Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Renungan’ Category

Image

Cahyadi Muharam

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu (Q.S. Al Baqarah: 45)

 

Seorang kawan datang pada pada penulis. Kemudian dia mengadukan segudang masalah yang ia hadapi. Ia memintaku untuk mencarikan solusinya. Maka saya jawab. “Bersabarlah”. Secara sinis dia menjawab “Klise banget jawaban téh!”

Suatu kata yang secara spontan sering kita lontarkan ketika menghadapi masalah atau cobaan kehidupan. Tapi sering juga kita merasa kurang bbersahabat dengan kata ini. Pernahkah terjadi pada anda, ketika suatu kemalangan menimpa, dan kita mengadukannya pada teman atau keluarga kita mereka hanya menyuruh kita”Bersabarlah…”. Apa persaan kita? Penulis pernah mengalami hal ini, dan merasa jengkel dengan tanggapan itu. Ingin rasanya berkata, bukan bersabar yang saya butuhkan, tapi solusi konkret agar lepas dari masalah. Pernah? Ya itulah kita. Risi dengan kata sabar.

Sebenarnya apa sih sabar itu? Apa hanya berdiam diri dan menerima segala yang terjadi? Karna itulah gambaran yang terbersit dalam diri kita ketika mendengar kata sabar. Atau mengusap dada sambil menggelengkan kepala melihal hal-hal yang menimpa? Itukah sabar? Bukan, itu adalah pasrah dan putus asa. Sabar tidak seperti itu.

Disaat kita membicarakan sabar, sesungguhnya kita sedang membicarakan sebagian dari agama kita. Coba kita cari ayat-ayat tentang sabar di Al-Qur’an, maka akan sangat banyak kita temukan di dalamnya. Dan yang lebih istimewa lagi, Allah selalu menyertakan sabar ketika menceritakan tentang nabi-nabinya di Al Qur’an.

Seluruh semesta alam ini tegak diatas kesabaran. Kesabaran disini adalah “kebertahapan” menjalani Sunatullah, aturan Allah. Pepohonan bersabar tumbuh dari sebutir biji kecil hingga menjadi pohon yang menjulang tinggi. Bertaham mencapai kedewasaannya walau diserang ulat, diterpa musim yang tak menentu. Matahari bersabar terbit setiap pagi. Memulai dari timur, terbit sedikit demi sedikit, tidak langsung berada di atas kepala. Air bersabar mengikuti siklusnya. Dari kedalaman samudra, diangkat ke langit. Kemudian dihempaskan dipegunungan. Diseret dalam aliran sungai, mengairi daratan, hingga akhirnya bermuara di lautan kembali. Seluruh alam tegak dalam kesabaran. Kesabaran member kuasa yang luar biasa kepada setiap mahkluk.

Seorang kawan berkata bahwa kesabaran itu adalah turunan dari cinta. Ia merupakan keserhanaan sikap dan keberpihakan pada kejujuran juga kebenaran. Itulah sabar. Kita akan bersikap sangat sabar ketika menghadapi suatu hal yang kita cintai. Dan akan selalu mengusahakan yang kita cintai tersebut diperlakukan dengan benar.

Misalnya seorang penghobi berat burung kicau akan sangat telaten merawat dan menjaga peliharaannya tersebut. Ia akan sangat selektif dalam segala hal, makanan, perawatan, obat-obatan, porsi latihan, sangkar, waktu bertanding, pembiakan, bahkan porsi waktu yang ia sediakan untuk peliharaannya itu terkadang lebih besar dari porsi waktu untuk keluarganya. Dan hasilnya, burung kesayangannya akan kerap menjuarai kejuaran kicau. Ini nyata. Itulah bentuk sabar, karna sabar adalah turunan dari cinta. Kita akan sabar bila kita cinta pada hal yang mendatangkan masalah.

Dari penjelasan diatas, dapat kita tarik dua hal, yakni sabar sebagai penenang hati dan kunci dari kesuksesan.

Obat Segala Penyakit

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

(Q.S Al Baqarah 155-157)

Pernah dengar cerita Nabi Ayub A.S.? seorang nabi yang diuji oleh penyakit yang sangat ganas dan menjijikan. Selama delapan puluh tahun beliau hidup bahagia, dan selama delapan belas tahun beliau diuji kesabaranya oleh Allah dengan panyakit. Namun beliau tetap bersabar. Menjalaninya dengan penuh kepasrahan dan tidak berputus asa. Tak pernah beliau mengeluhkan rasa sakitnya. Tak pernah menyalahkan Allah atau orang-orang sekitarnya yang meninggalkannya atas kemalangan yang beliau terima. Tak pernah pula terbersit dalam dirinya untuk meragukan kemampuan Allah menyembuhkannya. Ia percaya bahwa Allah hanya sedang mengujinya. Ia percaya Allah sedang mengajarkan kesabaran kepadanya. Dan setelah Allah merasa cukup akan kesabaran Nabi Ayub, beliau menyembuhkanya dan mengembalikan segala yang ia miliki dulu, bahkan dilipatgandakan.

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Q.S. Al Anbiya 83-84)

Mari kita belajar dari kisah Nabi Ayub A.S. ternyata kesabaran dalam kesakitan, kepahitan dan cobaan hidup itu bukanlah berpangku tangan. Berdiam diri. Tapi mengusahakan yang terbaik agar kehidupan kita menjadi lebih baik.

Ketika kita ditimpa kemalangan hidup, ingatlah, Allah tak akan pernah menimpakan kemalangan diatas kemampuan kita (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan). Maka kembalikan lah masalah tersebut pada Allah. Mintalah jalan keluar dari-Nya. Agar kita mendapat petunjuknya.

Ilustrasi sederhana adalah adalah seorang anak sekolah yang sedang melaksanakan ujian di sekolah. Maka soal yang diberikan akan sesuai dengan tingkat siswa tersebut. Dan siswa tersebut akan kesulitan menjawab soal, menggerutu terburu-buru, mengomel,  bila ia tidak membaca petunjuk pengerjaan soal yang diberikan guru pengajar. Namun bila ia membaca petunjuk pengerjaan, menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti pada guru penguji dan mengisi dengan sepenuh hati, maka ia akan lulus ujian dengan senang dan mudah. Hasil ujianya pun akan sangat bagus. Ia naik ke tingkat selanjutnya.

Begitu juga kehidupan kita. Ketika Allah sang Maha Guru menguji kita dengan masalah, maka kerjakanlah sesuai petunjuknya yang telah ada. Ban bila ada hal yang tak dimengerti, tanyakan lah pada-Nya agar kita mendapat petunjuknya. Ujiian kita pun akan menjadi gampang.

Nah itulah sabar. Melaksanakan Sunatullah secara bertahap, sesuai petunjuknya, tidak putus asa dan selalu optimis menghadapi masalah. Dan berserah diri pada hasil dari yang kita telah upayakan.

Mari kita coba. Insya Allah hati ini akan menjadi tenang. Ketenangan adalah kunci dari pengobatan segala penyakit, terutama penyakit hati.

