dalam kerja mengundang resiko tanggung jawab yang sangat besar. Belajar dan mengajar kreatif, adalah suatu yang sulit dan memerlukan pembiasaan yang luarbiasa. Sanggupkah? Mengamalkan agama adalah tuntutan yang berat, tapi bila dijalankan sehari-hari dengan bertahap dan konsisten. Mau kah kita? Terbuka, jujur dan selalu pengertian dalam hubungan adalah keharusan. Itu berat sekali. Sanggupkah?

Solusi itu terkadang telah kita ketahui. Hanya perlu keberanian kita untuk mengambil dan melaksanakanya. Pesan saya, jangan jadi orang lemah. Bila kita lemah pada kehidupan, maka kehidupan akan keras terhadap kita. Bila kita keras menghadapi hidup, hidup akan menjadi lunak kepada kita.

Ujian dan masalah adalah cara tercepat menaikan level kita bila kita mampu menyelesaikanya dengan sungguh-sungguh.

Read Full Post »

Image

Cahyadi Muharam

 

Belajar, terutama hikmah kehidupan tak hanya diperoleh dari bangku sekolah. Ia juga dapat kita peroleh dari hal-hal sehari-hari semisal kejadian dalam angkutan kota (angkot) seperti berikut:

Pamanku hendak pergi dari daerah di Gegerkalong ke Margahayu raya (Bandung). Untuk itu beliau menumpang angkot jurusan Ledeng–Margahayu. Beliau duduk di jok belakang tepat di belakang supir. Di sekitaran Setiabudhi, ada seorang bapa setengah baya yang naik angkot tersebut. Perjalanan ketika itu agak tersendat karena Bandung memang termasuk kawasan langganan macet. Ketika angkot memasuki kawasan Kiaracondong bawah (dekat By pass, Sukarno-Hatta) bapa tengah baya tadi kemudian berbicara kepada supir “Pa, kalau BIP masih jauh?”. Dengan spontan Pamanku menjawab “Wah…. Jauh pisan… Sudah sejam yang lalu kita melewatinya!” Bapa tersebut kaget dengan pernyataan pamanku tersebut. Ia kemudian cepat-cepat turun dan memutar balik.

Kawan, bila kehidupan ini kita sebut sebuah perjalanan, seperti halnya perjalanan angkot tadi, maka setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Tapi tak semua perjalanan tersebut sampai pada tujuannya. Kadang ada yang tidak sampai, atau bahkan ada yang melebihinya. Pertanyaannya, apakah kita tahu tujuan kita? Dan apakah kita yakin kendaraan yang kita tumpangi saat ini mengarah pada tujuan kita? Mari kita amati tujuan kita dan angkutan yang kita tumpangi ini dalam berbagai kacamata.

Ketika SMA dulu, penulis pernah memiliki sahabat-sahabat yang memiliki obsesi terhadap beberapa perguruan tinggi. Salah satunya adalah yang sangat terobsesi dengan sekolah ikatan dinas dibawah kementrian keuangan. Ketika kami semua lulus SMA, hamper semua siswa melanjutkan studinya. Termasuk kawan saya ini. Sangat beruntung, ia diterima dengan jalur prestasi di salahsatu perguruan tinggi negri terbesar di Indonesia yang berada di daerah Depok yang memiliki kekhasan jas kuningnya. Perguruan tinggi yang teramat sangat diidamkan oleh sebagian besar pemuda di negri ini. Ia telah berkuliah selama dua atau tiga bulan ketika itu. Namun ketika berkuliah disama ia masih sempat mendaftarkan diri di perguruan tinggi yang selama ini ia idamkan. Ketika pengumuman dibuka, ia lulus di perguruan tinggi yang ia idamkan tersebut. Dan apa yang ia lakukan? Ia meninggalkan kuliahnya di PTN ternama tersebut dan berkuliah di tempat barunya, perguruan tinggi idamanya walau jenjang baru yang ia tempuh hanya diploma, bukan S-1 seperti di PTN sebelumnya. Ketika ditanya, mengapa melakukan hal “bodoh” seperti itu? Dengan enteng dia menjawab. Ini tujuanku.

Seorang sahabat yang dapat dikatakan memiliki posisi mantap dalam pekerjaan. Penghasilanya cukup lumayan bila dibandingkan dengan teman sebayanya ketika itu. Namaun apa yang terjadi? Ketika kami, sahabatnya, menilai ia hanya perlu melanjutkan usahanya ia malah meninggalkan sebagian besar pekerjaanya dan kemudian ia melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. “Kawan, ini tujuanku. Aku lebih senang jadi orang yang banyak ilmu dari pada banyak harta.” Katanya ketika kami mengobrol.

Seorang sahabat lain, memiliki tujuan untuk dapat melanjutkan studi ke luar negri, yaitu ke Al Azhar Kairo. Apakah ia orang kaya? Bukan. Ia hanya anak seorang Ustadz di daerah kabupaten. Namun karena keinginannya kuat. Ia mencarai cara agar dapat mewujudkanya. Cara paling mungkin adalah dengan jalur beasiswa. Dan beasiswa paling menjamin adalah beasiswa thfidz Al Qur’an. Maka semasa SMA dia bersungguh-sungguh menghafal Al Qur’an. Dan hasilnya? Kalau ujiannya lancar, enam bulan kedepan ia akan kembali ke Indonesia dari belajarnya di negri para Fir’aun.