Kunci Segala Masalah

“Ia yang memiliki kesabaran, dapat memiliki apa yang ia inginkan”

-Benjamin Franklin-

“Jika saya berhasil membuat suatu penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya disbanding dengan keahlian lain yang saya miliki”

-Sir Isaac Newton-

Bila kita perhatikan cerita tentang seorang pecinta burung kicau di muka tadi. Maka kita akan menemukan suatu pelajaran tentang makna kesabaran dalam menjani suatu hal. Kesabaran membuat sesorang dapat bertahan pada suatu kondisi paling sulit dengan tekanan besar, tapi ia tetap bertahan  di dalamnya. Satu hal yang menjadi kunci, cinta. Ketika kita mencintai suatu hal, apapun akan kita lakukan untuk hal tersebut.

Pernah kita membaca biografi orang-orang sukses? Chairul Tanjung, Jusuf Kalla, Bill Gate, B.J. Habiebie, pendiri BCA, pendiri raksasa internet Google atau yang sedang ramai dibicarakan orang, pendiri Aplle. Bagaimana mereka merintis karir? Apakah langsung sukses dan kaya seperti sekarang?

Coba baca lah, satu tokoh saja. Apa yang anda temukan? Kebanyakan orang berfikir mereka semua itu sukses karena bakat yang mereka miliki masing-masing. Bakat lah yang mereka “Kambing Hitamkan” seakan mereka dilahirkan dengan keistimewaan yang tidak tuhan berikan pada orang lain. Benarkah hanya bakat?

Bila kita sedikit teliti maka yang kita dapatkan adalah pelajaran tentang kesabaran. Mereka merintis segala usahanya dari nol. Merintis karir bukan tanpa ganguan dan halangan. Puluhan bahkan ratusan kali kegagalan, kekecewaan dalam merintis karir tersebut. Tapi mereka selalu bangkit dari keterpurukan dengan semangat baru. Itulah kunci sukses mereka. Keuletan menghadapi segala rintangan hidup. Hingga menjadi orang sukses yang karyanya sanngat fenomenal dan bermanfaat bagi kita kini.

Buah kesabaran adalah kesuksesan. Para Nabi sukses dalam da’wahnya karena kesabaran mereka. Para pengusaha sukses dalam usahanya karena kesabaran pula. Tak ada satu pun masalah yang tak dapat dipecahkan bila dihadapi dengan kesabaran. Kesungguhan menghadapinya, mengerahkan segala potensi diri dan berpasrah akan hasil dari ikhtiar itu hanya pada Allah.

Sebuah kata bijak berkata “Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah tidak berkerja. Hanya melakukan apa yang kita senanggi dan yakini. Saat kita bekerja, ketika mendapat ujian kita akan merasa berat. Tapi saat kita melakukan apa yang kita senangi maka setiap masalah kita akan hadapi dengan solusi yang lebih banyak.”

Lalu seorang teman berkata, maka dari itu saya saat ini tidak bekerja. Saya hanya melakukan hobi saya, MENGAJAR. Karna saya cinta ilmu, mengajar, dan berda’wah. Maka ia sangat semangat melaksanakannya. Dan orangpun berani bayar mahal agar dia mau melakukan hobinya itu. Dia tak merasa terbebani dan sukses saat ini sebagai pengajar yang handal.

“Kesabaran adalah perlindungan dari dari kesalahan, sama halnya dengan pakaian yang melindungi anda dari rasa dingin. Jika anda menggunakan lebih banyak baju ketika udara semakin dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh terhadap anda. Jika anda menumbuhkan kesabaran dalam diri anda ketika anda melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berpengaruh pada diri anda”

-Leonardo Da Vinci-

Sampailah kita pada poin kesimpulan. Kesabaran itu ternyata bukan berpasrah diri dengan berpangku tangan. Tapi keserhanaan sikap yang dilandasi oleh cinta, kebenaran, dan kejujuran. Dimana dia selalu mengejar dan berorientasi pada keuletan, optimisme dan berserah pada hasil dari usaha yang maksimal.

Kesabaran akan timbul bila kita mencinta hal-hal yang menimbulkan masalah. Bila masalah itu timbul dari pekerjaan, maka cintailah pekerjaan kita. Maka solusi dan jalan kesaban pun akan datang. Bila masalah tersebut berasal dari keadaan kesehatan kita. Maka cintailah diri kita. Perlakukan diri kita dengan istimewa. Jangan memaksakan diri kita dengan hal-hal yang memperburuk keadaanya, dan patuhi aturan pengobatan yang ada. Bila masalah itu timul dari pasangan kita, cintailah dia sepenuh hati. Maka kita akan mengerti akan segala hala yang ia butuhkan. Masalah pun akan segera tereduksi.

Dan yang paling utama, cintailah Yang Maha Sabar, Allah Aza Wa Zalla. Tuhan yang maha menggenggam segala hal. Bila kita mencintai-Nya. Bukan mustahil –Ia akan menurunkan kesabaranya kepada hati kita.

Maka pupuk lah sikap sabar tersebut dalam diri anda.

“Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun otot.setiap hari anda harus mengusahakannya”

Eknath Easwaran-

Iklan

Read Full Post »

Do’a Kesederhanaan Cinta

rabithah

Cinta adalah anugrah dari-Mu

Maka jagalah cinta ini ya Rabb

Jangan jadikan cintaku semurni embun

Karena embun akan hilang seiring fajar

Jadikanlah cintaku semurni madu

Karna madu tak pernah lekang oleh waktu, slalu berasa manis

Jangan jadikan cintaku seputih salju

Karena salju membekukan segalanya

Banyak nyawa yang hilang ditengah salju

Jadikanlah cintaku seputih kapas

Yang menawarkan kehangatan dan kelembutan

Penawar dalam setiap kelelahan

Jangan jadikan sebening permata

Karna permata harus dipotong dan dilukai untuk berkilau

Lambang kebangaan diri dan kesempurnaaan yang tak terperi

Jadikanlah cintaku sebening mata air pegunungan

Yang bening dari saat keluar, memberi kesejukan dan kehidupan

Tak ragu untuk menjadi keruh dan menuruni bukit terjal

Lambang pengorbanan dan perjuangan

Jangan jadikan cintaku seharum mawar

Karna mawar punya duri dibalik harumnya

Jadikanlah cintaku seharum melati

Yang setia disaat kebahagiaan pernikahan

Dan setia dalam kesedihan kematian

Jangan jadikan cintaku seluas samudra

Karena banyak kesesatan dan misteri dalam luasnya samudra

Jadikanlah cintaku sesempit liang lahat

Yang hanya cukup diisi satu makhluk dan Khaliq-Nya

Jangan jadikan cintaku semembara api

Yang membakar segalanya

Jadikanlah sehangat mentari pagi

Yang selalu hadir dengan harapan baru

Jadikanlah cintaku sederhana

Cinta yang tulus

Cinta pada-Mu ya Rabb,

Berikanlah cinta yang suci, pada Rasul-Mu ya Allah

Cinta yang menjaga dan member kadamaian.

Read Full Post »

Image

(Cahyadi Muharam)

Suatu hari saya pernah mengobrol dengan kawan wanita semasa kuliah. “Kang, kriteria suami saya mah harus 5S.” Katanya. “5S? Emang apa saja?” Jawab saya. “ Soleh, Smart, Sugih, Satia dan Sabar.” Katanya ditutup tawa.

Pernah terlibat obrolan seperti itu? Saya yakin setiap kita punya kriteria sendiri dalam menentukan pasangan hidup. Termasuk saya sendiri. Ya saya punya kriteria tersendiri. Tap kali ini kita tak akan membahas kriteria saya, lebih baik kita bahas kriteria yang teman saya ajukan tadi, yang saya yakin hampir semua orang setuju kriteria diatas adalah idealisme yang sangat baik.

Penasaran dengan kriteria diatas, kemudian saya membuka berbagai referensi untuk menemukan hakikat dari setiap kriteria. Dan inilah hasilnya:

  1. Soleh

Mendengar kata soleh mungkin bayangan kita akan melayang ke kawasan pasantren. Dimana ada kiayi dengan serban yang berjuntai, atau para santri/ santri wati yang selalu menenteng kitab/ Qur’an kemanapun mereka pergi. Begitukah yang soleh? Kalau hanya mereka yang soleh, maka kasihan orang yang tak pernah masuk pesantren, karna mereka tak layak dijadikan calon jodoh.

Tak sepenuhnya benar dan tak salah pula itu lah gambaran soleh. Tapi soleh yang sesungguhnya adalah mukmin yang paling baik. Tahukah kita siapa mukmin yang paling baik? Rasulullah bersabda; “Mukmin yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhari Muslim). Lebih jauh Nabi SAW. bersabda: “ Seorang muslim adalah orang yang kaum muslim lainya selamat dari lisan dan tangannya.” (H.R. Bukhari dan Abu Daud). Mukmin, jadi bukan yang rajin qiamullail, baca qur’annya paling baik. Bukan merendahkan hal itu, tapi maksudnya belumlah sempurna ke-mukmin-an seseorang bila dia belum menjadi rahmat bagi lingkungannya.

Satu hal lagi yang harus kita garis bawahi, criteria soleh ini jadi dasar kelayakan seseorang kita nikah. Rasullulah pernah bersabda yang artinya “Nikahilah laki-laki atau wanita diantara karena agamanya” Jadi  kalau tidak beragama/ soleh sebisa mungkin tidak kita dekati secara spesial untuk tujuan lebih serius.

Singkatnya, perjuangkanlah seseorang untuk kita nikahi segigih perjuangan dirinya memegang agama Allah.

Jagalah perasaan dan niat baik kepadanya sekuat dia menjaga solatnya. Pelihara lah kasih sayang kepadanya sebagai mana dia memelihara orang duafa dan lingkungan sekitarnya. Kautkan do’mu untuknya sekuat do’a nya dan sekuat puasa nya.

Jelaslah kini,jadi orang soleh itu adalah muslim yang tidak menjadi ancaman bagi orang lain, menjadi manfaat bagi orang banyak dan tentunya taat dalam ritual ibadah karna itu adalah kewajiban dan kebutuhannya. Sudahkah kita?

2. Smart (Cerdas)

Apakah kita menganggap Albert Eistein pintar? Ya dia memang pintar. Apa B.J. Habiebie pintar? Ya dia memang pintar. Apakah kita pintar? Bila dibandingkan dua tokoh tadi mungkin belum. Jadi? Kita tak layak dijadikan calon jodoh yang baik karena tak pintar?

Ternyata orang pintar bukanlah orang yang IQ nya jenius, atau IP nya cum laude, menjadi mahasiswa atau siswa berprestasi. Bukan. Karna penjahat negri ini lebih banyak dari golongan orang pintar macam itu.

Imam Al Ghazali dalam Ikhya Umulludin menerangkan bahwa orang yang pintar itu adalah yang berilmu. Dan orang berilmu adalah orang yang berakhlak. Jadi makin berilmu seseorang, makin indahlah akhlaqnya.

Terus apakah itu pintar, saya lebih suka menggunakan kata cerdas. Pintar adalah suatu sikap dan karakter. Sikap dimana dia bisa mengambil keputusan disaat yang tepat dengan keputusan yang bijak dan karakter dimana dia pintar menempatkan diri pada posisi dimana dia dibutuhkan dan dapat memberikan kontribusi secara maksimal. Itulah cerdas

3. Sugih (kaya)

Jangan bayangkan Bill Gate atau Sultan Bruney dalam hal kekayaan, karna bila mereka standar dari kaya, hanya ada segelintir orang yang layak dinikahi. Kaya itu ternyata tak bisa lepas dari materi. Tapi orang kaya bukanlah orang yang rajin ganti-ganti gadget, antar jemput mobil pribadi, rumah mewah dan paket liburan wisata ke luar negri. Bukan. Banyak orang yang gagal rumah tangganya karena hal tersbut.

Nabi SAW bersabda: ”Setiap umat Nabi memiliki fitnahnya. Dan fitnah umatku adalah harta”. Jadi harta dunya bagi muslim adalah fitnah yang dapat mencelakakan. Lantas apa yang dimaksud kaya dalam hal ini?

Kaya dalam hal ini adalah orang yang selalu bisa memberi disaat dia sendiri kesulitan dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang yang dia sayangi. Senangkah kita bila diperlakukan istimewa oleh orang yang kita sayangi? Karna orang kaya hatinya, akan berusaha memeberi kita yang terbaik yang ia mampu untuk kita. Bahagianya..

4.  Satia (setia)

Inilah penyebab paling besar pecahnya suatu bahtera rumah tangga. Tercatat lebih dari setengah kasus perceraian disebabkan oleh perselingkuhan, ketidak setiaan, mendua hati, atau apapun namanya. Jadi, jika mau menghindari perceraian, jadilah orang setia.

Orang setia bukanlah orang yang senantiasa ada disamping kita, mengantar kita kemanapun kita pergi, selalu menghubungi kita setiap menit. Orang setia adalah orang yang masih mencintai kita disaat hatinya suka pada yang lain. Orang setia adalah orang yang bisa membedakan mana yang pokok dan mana yang penggoda.

Penggoda dari lawan jenis ini pasti ada. Sudah ada ketentuanya. Akan datang godaan pada kita dalam tiga bentuk, yaitu harta, tahta dan wanita (lawan jenis). Jadi rasa “seperti” mencintai yang kedua pasti akan ada, hanya pertanyaannya akankah kita terlena dan melupakan yang utama?

5.  Sabar

Nasihat standar setiap kita menemui masalah. “Sing sabar!” seakan sabar itu adalah pasrah, nerimo, dan tak melakukan apapun kecuali menerima takdir. Itu kah sabar? Bukan, itu putus asa.

Orang muslim yang baik dikatakan akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika mendapat kesulitan. Dari keterangan tersebut jelas bahwa sabar memang identik dengan kemalangan. Tapi bukan sikap diam menerima kemalangan atau perlakuan buruk. Rasulullah adalah potret sabar. Beliau menerima segala kepahitan hidup dan cobaan. Tapi bukan berarti beliau berdiam diri menerimanya. Banyak kisah yang menceritakan Rasulullah selalu berusaha dengan gigih dalam setiap kesulitannya.

Sabar adalah suatu sikap yang gentleman. Berani mengambil resiko dan hasil terburuk juga hikmah dari setiap peristiwa. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf duluan, dan yang terberat, memaafkan kesalahan orang yang menyakiti kita. Sabar adalah berusaha sekuat tenaga memperbaiki keadaan yang tidak benar utuk kembali baik. Sabar itu adalah selalu menghendaki kebenaran dan kejujuran. Itulah sabar.