Masih tentang sahabatku, kali ini bukan tentang studi atau pekerjaannya, tapi tentang kisah asmaranya. Ketika SMA dulu, kawanku ini menjalin hubungan “spesial” dengan seorang wanita yang kebetulan tidak se-aqidah dengannya. Namun ia begitu sayang kepanya. Mereka saling berbagi dalam banyak hal walau saya pun tahu ketika itu hubungan mereka “tidak pacaran” dan ditentang banyak pihak. “Aku sayang padanya. Dan kebahagiaanya adalah tujuanku.” Begitu ungkapnya. Ketika bertemu lagi beberapa bulan kebelakang setelah kami sama-sama lulus dari perguruan tinggi yang berbeda, kami mengobrol panjang lebar. Ternyata wanita yang dulu ia dekati telah menjadi mualaf , ia tampak begitu senang akan hal itu. Tapi tahukah anda, kawanku ini dan wanita yang dulu ia sayangi ini telah memiliki calon pendamping masing-masing. Namun hubungan baik antara mereka tetap terjaga. Bahkan seperti saudara. Kawanku menceritakan, ketika ia bertemu dengan wanita tersebut, ia selalu membawa Iqra untuk mengajarinya membaca Al Qur’an dan mengajarinya ilmu agama yang baru ia peluk. “Kawan, tujuanku sejak awal adalah melihatnya bahagia, bukan memilikinya. Apa artinya memilikinya bila ia tidak bahagia. Melihatnya bahagia, apalagi dengan agama barunya saat ini adalah suatu anugrah bagiku.” Ucapnya dalam obrolan hangat sore itu. Itulah cinta karena Allah menurutku dalam hati.

Dari cerita-cerita di atas tampaklah oleh kita tentang cuplikan tujuan jangka pendek yang dapat memotivasi orang melakuan hal-hal yang luar biasa. Apalagi bila tujuan tersebut jangka panjang, seperti akhirat yang abadi. Ya, setiap langkah kita haruslah mengarah pada suatu tujuan. Ketika kita tahu tujuan kita, maka kita akan mantap melangkah dan merasa selalu dituntun. Tujuan pula yang membuat kita semangat dalam menjalani hal-hal yang berat sekalipun. Seorang pelari marathon mampu terus berlari konstan sejauh 10 km karna ia tahu tujunnya dan tahu hadiah yang menantinya di akhir tujuan tersebut.

Untuk mencapai tujuan kita, maka kita harus menggunakan “kendaraan” paling efektif untuk meraihnya. Seperti cuplikan cerita diatas, kita harus teliti memilih jalur mana yang mengarah ka tujuan kita.

Bila tujuan kita adalah ilmu, maka belajarlah, dan dekatilah lingkungan pembelajar. Bila kita merasa sekolah adalah sarana paling kondusif meraih ilmu itu, maka tempuhlah. Percayalah, bila kita yakin akan tujuan kita, mencari ilmu itu akan menjadi mudah, baik dalam hal prosesnya ataupun biayanya. Semua akan menjadi tantangan yang melahirkan banyak solusi cemerlang.

Bila tujuan kita adalah harta, maka berusalah. Bekerjalah dengan sepenuh hati. Cintai pekerjaan kita. Percayalah, besar kecilnya harta tersebut bukanlah dari ukuran nominalnya, tapi dari kebarokahannya. Bila kita bisa menikmati pekerjaan kita dan hasilnya nyaman di hati, itu lebih baik daripada penghasilan besar yang membuat kita terbebani akan hal itu. Ingat, jangan melebihi tujuan kita. Secukupnya saja.

Bila tujuan kita adalah cinta yang sejati, maka jujurlah. Maksud jujur disini bukan apaadanya, tapi selalu mengikuti kata hati dan kebenaran sejati. Cinta sejati itu adalah cinta yang menjaga kita dan bukan membebani kita. Yakinlah, Allah akan menurunkan cinta sejati bila kita mencintai-Nya, dan memiliki ketulusan hati. Seperti halnya sahabatku yang mencintai karena Allah, rasa sayang yang sesungguhnya.

Bila tujuan kita adalah ketenangan hati, maka bersabarlah. Sabar adalah kepasrahan pada yang Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya. Kepasrahan ini membuat kita selalu merasa dalam lindungan-Nya dan naungan-Nya. Bila Dia yang melindungi kita, maka siapakah yang dapat mengancam kita dan membuat kita gundah?

Kawanku, mantapkan lah tujuan kita. Segera lah turun dari “angkot” kendaraan yang membawa kita bila kendaraan tersebut telah mengarah bukan pada tujuan kita. Jangan menyia-nyiakan waktu kita tersesat pada kendaraan yang tidak mengarah pada tujuan kita. Pilihlah kendaraan yang paling efektif mengarah pada tujuan kita. Tanyakanlah arah tujuan kita pada orang-orang yang telah sampai atau lebih tahu duluan seperti guru kita, murabi, mentor, dan paling utama orang tua kita. Yakinlah, pertolongan dan petunjuk Allah itu Maha Dekat. Minta lah selalu petunjuk dan pertolonganya disaat kita bingung atau berada di persimpangan. Allah tak akan menyesatkan hamba-Nya yang kembali pada-Nya.

Tujuan kita adalah arah hidup kita. Maka berhati-hatilah memilih tujuan. Jangan sampai tujuan kita mengarahkan pada kesengsaraan.

Read Full Post »

Older Posts »