Itulah kriteria jodoh yang baik untuk kita. Seseorang rang orang lain merasa aman berada di dekatnya, selalu tahu cara bersikap dan menempatkan diri, mengusahakan yang terbaik bagi yang ia sayangi, hanya memegang janji pada satu hati dan selalu terbuka juga berani mengakui kesalahan. Setiap kita pasti setuju, kriteria tersebut ingin kita dapatkan dari pasangan kita kelak. Tapi ingat satu hal, wanita baik hanya untuk lelaki baik.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)

(Q.S. An Nur 26)

Menyinggung kriteria jodoh, mau kah tahu kriteriaku? Kriteria untuk calon jodohku sederhana. Ialah seorang wanita yang “Mau Menjadi Bagian dari Diriku”. Maksudnya, dia mau menjadi ibu bagi anak-anaku kelak yang bisa membimbing mereka menjadi anak soleh. Mau menjadi kakak bagi adik-adiku dan menjadi teladan bagi mereka. Dan mau menjadi anak bagi orang tuaku dan berbakti kepada mereka. Mau jadi isri yang baik, menerima suami apa adanya dan tak ragu mengingatkan bila suami salah langkah. Bila hal tersebut bisa dipenuhi, maka saya pun sekuat tenaga akan melakukan hal serupa padanya.

 Karena wanita baik hanya untuk laki-laki baik.

Read Full Post »

Image(Cahyadi Muharam)

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)

(Q.S. An Nur 26)

.Kutipan ayat di atas adalah suatu pembelaan atas kesucian Siti Aishah r.a. dan Shafwan ketika terjadi peristiwa tertinggalnya Siti Aishah r.a. dari rombongan dan ditolong oleh Shafwan. Namun bukan kisah itu yang akan kita bahas, tapi pendahuluan ayat sebelumnya yang akan kita soroti.

Dari ayat tersebut, jelas tersirat bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaanya. Orang keji hanya berjodoh dengan yang keji pula dan sebaliknya. Jadi, jodoh kita adalah gambaran diri kita. Ingin seperti apa jodoh kita kelak, maka jadi seperti itulah kita.

 

 Pernikahan dan jodoh adalah pilihan

Nabi SAW. Bersabda “Menikah adalah sunatku. Dan barang siapa yang tidak menyukai sunatku maka tidak termasuk umatku.”

Hadist di atas terasa kontradiksi bila kita sandingkan dengan dalil dalam Al-Qur’an berikut:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum 21)

Di keterangan pertama disebutkan bahwa ada golongan manusia yang tidak suka akan penikahan, sedangkan di keterangan kedua disebutkan bahwa setiap manusia diciptakan berpasangan. Jadi mana yang benar?

Kedua keterangan tersebut adalah benar, dan kita yakini kebenarannya. Kunci yang dapat mempertemukan kedua keterangan tersebut adalah kita. Umat Nabi.

Mengapa kita? Ya, tentu kita. Ternyata disinilah Allah menunjukan Ke-Maha Adilan-Nya dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, mengapa kita yang menjadi kunci jawaban dari keterangan jodoh diatas, mari cermati cerita di bawah ini.

Pertama, menurut kita siapakah jodoh Nabi Muhammad SAW? Siti Khadijah r.a., Siti Aishah r.a., atau seluruh istri-istrinya? Lalu siapakah jodoh Nabi Ibrahim As.? Siti Hajar atau Siti Sarah? Atau pertanyaan ke-kini-an, kalau ada orang poligami, siapakah jodohnya? Isti pertama atau istri selanjutnya? Lain lagi ceritanya bila bila kita melihat orang yang kawin cerai hingga berkali-kali (Ingat cerita Nunung OVJ/ bukan maksud bergibah hanya untuk contoh) maka siapakah jodohnya? Yang pertama atau yang terakhir? Bingung? Ya memang begitu lah.

Kedua, saya pernah melihat sendiri seorang wanita muslimah yang diusianya saat itu lebih dari usia Nabi ketika melaksanakan haji wada’. Namun anehnya beliau belum pernah menikah. Apakah dia miskin atau tidak pintar? Tidak. Beliau lulusan luar negri dan pimpinan sebuah yayasan pendidikan tingkat provinsi yang mengelola beberapa sekolah ternama dan bertataf internasional. Beliau juga aktifis diberbagai organisasi sosial politik. Karirnya mentereng. Tapi, tidak menikah. Apakah Allah tidak menciptakan pasangan untuknya? Bagaimana dengan surah Ar-Ruum ayat 21 tadi?

Dari dua kisah tadi kita bisa menarik dua kesimpulan, ternyata jodoh kita itu bisa saja lebih dari satu atau ada orang lain yang Allah hadirkan dulu ke dalam hidup kita sebelum bertemu dengan jodoh kita yang hakiki, dan bisa juga kita tidak dipertemukan dengan jodoh kita karena suatu hal. Mari kita bahas satu demi satu.

Allah itu maha Adil dan Mengetahui kadar setiap orang. Memang benar jodoh kita sudah tercatat sebelum kita lahir, tapi untuk mendapatkanya kita perlu memperjuangkanya. Bila diibaratkan jodoh kita adalah mobil yang akan kita dapatkan, maka setiap kita telah memesan mobil tersebut tapi tergadai kepada dealer (Allah pemilik setiap mahluk). Bila modal (kadar keimanan) kita masih kurang untuk menebus mobil tersebut, maka dealer akan menyerankan kita “naik angkutan umum” (pengantar sementara) yang sudah tentu sesuai dengan modal kita dan hanya akan mengantar kita hingga kita cukup modal atau kehabisan modal untuk menebus mobil kita.

Dan bagaimana nasib mobil kita? Apakah dia akan terlantar? Allah Maha Adil, Allah akan meminjamkanya pada orang mampu menebusnya sampai anda sanggup menebusnya atau agar dia siap untuk anda. Anda pun mungkin bisa menjadi perantara seperti ini, karna mungkin modal anda hanya cukup untuk menebus mobil yang lebih sederhana dari yang disiapkan untuk anda, maka anada akan mendapatkanya. Seperti halnya Khadijah r.a yang harus menikah dahulu sebelum bertemu Rasulullah SAW. agar beliau memiliki sifat keibuan dan kasih sayang untuk mendapat pendamping terbaik setelahnya yang mengantarnya pada tujuan yang hakiki.

Jadi, jodoh kita tergantung modal (keimanan) kita pada Allah. Orang beriman akan Allah pertemukan dengan yang beriman pula, oaring setia untuk yang setia, orang sabar untuk yang sabar, orang dermawan untuk yang dermawan. Mau sepeti apa jodoh kita? Tinggal tanya seberapa besar modal kita untuk menebus jodoh kita tersebut.

Untuk kasus kedua, Allah tak akan menimpakan sesuatu ujian diluar kemampuan hamba-Nya. Bila seseorang tak siap menerima jodohnya, maka Allah pun tak akan memaksakanya. Bila seseorang lebih senang berjalan kaki daripada naik angkot atau punya mobil sendiri yang bisa mengantar ke tempat tujuan padahal dia telah disebiakan sebuah kendaraan sendiri, maka tak ada kuasa kita memaksanya. Hanya dia sendiri yang kuasa merubah ketetapan niatnya.

Ada beberapa cuplikan kisah yang terjadi belum lama ini. Ada yang tentang adikku, yang telah serius untuk menatap jenjang pernikahan, tapi niatnya kandas karena mungkin modal nya belum cukup. Atau seorang teman yang telah bertahun-tahun naik angkot dan terpakasa turun karena angkotnya berbelok tidak pada jurusan yang dia tuju.

Ya, adiku sendiri yang mantap menatap jenjang pernikahan. Calonya adalah seorang aktifis patrai politik yang juga seorang imam masjid di daerahnya. Telah lama menjalin silaturahmi dan berjanji nematap jenjang keseriusan yang sesungguhnya. Tapi apa yang terjadi? Ketika sang pujaan melakasanakan kegiatan di suatu daerah, dia dipertemukan dengan wanita lain. Tak sampai disana ternyata kisah mereka berlanjut dan hancurlah semua rencana adiku. Lihatlah bagai mana mudahnya bagi Allah untuk menjadikan hal tersebut.

Temanku bercerita, dia baru saja ditinggal pangerannya yang menjadi tautan hatinya sejak dari SMA. Sejak SMA! Ya, sudah sangat lama. Tapi lihat, begitu gampang Allah membalikan keadaannya. Kandas dalam hanya beberapa hari.

Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabnya sudah kita tahu, modal mereka tak imbang. Salah satu dari mereka terlalu mulia bagi yang lain. Sehingga Allah pun sayang bila orang mulia tersebut harus berlama-lama jadi angkot bagi yang lain. Maka dari itu maka Allah menunjukan calaon baru pada yang Dia kehendaki sebagai tanda sayangnya pada orang yang Dia muliakan itu. Allah seperti berbisik pada kita, inilah yang pas dengan modal (kadar keimanan mu) saat ini.

Nasihatku kala itu:

Bila kita tak dapat meraih MERAK atau CENDRAWASIH.

Karna diri kita hanya seekor PIPIT hina.

Jangan lah berkecil hati dan berburu-buru mencari PIPIT atau GELATIK sebagai penggantinya, walau hanya itu yang pantas bagi kita

Belajarlah…

Walau tak jadi MERAK, paling tidak kita bisa jadi MERPATI.

Karana MERPATI tak pernah ingkar janji

Dia hanya akan kembali pada sarang dimana dia pergi

Dan dia selamanya hanya akan setia pada satu hati.

Pernah seorang yang patah hati melakukan istiharah untuk melihat siapakah jodohnya. Apakah masih mantannya atau tidak? Dan apa yang terjadi? Gambaran yang ia terima saat itu adalah orang yang sedang dekat dengan dia. Karena ya itulah kadar hatinya saat itu. Allah memberinya perasaan cinta pada orang yang sesuai kadar hatinya saat itu.

Satu hal lagi yang sering terlupa. Ternyata syaitan punya andil besar dalam hal rasa dalam hati manusia. Ingatkah kita alasan Adam diusir dari surga? Ya, karena godaan Iblis yang dibisikan pada orang yang paling dicintainya, Hawa. Karena cinta. Dosa manusia pertama, kisah Habil dan Qabil pun karna bisikan Syaitan lewat bisikan atas  nama cinta. Subhanallah..

Lengkaplah semua mozaik kita tentang hal ini. Ternyata jodoh kita adalah sesuai dengan yang kita inginkan, yang kita perjuangkan dan sesuai kadar diri kita.

Inginkah kita memiliki pasangan semulia Siti Khadijah r.a.? Maka, jadilah semulia Muhammad SAW. dan begitu pula sebaliknya.

Inginkah kita memiliki pasangan setabah Siti Hajar r.a? maka, jadilah setaqwa Ibrahim A.S. dan begitu pula sebaliknya

Pernahkah kita membayangkan pasangan yang rupawan seperti Julaikha? Maka jadilah orang yang menjaga harga diri layaknya Yusuf A.S.

Atau kita ingin memiliki pasangan setaqwa Maryam? Jadilah setulus Nabi Isa A.S. sang putra tercinta.

Sebuah nasihat pernikahan yang saya lihat di belakang surat undangan pernikahan seorang teman berbunyi:

Suami yang menikahimu tidaklah semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Nabi Ibrahim A.S., pun tidaklah setabah Nabi Ayub. Wanita yang kamu nikahi tak semulia Khadijah, tidak setabah Siti Hajar. Tapi kalian lah dua insane  yang punya cita-cita membangun keturunan yang shaleh. Pernikahan mengajarkan kita kewajiban. Suami adalah nahkoda perahu, dan istri adalah navigatornya. Suami adalah rumah yang member kedamaian dan perlindaungan, istri adalah penghuninya yang merawat dan menyemai keindahan rumah tersebut. Suami adalah guru dan istri adalah muridnya. Seandainya suami lupa, bersabarlah istri dalam mengingatkanya. Seandainya istri adalah tulang rusuk yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya.

Mari cermati nasihat tersebut, maka kita akan sampai pada suatu simpulan, “siapa jodoh kita, kita yang pilih. Karena wanita baik hanya untuk lelaki baik”

Read Full Post »

 

Image

Rasulullah bersabda: “Ujilah sahabatmu dengan tiga hal: pada waktu marah, perhatikan apa marahnya tidak mengeluarkanya dari kebaikan pada kebatilan, pada urusan keuangan, dan pada perjalanan bersamanya.” (Hadist)

Kawan, apakah follower twitter kita telah sangat banyak? Dan apakah teman di list FB kita juga membludak? Kalau saya suguhkan satu pertanyaan dari sekian banyak orang yang kita kenal, berapa orang kah yang teman kita? Kemudian berapa orang kah yang merupakan sahabat kita? Berapa orang sahabat sejati kita? Tak usah heran, mungkin sebagian besar menjawab pertanyaan terakhir ini hanya denagn hitungan sebelah jari tangan saja. Atau bahkan hanya ada satu saja. Ya Cuma satu sahabat sejati.

 Kawan, mari kita resapi hadist diatas. Rasulullah menegaskan bahwa orang yang layank disebut sahabat itu haruslah punya tiga kriteria atau lulus tiga kriteria. Mari kita bahas satu persatu, ban mari kita cocokan diri kita atau sahabat kita dengan kriteria tersebut.

 

Pertama, pada waktu marah namun kemarahanya tidak membuat dia keluar dari kebaikan.

Sahabat yang setia tak mungkin marah bila kita menggangunya, meminta pertolongan, atau melukainya. Dia hanya akan marah manakala kita salah dalam melakukan kebenaran. Nah apakah sahabat kita yang kita akrabi akan marah bila dia “misal” sedang asik dengan kegemaranya kemudian kita memintanya membantu hal sepele padanya. Marahkah dia? Atau saat dia mendapat kesulitan, kita mengganggunya karena tak tahu dia sedang sulit. Marahkah dia? Atau hanya akan menjelaskan keadaan?

Kawan, sahabat sejati kita bukanorang yang tak bisa marah atau tak bisa ngomel. Bahkan mungkin dia lah yang paling banyak ngomel dan marah pada kita. Sahabat sejati adalah orang yang memarahi dan mengomeli kita disaat kita melakukan kesalahan. Mereka tak mau kita melakuakn kesalahan dala bertindak dan berucap dan mereka tak mau kita melakukan hal bodoh yang hanya akan menyusahkan atau mencelakakan diri kita sendiri.

Dan kemarahan sahabat tersebut tidak akan membuatnya melakukan hal-hal buruk atau keburukan. Misalkan karena kemarahanya pada kita kemudian dia menjadi mendendam pada kita, atau melakuakn tindakan fisik yang merugikan kita. Kemarahanya hanya ekspresi ketidak setujuanya atas tindakan kita. Setelah itu, sudah. Dia akan kembali merangkul kita, menunjukan jalan yang terbaik untuk kita.

Kedua dia akan baik mengurus harta

Rsulullah bersabda: ”setiap umat memiliki fitnahnya, dan fitnah umatku adalah harta.”

Mengurus harta di sini bukan maksudnya mengurus hartanya sendiri, tapi bagaimana dia mengelola hartanya, dan menghargai segala yang ada di sekelilingnya. Termasuk sahabatnya. Salah satu harta terbesar seorang sahabat adalah sahabat terbaiknya.

Pernahkah kita membaca kisah Rasulullah denmgan para sahabatnya. Bagaimana para sahabat sangat memuliakan Rasulullah dan Rasulullah memuliakan sahabatnya. Parnah suatu ketika di perjalanan Rasulullah dan sahabatnya beristirahat. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk memotong seekor kambing untuk mereka santap bersama. Maka para sahabat pun menawarkan diri. Saya yang akan memotong kambing ini ya Rasulullah, saya yang akan membersihkanya dan memotong-motongnya, saya yang akan memasaknya kata sahabat yang lain. Rasulullah pun dengan cepat mengatakan “kalau begitu biar saya yang mengumpulkan kayu bakarnya”. Para sahabat melarangnya. Dan Rasulullah berkata “Saya tahu kalian akan melarangku. Tapi seorang sahabat tak harus diistimewakan dari yang lain.” Subhanalalah.

Sahabat kita adalah orang yang mampu mengurus hartanya, memuliakan sahabatnya dan menjadi sandaran badi kita disaat kta butuh, bahkan tanpa perlu kita berbicara padanya kita membutuhkanya.

Ketiga dalam perjalanan bersamanya

Bukan perjalanan dalam kendaraaan bersamanya. Tapi perjalanan mengarungi kehidupan. Dia akan selalu mendampingimu, di sisimu saat tikungan, tanjakan atau turunan. Seorang sahabat sahabat akan selalu mendengarkan keluh kesah kehidupan mu. Mengiringinya dan ingin tahu. Bukan karena “kepo” tapi untuk memastikan kita melakukan dan diperlakukan dengan baik.

Seorang sahabat akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat saat kita beruntung dengan ikhlas tanpa ada kecemburuan, dan jadi orang pertama yang akan mengingatkan bila kita akan melangkah pada jalur yang salah. Tanpa bermaksud merendahkan dan mencela.

Sahabat lah orangyang melindungi kta saat kita lemah. Mendukung kita saat kita ingi bangkit dan mungkin jadi orang yang paling sibuk saat kita punya rencana.

Bersahabat dengan lawan jenis

Bersahabat dengan lawan jenis sesungguhnya akan sama saja. Hanya pola hubunganya saja yang berbeda. Menjaga hijab adalah landasan utamanya.

Hal yang berbeda dari sahabat lawan jenis adalah terkadang diakhiri dengan Cinta.

Persahabatan kadang diakhiri dengan cinta, namun Cinta tak selalu dapat berakhir dengan persahabatan

Sahabat yang baik akan memilih persahabatan daripada Cinta. Bukan karena tak mengharap lebih, tapi lebih karena takut mengotori arti persahabatan itu sendiri.

Sungguh bahagia bila jodoh kita adalah sahabat kita atau jodoh kita bisa menjadi sahabat kita. Karena dia akan menjadi orang yang paling mengerti keadaan dan kebutuhan kita.

Read Full Post »

(Cahyadi Muharam)

quran_wallpaper_2-1024x768

Pernahkan kita bimbang, galau dan merasa bingung mengenai masa depan kita? Sebagaian besar dari kita akan berseru “Ya!!” Karena kebimbangan adalah bagian dari misteri Allah tentang takdirnya. Wajar bila kita bimbang.

Sahabatku, ini merupakan pengalaman penulis. Disaat penulis bimbang, maka salah satu pelarinya adalah Istikharah. Mungkin sahabat juga sama. Namun pernahkah sahabat Istikharah dengan Al Qur’an? Tidak hanya dengan shalat? Ya, dengan Qur’an. Bagaimana kah caranya? Dan apa kelebihanya?

Ketika penulis masih duduk di kelas XII SMA di salah satu SMA ternama, pernah datang undangan PMDK (jalur masuk perguruan tinggi tanpa tes) dari berbagai perguruan tinggi (PT) baik negri favorit atau swasta unggulan. Penulis, yang kebetulan menempati posisi tiga besar di kelas, dan beberapa teman lainnya ditawari untuk memilih salah satu. Kebimbangan pun datang. Sebelum memilih kami disuruh mempersiapkan segala kelengkapan yang dibutuhkan. Dalam hal ini penulis tertinggal oleh teman yang lain karena permasalahan persuratan di daerah asal. Seorang teman sekelas, yang sebelumnya telah dinyatakan diterima PMDK jurusan kedokteran di PT Swasta, sudah terlebih dahulu siap persyaratannya. Dia mendaftar kembali untuk PMDK pada PT Negri terbesar di Jogja yang menjadi incaran penulis, dan jurusan yang dia ambil adalah kedokteran juga. Tertutup lah peluang penulis untuk mendaftar PMDK ke PT tersebut karena kuota nya telah mencukupi. Apa yang terjadi? Kegalauan yang teramat sangat. Teman-teman yang, maaf, peringkatnya dibawah penulis telah mendapat kepastian diterima diberbagai PT.

Saat itu kemudian penulis mengambil air wudhu dan shalat istiharah. Dalam do’a penulis mengharap jalan terbaik dari Allah. Ada sedikit kecemburuan pada do’a saat itu. Maka penulis berdo’a agar penulis diterima di PT dengan klasifikasi yang dapat membuat seluruh rekan-rekan terutama yang telah menyakitkan hari menjadi iri melihatnya. Dengan kekhusuan penulis membuka Qur’an secara acak. Kemudian membaca ayat Qur’an tersebut beberapa ayat. Setelah itu dibacalah artinya. Dan tahu kah, apa arti ayat yang dibaca oleh penulis saat itu? “Apa yang kamu anggap baik, belum tentu baik menurut Allah.” (Surat dan ayatnya bisa dicari sendiri).  Ya. Allah menjawab do’aku lewat bahasa-Nya sendiri. Lewat Qur’an!  Sejak saat itu penulis yakin akan ada yang lebih baik.

Satu minggu setelah kejadian tersebut, datang kembali undangan PMDK, dan tidak main-main dari PT terbesar di Indonesia yang berada di daerah Depok. Penulis yang persyaratan PMDK nya telah siap dan belum PMDK kemanapun menjadi prioritas sekolah. Dan hasilnya, penulis diterima pada Fakultas tehnik jurusan Informatika sistem dual degree, yaitu kuliah 2 tahun di PT bersangkutan dan 2 tahun selanjutnya pilihan melanjutkan boleh di Malaysia, India, Australia, atau UK. Luar biasa.! Inilah jawaban Allah.

Rasa bangga memang pernah ada. Tapi apa cukup? Ternyata tidak juga. Kesulitan ekonomi keluarga memaksa penulis menunda peluang kuliah bergengsi yang sudah ditangan. PMDK memiliki sistem pendaftaran lebih awal sehingga biaya un harus diawal. Ini lah yang memberatkan. Kembali kebimbangan menyelimuti. Apa yang penulis lakukan? Kembali istikharah yang menjadi teman. Penulis kembali berdo’a meminta yang terbaik, dan dilanjutkan membaca beberapa ayat Qu’an secara acak dan membaca artinya. Dan apa jawaban Allah saat itu? “Allah lah yang Maha Mengetahui kadar setiap orang”. Kemudian dibuka lagi secara acak dan Allah pun kembali menjawab. “Bersabarlah. Allah bersaman dengan orang sabar.” Ya kembali Allah menjawab kegelisahan penulis secara kontan.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Penulis kembali pada trek berjuang menembus perguruan tinggi yang dicita-citakan, yakni sebuah PT tempat presiden pertama dan ketiga berkuliah dahulu. Sempat gagal dalam Ujian Mandiri, kembali mencoba dalam SNMPTN. Kali ini mengambil IPC dengan 3 pilihan. Pilihan pertama dan kedua pada PT yang dicita-citakan dan pilihanm ke tiga di kampus dekat rumah. Dan apa yang terjadi? Ternyata yang diterima adalah pilihan ketiga. Universitas Payuneun Imah. Hancur sudah semua impian yang sewaktu SMA dibangun. Dan kembali, istikharah yang menjadi teman. Kubuka kembali Qur’an secara acak, dibaca beberapa ayat kemudian diresapi artinya. Dan apa yang saat itu penulis baca berisi tentang “Allah itu Maha Dekat. Berdo’alah, maka Allah akan mengabulkanya.” Penulis pun teringat do’a khusu dahulu yang penulis panjatkan. “Ya Allah tempatkan aku di Perguruan Tinggi-Mu yang membuat seluruh teman-temanku iri akannya.” Ya itu lah do’aku dahulu. Dan ayat yang penulis baca adalah jawaban kalau do’a dahulu dikabulkan.

Apakah sahabat bingung mengapa disebut Allah mengabulkan do’a penulis? Inilah penjelasanya. PT yang berada dekat rumah itu adalah pecahan IKIP terbesar, itu artinya PT yang konsen dalam pendidikan dan penghasil guru-guru berkualitas. Jadi profesi setelah lulus dari PT tersebut adalah seorang pengajar. Mari kita hubungan hal tersebut dengan hadist Rasul. Dari seorang guru, dikatakan Rasulullah pernah bersabda bahwa ada dua golongan orang yang boleh dan baik untuk diirikan keadaanya. Yaitu orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya juga orang berharta dan menafkahkan hartanya dijalan Allah. Subhanallah. Sekarang saya tanya, apakah guru tidak menjanjikan kedua hal tersebut? Disbanding profesi lain guru lah yang paling berpotensi menjadi penyebar ilmu. Dan layak diirikan. Dan dengan terus diperhatikanya kesejahtraan guru, semakin mudah juga guru untuk sejahtera dan memiliki harta yang dapat dinafkahkan di jalan Allah. Dan ini pun dianjurkan untuk diirikan. Sesuai dengan do’aku dulu, ingin teman-teman iri. Iri yang syar’i. Amiin

Sekali lagi kebimbangan datang, ketika penulis di kampus calon guru tersebut ditawari beberapa jabatan, bahkan dua diantaranya sebagai ketua organisasi yang cukup besar. Istikharah dengan Qur’an menjadi teman kembali. Dan apa jawaban Allah? Ayat pertama bercerita tentang khalifah (pemimpin umat) dan ayat acak selanjutnya bercerita tentang urusan dan ahlinya. Subhanallah. Allah menuntun penulis memilih kemana harus melangkah. Hal yang paling penulis dalami dan tekuni selama mengabdi di kampus, itulah yang penulis ambil. Karena bukan pilhan bijak bila kita memilih hal yang bukan keahlian atau ada orang yang lebih ahli dari kita di dalamnya. Sesuai dengan bunyi ayat yang penulis baca.

Kalau kejadian ini terjadi ketika penulis menjadi anak nakal. Ketika itu penulis memiliki seorang teman wanita spesial. Ketika masalah terjadi,teman dia meminta untuk mengakhiri hubungan kita yang Alhamdulillah berjalan dengan baik pada awalnya bahkan tanpa pernah ada pertengakaran, silang pendapat atau beda pemahaman walau sedikit selama hampir dua tahun. Kepada siapakah saya memminta pendapat untuk memutuskan hal ini? Ya pada Sang Maha Kuasa. Penulis membaca beberapa ayat secara acak, dan apa yang penulis dapatkan. Percaya atau tidak jawabanya masih penulis ingat. Al Azhab ayat 49 yang berbunyi:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ahdan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.”

Coba cermati ayat tersebut. Bila kita belum mencampurinya (sesuaikah dengan kondisi orang yang pacaran?) maka ceraikan secara baik-baik. Dan tidak ada ‘iddah (masa menahan), jadi tak perlu kita sakit hati dan menahanya untuk memiliki pacar, atau bahkan menikah meskipun sejam setelah sama-sama menyadari kekhilapan (putus). Subhanallah. Allah kembali menjawab dengan bahasanya.

Gegelisahan pun pernah menghinggapi ketika mantan teman istimewa yang telah menjadi sahabat memiliki calon pendamping baru. Sakit hati mungkin ya, maka penulis berdo’a ditunjukan calon jodoh penulis. Dan apa jawabanm Allah? Surah Hud ayat 15 s.d. 16 yang berbunyi:

”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”

 

cermati ayat tersebut. Seakan Allah berkata: bila kamu masih menghendaki dosa yang sama. Masih cinta duniamu maka Allah akan berikan. Tapi Allah tidak akan berikan Akhiratmu.  Bahkan saat penulis shalat istikharah Allah tunjukan calon tersebut, tapi cuplikan ayat tadi jauh lebih kuat daripada hanya penampakan mimpi yang tak menutup kemungkinan setan ikut di dalamnya. Sekali lagi Allah menjawab kebimbangan hamba-Nya.

 

Ayat ini membuat penulis sadar, penulis belum siap akan karunia Allah tentang jodo. Masih perlu banyak belajar dan bekerja.

Nah itulah sepenggal cerita pengalaman nyata penulis dan istikharah dengan Qur’an. Dari cerita diatas jelas lah tatacara melaksanakan istikharah dengan Qur’an ini. Suatu keunggulan dengan shalat istikharah, jawabanya langsung dapat kita terima bahkan redaksinya pun langsung dari Allah. Subhanallah.

Sahabatku, ingatlah bahwa setiap urusan kita telah Allah tentukan. Maka Allah hanya akan menilai usaha kita untuk hidup ini, bukan hasilnya. Karena hasil itu adalah kewenangan-Nya. Usaha dan perjuangan kita ini adalah bagian dari cara Allah menilai, dimanakah kita pantas berlabuh. Di Surganya atau Nerakanya? Maka dari itu usahakan lah yang terbaik.

Ingat, usaha dan perjuangan adalah yang utama. Maka usahakanlah yang terbaik yang kita mampu.

Untuk rizki kita walau sudah ada garisnya, maka usahakanlah yang terbaik yang kita mampu. Walau kelak rizki kita kecil, Allah akan menambahkan barokah dan rahmat di dalamnya. Dibanding rizki kita melimpah namun tak berkah. Celaka lah kita. (Baca artikel sabar, ikhlas dan ikhtiar)

Hidayah dan ilmu, usahakanlah yang semaksimal mungkin. Dalam hal ini Allah hanya akan memberikan cahayanya (baca: ilmu) pada orang yang terus berusaha memperbaiki diri, mencari ilmu dan mengamalkanya. Carilah.

Jodoh kita walau Allah menciptakan kita berpasangan, tapi memperjuangkan jodoh yang terbaik adalah suatu keharusan. Dengan mengharapkan dan memperjuangkan yang terbaik, Allah akan mengganjar kita dengan ketenangan dalam rumah tangga kelak. Karena dengan memperjuangkan yang terbaik kita akan tahu jalan yang terbaik yang akan kita lakukan, dan seperti apa kita bersikap juga memilih pasangan.  (Baca artikel jodoh, dan krieteria jodoh)

Lakukan yang terbaik semampu kita. Jadilah manusia yang selalu 100%. Dan bertanya lah pada Allah bila kita sampai dipersimpangan jalan. Sesungguhnya Allah lah yang Maha Memberi Petunjuk.

Mau kah kita coba dalam kehidupan sehari-hari? Jadikanlah Imam kita tempat bertanya dan meminta kepastian. Bukan hanya sumber bacaan dan target hafalan yang kadang kita abaikan maksud dari ayat yang kita baca tersebut.

Read Full Post »

(Cahyadi Muharam)

businesswoman_-_angry

Pernakah kita dengar nama Abu Hakam? Mungkin akan agak asing, bagaimana dengan Abu Lahab? Ya, mereka adalah orang yang sama. Abu Lahab (Bapa Kebodohan) mendapat gelar tersbut dari Rasulullah bukan karena dia tidak mengakui kenabian Rasulullah SAW, tapi karena dia cepat marah, sulit memaafkan orang dan selalu menyimpan dendam.

Sahabatku, sungguh suatu hal yang sangat aneh, Nabi mentasbihkan gelar pada musuh besarnya bukan karena akidahnya, melainkan karena akhlaknya. Tapi mari kita cermati hadist beliau,

Nabi SAW bersabda ”Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (H.R. Imam Malik)

Nabi SAW pun bersabda “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (H.R Abu Daud dan Tirmidzi)

Jelas kan? Ya, adanya agama ini dan diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk akhlak, agar umat ini menjadi rahmat bagi seluruh alam. Jadi, belumlah seseorang sempurna Islamnya walau dia rajin shalat, pintar mengaji, jilbab berjuntai, dan menguasai fikih secara baik bila orang lain merasa sakit oleh keberadaannya, bila tetangganya tidak betah disampingnya, bila semua orang menghendakinya tidak pernah ada. Bukan menyepelekan ritual dan kegiatan ibadah yang secara nyata diatur oleh fikih, karena itu adalah bagian dari Islam, tapi hanya untuk menegaskan pentingnya kedudukan akhlak ini.

Salah satu ahlak yang Nabi tidak suka adalah marah. Kemarahan itu berasal dari api, dan api adalah bahan pembuat Iblis dan neraka. Maka ketika kita marah, kita lebih dekat dengan dua hal tadi. Mau kah kita?

Sebenarnya apa kah marah itu? Apa hanya luapan emosi dengan berkata-kata buruk pada orang yang kita benci? Ternyata tak sesempit itu. Marah, dan dendam, adalah menyimpan rasa kebencian walau sebesar debu kepada hamba Allah karena kesalahannya atau karena hal lain yang membuat kita tak senag akan segala hal tentang dia. Jadi mudah sekali untuk menganalisis emosi dalam diri kita, tingal tanya saja apakah kita menyimpan rasa tidak suka pada seseorang? Itulah emosi, itulah dendam. Dan dendam itu kerabat dekat dengki, dia membakar semua amalan kita layaknya kayu bakar yang dimakan api.

Nabi SAW. sangat menjaga sekali dirinya dari marah. Pernah suatu ketika Beliau datang pada satu kaum untuk berdakwah, tetapi Beliau malah diserang, dilempari oleh batu dan kotoran. Tapi apa Beliau marah? Tidak! Bahkan ketika Jibril a.s. menawarkan diri untuk membinasakan kaum tersebut, Nabi menjawab, jangan, ini hanya karena mereka belum tahu. Subhanallah. Mampuhkah kita meneladaninya?

Ada beberapa hal dampak emosi yang akan sangat terasa oleh kita, diantaranya:

Pertama, memutuskan tali silaturahmi. Secara sadar, dengan memelihara rasa tidak suka, dendam, atau apapun maka hubungan silaturahmi kita dengan orang tersebut akan terputus. Dan Nabi melaknat orang yang memutuskan tali silaturahmi. Dan tahukah kita, disaat kaki kita kelak akan meniti siratal mustaqim, maka akan ditanyakan dua hal, yaitu amanah yang kita pegang, apa sudah semua terlaksana? Dan apakah tali silaturahmi tidak kita putuskan? Bayangkan, hisab terakhir yang akan mengantarkan kita pada surga harus terhenti bila tali silaturahmi kita putus.

Kedua, emosi hanya akan menyebabkan ketidak tenangan dalam diri. Pernah kah kita bermusuhan dengan seseorang? Apa yang kita asakan? Dunia ini terasa sempitkan? Ya, emosi hanya mengecilkan dunia ini.

Ketiga, mendapat laknat dari 3 hal, Nabi, Allah dan sesama manusia. Subhanallah. Orang yang kita benci, akan sama denagn orang yang dianiaya. Maka do’anya mustajab. Bagaimana bila dia mendo’akan keburukan pada kita? Nauzubillah.

Keempat, disadari atau tidak emosi itu akan menghapus semua pintu rizki dan kesempatan kita.

Jadi adakah manfaat dari emosi? Tidak! Jadi masihkah kita akan menyimpan rasa dendam, memelihara marah dam mengumbar emosi?

Nah, untuk mengekang emosi tersebut, kita harus belajar. Beberapa hal yang haru kita pelajari antara lain:

Pertama, Memaafkan kesalahan orang lain, terutama yang meminta maaf

Beranikah kita melakukanya? Bila tidak mampu maka kita akan mendapat ucapan selamat datang dari Abu Jahal, karena masuk dalam golongan beliau.

Maafkanlah hamba Allah bila dia telah meminta maaf dan bertobat. Jangan lah kita mengingat-ngingat kesalahnya, tapi ingatlah kebaikanya. Allah saja yang Maha Menghukum memaafkan orang yang meminta maaf (bertobat) kepada-Nya. Maka pantaskah kita tidak memaafkan dan mendendam pada hamba Allah? Bila iya, maka pilihlah, kita hamba siapa? Latta, Uza atau siapa? Karena hamba Allah akan memaafkan hamba yang memintanya.

Kedua, janganlah berburuk sangka dan membuat orang berburuk sangka pada kita

Buruk sangka adalah sebaian dari dosa. Tapi maha Adil Allah, Dia tidak hanya melarang buruk sangka tapi juga bersikap yang membuat orang lain berburuk sangka pada kita. Emosi dapat hadir dari buruk sangka dan menanggapi buruk sangka orang lain yang disebabkan sikap kita sehingga orang lain berbuat demikian. Maka jaga diri kita dari dua hal ini

Ketiga, jujur dalam bertindak

Tak ada kerugian orang yang jujur. Nabi SAW bersabda: “Kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah kegelisahan.” Bila kita tenang maka kita tak akan mudah emosi. Maka jujurlah.

Keempat, ingatlah orang yang kita sayangi saat marah

Karena bila kemarahan kita menyebabkan orang lain terluka/ celaka. Maka aib tersebut akan kita bawa untuk orang-orarang yang kita sayangai (Istri, keluaraga, guru, atau siapapun)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »