Feeds:
Pos
Komentar

climbing-clip-art-15(Cahyadi Muharam)

Ketika bersekolah di SMP dulu, saya pernah memiliki seorang kawan, Heri, namun lebih akrab disapa Apak, entah mengapa. Satu hal yang saya ingat dari dia saat bersekolah dulu adalah setiap berangkat sekolah, pasti tangannya tak pernah lepas dari satu jingjingan kecil wadah plastik. Ya, sebuah wadah plastik yang berisi dagangannya. Cilok bumbu kacang. Itu adalah bekalnya setiap hari dan juga biaya sekolahnya. Karena untuk mendapatkan bekal uang jajan dia harus menjual dulu dagangannya tersebut. Begitu juga untuk SPP sekolah (ketika itu masih sangat murah). Pertama kali melihatnya kadang saya merasa terharu, tapi semakin lama, apalagi setelah kenal dengan dia lebih lanjut, saya tahu satu hal. Dia berasal dari keluarga kurang mampu. Orangtuanya tak membiayai sekolahnya, tapi ia optimis untuk sekolah. Dan hasilnya? Ia lulus sekolah, bukan hanya SMP, tapi juga SMA. Subhanallah.

Sahabatku, percayalah bahwa optimism itu adalah kunci kesuksesan. Putus asa adalah virus berbahaya yang menggerogoti keimanan. Ia akan mencabik-cabik kepercayaan atas kauasa Allah. Dalam keadaaan putus asa, jiwa kehilangan kekuatan untuk berkehendak dan bergerak, memupus semua harapan dan nilai yang dituju sehingga tak memiliki tekad. Orang yang putus asa tak ubahnya buih dilautan yang hanya terombang ambing oleh jaman.

Suatu hal yang menjadi fakta saat ini, umat Islam sangat lemah. Apakaha mereka sedikit? Tidak populasi mereka banyak, bahkan di negri kita adalah mayoritas. Tapi tak berdaya. Bagai buih di lautan. Mengapa? Karena tak ada optimis dalam hidup mereka.

Islam = Ajaran Optimis

Pernah mendengar hadist yang berbunyai : “Kejarlah duniamu seakan kamu akan hidup selamanya. Dan kejarlah akhiratmu seakan kau akan mati esok pagi”

Lihatlah perumpamaan yang Rasulullah ambil, beliau menyebutkan suatu hal dengan tujuan akhir hal tersebut (dunia dan akhirat), sehingga semua orang menjadi termotivasai. Bayangkan saja kita disuruh bekerja mencari dunia seakan kita tak akan pernah mati. maka mungkin kita akan semangat bekerja. Dan bayangkan kita disuruh ibadah seakan kita akan mati besok. Ketakutan akan kematian akan membuat kita khusyu dalam ibadah dan tentu bila kita tahu kita akan meninggal besok, maka kita akan berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri pada Allah.

Mari kita cermati ayat berikut:

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Bila kit abaca dengan seksama, kita akan melihat bahwa Nabi (menurut wahyu dari Allah tentunya) menyebutkan bahwa orang yang berputus asa itu adalah kafir. Bukan berarti saya menyebutkan kafir orang yang putus asa, tapi sebagian tanda kafir itu (dari banyak tenda) adalah putus asa dan tidak percaya pada kuasa Allah.

Sebuah cerita yang saya temukan dari Sirah Nabawiya, diceritakan ketika terjadi perang Khandaq (parit), tentara muslim dikepung oleh 10.000 pasukan Kafir. Mereka terkurung di Madinah. Maka, atas gagasan Salman Al Farisi dibuatlah parit agar pasukan musuh tak dapat memasuki kota. Ketika menggali parit, muslim dalam keadaan takut, lelah dan terkepung. Ditengah penggalian, ada sebungkah batu karang yang menghalangi parit. Kemudian Rasulullah datang dan memukul batu tersebut. Keluarlah percikan tanda kuatnya batu tersebut. Nabi kemudian berseru dengan keras “Allahu Akbar.. Romawi pasti dikuasai.” Batu itu bergeming dan kembali mengeluarkan percikan.

Para sahabat ketika itu tertegun dan saling bertatap. Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah masih menghembuskan angin optimism dan mimpi yang sangat besar. Rasulullah kembali berseru “Allahu Akbar.. Persia pasti dikuasai” pada pukulan ke tiga, batu karang tersebut pecah berkepin-keping.

Kawan, apa yang dikatakan Rasulullah itu ternyata terbukti. Ketika kekuasaan khulafaurasidin, Persia ditaklukan, dan 600 tahun kemudian, Ibukota Romawi Timur di Konstantinopel ditaklukan Al faith. Kemudian kota itu menjadi Istambul (kota Islam) sampai sekarang.

Percaya kah kawan bila saya berikan info, saat Rasulullah memecah batu dan meneriakan gema optimis itu, perut beliau bahkan diganjal batu. Mengapa? Untuk menahan lapar. Beliau tidak dalam keadaan kuat, hebat, tapi selemah-lemahnya keadaan fisik, tidak untuk mental. Mentalnya lebih kuat intan yang kuat dan berkilau.

Ingat saat Perang Badar? 300 pasukan Muslim menghadapi musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat. Gentarkah mereka? Putus harapan kah? Tidak. Mereka maju dengan optimis, hingga mampu menjadi pemenang.

Bahkan Nabi pernah bersabda : ”Bila kiamat terjadi, dan di tangan salah seorang dari kalian ada tunas pohon kurma, maka tanam lah! ” (H. R. Ahmad) bayangkan, bahkan ketika terjadi kiamat pun kita harus menggantungkan asa dan harapan. Untuk menumbuhkan sebatang pohon kurma hingga menghasilkan buah itu dibutuhkan waktu puluhan tahun, tapi saat itu kiamat. Sia-sia kah? Rasulullah sesungguhnya mengajarkan kita untuk terus berikhtir, tak putus harapan, apapun yang terjadi. Bukan masalah hasilnya yang akan menjadi kebaikan, tapi optimism dan kerja kerasnya lah yang akan menjadikan kita lebih bernilai.

Agama ini dibangan atas dasar optimis. Tak ada satupun kemajuan Islam yang dibuat melainkan berdasarkan optimis yang tinggi.

TAPI vs. DAN

Bila kita ingin tahu tanda-tada orang pesimis, ternyata sangat gampang sekali. Bukan dari semangatnya mengejar hal yang diinginkanya, atau motivasinya. Karena itu sudah jelas. Orang pesimis akan tak bersemangat dalam menjalani hidpnya. Galau setiap saat, dan tak punya pegangan. Itu terlihat nyata.

Sesungguhnya tanda dari pesimis, putus asa bias kita prediksi sejak dini, bahkan dari sejak terucap pertama. Kuncinya adalah kata “TAPI”. Semakin sering orang mengucap tapi, makin pesimis lah orang tersebut.

Pernah dengar orang berkata “Iya hal itu mungkin saja terwujud, tapi…….” Atau “ Ya saya tau hal itu baik, tapi…….”. atau mungkin itu perkataan kita sendiri?

Setiap kata tapi adalah penyangkalan dengan menyuguhkan alasan. Hal ini membuat kita lemah, karena kita merasa nyaman berlindung dibalik alas an. Seakan itulah zona aman kita. Zona Tapi.

Satu tapi, satu alas an, satu batu yang menghalangi kita meraih tujuan kita. Kita menginginkan apa. Jadikan itu target, dan jangan halangi pandangan kita dengan tapi.

Untuk menahan “hasrat” menyebut tapi, kita ganti dengan kata “DAN” sederhana kan? Mengapa dengan kata dan? Karena setiap kita berkata dan, maka otak kita akan berfikir keras untuk menemukan alternatif untuk masalah pertma. Dan secara tak sadar kita pun didorong untuk bangkit lebih. Contohnya:

“Saya tahu hal itu munkin, DAN saya harus mencapainya.”

“Ya saya athu hal itu baik, DAN bagus untuk dikerjakan.”

Kata dan tidak menawarkan penolakan, tapi justru mendorong kita untuk lebih baik. Satu kata dan berarti satu solusi kreatif dan satu alternatif meraih tujuan kita. Jangan pernah merasa aman di Zona Tapi. Bangkitlah!

Rumus Optimis

Sangat banyak rumusan untuk menjadi optimis tersebut. Bila kit abaca buku tebal yang berisi biografi seorang sukses, kita akan menjumpai 90% di dalamnya adalah motivasi untuk sukses. Namun saya mencoba menyarikan dari dari stu sumber yang sudah cukup terkenal, agar lebih familiar. Pernah dengar 7 Habits? Buku yang sangat laris. Saya mangambil tiga pilar pertama dari 7 Habits fot Teen Karya Sean Covey. Mengapa hanya tiga pilar? Karena ini adalah pondasi. Seperti halnya optimis yang merupakan pondasi dari kerja keras, tahan banting, dan selalu kreatif mengakali tantangan. Apasaja pilar itu?

1.   Proaktif (Bertanggng jawab pada diri sendiri)

Jadilah pribadi yang mandiri. Berdiri dengan prinsip dan kekuatan diri. Setiap orang pasti memiliki kepentingannya, maka kejarlah kepentingan tersebut, focus lah. Lakukan hal-hal yang berguna bagi dirimu dan lingkunganmu. Aa Gym pernah berkata, jangan kita bergantung hidup pada orang lain dengan hutang budi, karena hal itu akan melemahkan kita. Jadi, lakukan lah hal terbaik yang kau bias lakukan. Bukan tak boleh meminta bantuan orang lain, tapi bekerja maksimal dan bekerja samalah secara proporsional dan harmonis.

2.      Mulai dari akhir ( definisikan misi dan sasaran hidup)

Memulai dari akhir, sama halnya yang diajarkan Islam sebelumnya. Tentukan lah target hidupmu, setelah itu, mulailah rintis jalan menuju kesana. Ha ini akan menjadi rambu-rambu bila kita melenceng. Cara paling gampang, biasakan dengan kata Dan tadi.

“Saya ingin naik haji atau umroh segera dan saya harus bekerja untuk itu.”

“Saya ingin punya suami/ istri soleh dan saya juga tentu harus soleh juga”

Saya ingin memiliki pekerjaan yang nyaman, dan saya harus menciptakannya.”

Ayo… kita bangkit. Mulai dari tujuan kita…

 3.      Prioritas (dahulukan yang utama)

Setelah tau tujuan kita, dan kita proaktif di dalmnya, maka kita harus selektif. Pilih jalan paling efektif untuk mencapai tjuan kita. Lalui hal-hal yang yang utama. Memang terkadang sulit mengambil pilihan yang sulit. Tapi lihatlah resikonya. Saat kita dihadapkan pada beberpa pilihan yang sama penting, pilihlah yang paling besar pengaruhnya pada kemaslahatan orang banyak atau keselamatan jiwa. Hal-hal yang tak dapat ditolak.

Mari kita menapaki diri kita dengan optimis. Karena sesungguhnya itulah modal terbesar orang sukses.

Image

(Cahyadi Muharam)

Memeriksa hasil ujian anak didik terkadang menjadi sesuatu hal yang mengasikan sekaligus mengisyaratkan suatu hikmah. Dalam ujian ada pertanyaan teka teki silang : “Tokoh wayang, anak tengah pandawa” Tersedia kotak A _ _ U _ _. 30% siswa saya menjawab “ASTUTI”. Pertanyaan selanjutnya, “Kapan kah pagelaran Wayang golek biasa disajikan?” Soal pilihan ganda. 20% Menjawab ketika acara kenaikan kelas, 10% Ketika malam takbiran Idul Fitri dan paling lucu, 10% menjawab ketika upacara pamakaman jenazah. Subhanallah.

Percayakah kawan bila saya katakan bahwa anak didik saya tersebut sudah mendapat kisi-kisi untuk ujian dua minggu sebelum ujian. Seminggu sebelum ujian dilaksanakan review yang soalnya 40% dari soal ujian. Tapi hasilnya? Sangat jauh. Tidak menutup mata, banyak anak yang nilai 100 atau diatas 90. Tapi lebih banyak yang kurang dari itu. Mengapa? Jawaban paling sering kita dapat adalah “Setiap anak memiliki keterbatasan dalam kemampuannya”. Bila berbicara hal itu, selesai sudah.

Setiap ujian yang diberikan oleh guru, (khususnya guru kelas bukan dinas) adalah pengulanagan dari materi yang telah diberikan. Sumber dan rujukannya jelas, materinya tegas, kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya pun lengkap. Sejujurnya, bila kita jujur, andai kita mau berusaha, belajar, mendalami materi yang ada, ulangan/ ujian itu akan menjadi hal yang sangat mudah. Setuju?

Andai kita tempatkan Allah SWT sebagai Maha Guru kita, maka sanggat wajar bila Dia memberikan ujian pada kita (baca: muridnya). Dan seperti saya ungkapkan tadi, setiap ujian hakikatnya adalah pengulangan materi yang telah kita terima, disertai kisi-kisi dan petunjuk pengerjaannya (baca: agama/ Qur’an). Sebagai mana sabda-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S: Al Baqarah:155)

Mari kita cermati ayat diatas. Allah berkata mencoba dengan sedikit ketakutan, bukan ketakutan atau kecemasan. Ini berarti setiap ujian yang kita terima hanya sedikit dari karunia yang Dia berikan. Contohnya disaat kita kehilangan barang, apakah seluruhnya? Tidak pernah, hanya sedikit dibanding seluruh harta kita. Dibenci oleh orang. Apakah seluruh alam dunia membenci kita? Tidak pernah. Hanya sekelompok orang dari sekumpulan orang yang sayang pada kita. Saat ditimpa kemalangan. Masih banyak hal yang dapat membuat kita tersenyum. Tak ada satupun ujian yang Allah berikan pada kita itu melebihi kemampuan kita atau Rahmat Allah.

Allah tidak akan menimpakan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Allah tak akan menjadikan seseorang diuji menjadi Presiden, bila mental dan kemampunya baru sampai RT. Allah tidak akan mencoba seseorang menjadi Milyuner bila mentalnya lebih kuat dalam kadaan fakir. Percaya?

Setiap ujian memiliki tujuan. Ujian disekolah adalah untuk mengukur kelayakan siswa untuk naik atau tidak ke kelas selanjutnya. Begitu pula ujian dari Allah. Diciptakan untuk mengukur kadar ketaqwaan kita. Makin taqwa, makin berat cobaan yang ditimpakan. Dan ujian lah cara tersepat mencapai kenaikan tingkat. Laksana kelas akselerasi, bila kita berani mengambil resiko ujian yang lebih berat, maka akan lebih cepat kita mencapai ketaqwaan pula.

Berbicara tentang masalah dan ujian, maka timbulah pertanyaan, bagaimana menyikapainya dan menghadapinya? Mengambil contoh dari seorang manusia yang diberi kelebihan oleh Allah, yaitu orang tercerdas abad lalu, Albert Einstein. Sebagai seorang cerdas, ternyata kunci suksesnya adalah dia selalu dapat mengurai masalah yang ia hadapi dan memecahkanya, serumit apapun masalah tersebut. Beginilah cara berfikir dan mengurai masalah yang ia tempuh:

1.  Mengindentifikasi masalah

Sering saya mendengar keluahan dari teman-teman “Duh aku lagi banyak masalah ni. Lagi suntuk” pernah saya iseng kepada teman yang mengeluh tersebut memberikan selembar kertas berikut pena. Kemudian saya suruh ia menuliskan seluruh masalah yang ia punya. Hasilnya… 5 menit kemudian, hanya ada deretan angka, mungkin untuk urutan nomor masalahnya. 10 menit kemudian, tak berubah, setengah jam kemudian, kertas telah berpindah ke dalam tong sampah.

Pernah mengalami hal itu? Itulah kita. Sering merasa bingung, “galau”, bimbang, atau apapun istilahnya, tanpa kita tahu masalah apa yang sebenarya menimpa kita. Kadang hanya karena hal sepele, kita menjadi membesar-besarkan masalah. Mendramatisir, menambah-nambahkan. Setelah ditelusur, ternyata bukan itu masalahnya.

Tanpa mengetaui musuh kita, mana mungkin kita siap berperang. Mana mungkin kita bisa menang. Oleh karena itu, kenali musuh kita. Pahami masalah kita. Masalah adalah ketidak sesuaian keadaan dengan aturan atau harapan.

Contoh, saya sudah kerja sangat keras. Menurut aturan seharusnya hasil yang didapat harus besar, tapi tidak. Itu masalah. Saya sudah belajar dengan baik, tapi ulangan saya jelek. Itu masalah. Saya telah berusaha mengajar dengan baik, tetapi anak-anak masih juga banyak yang kurang baik dalam belajar. Itu masalah. Saya sudah berusaha memahami pasangan saya, tapi dia tak juga memahami saya (bagi yang telah berkeluarga). Itu masalah.

Saya tidak kerja, kemudian tidak juga mendapat penghasilan. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak belajar, saya tidak naik kelas. Itu bukan masalah. Itu akibat perbuatan. Saya tidak mau mengerti tentang keadaan pasangan saya maka dia pun sangat cuek (bagi yang berkeluarga). Itu akibat.

Jadi apa masalahmu?

2.    Mengenali pola dari masalah

Setiap masalah memiliki proses timbul, berkembang dan klimaks dalam rangkaian pola. Kenali pola tersebut maka kita akan memiliki peramal pribadi yang menuntun kita mengambil tindakan dilangkah selanjutnya.

Contoh, penghasilan yang besar ternyata bukan berarti bekerja keras, tetapi bekerja pintar. Makin pintar kita bekerja, makin besar penghasilan kita. Bukan sebanyak apa waktu kita bekerja, tapi seberapa berkualitas waktu kita bekerja. Itu pola pekerjaan.

Belajar itu ternyata bukan menjawab soal yang diajukan dalam ujian, tapi memahami konsep dasar dari setiap materi. Dengan mengerti konsep dasar, maka seberat apapun soal yang diberikan, bagaimanapun variasi soal yang diberikan akan dapat kita kerjakan. Bahkan dengan waktu belajar yang singkat.

Ternyata hubungan yang baik (sahabat, suami-istri, keluarga) itu terjalin atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Dengan saling jujur dan terbuka maka setiap orang akan saling menghargai dan mengisi kekosongan. Jangan pernah berharap suatu hubungana akan berjalan langgeng bila kejujuran dan keterbukaan tak pernah diikutsertakan. Itulah pola hubungan.

3.    Melanggar azas konfensional/ aturan

Azas konfensional atau aturan adalah sesuatu yang dipahami setiap orang sebagai suatu keharusan untuk tahapan menyelesaikan masalah atau menyikapi ujian. Tapi dengan melanggar hal itu (setelah 2 tahapan terdahulu kita lalui) maka kita malah akan mendapat altenatif yang lebih baik. Percaya?

Kata orang, makin keras kita kerja, makin besar hasilnya. Kita coba balik aturan itu, makin santai kita kerja, makin besar penghasilanya. Lihatlah para bos. Apa mereka lebih sibuk dari OB yang harus stand by terus? Tidak.. mereka kerja santai. Tapi cerdas. Waktu mereka berharga. Tempatkanlah kita menjadi BOS (bukan sifat, tapi mental dan pandangan) dimana kita harus siap memanage segala hal. Terutama waktu. Pilih jalan dan peluang paling tepat untuk berusaha. Agar usaha yang kita lakukan efektif.

Kata orang, belajar agama itu sulit dan perlu waktu lama. Hanya orang tua yang mampu. Kita balik. Belajar agama itu gampang, menyenangkan, dan untuk kaum muda. Belajar agama itu adalah belajar disiplin, belajar hidup bersih, belajar jadi warga yang baik. Rubah sudut pandang kita tentang agama. Bukan hanya tentang kitab kuning, fiqih, dan tarih. Tapi lebih sederhana. Hidup selaras dengan hati nurani dan kejujuran untuk menjadi manusia yang selalu lebih baik di setiap hari. Mudah kan?

Kata orang untuk mendapatkan pasangan hidup itu harus melewati fase “pacaran”. Kita rubah, untuk mencapai fase “pacaran” kita harus menikah. Sederhana. Tapi berani kah kita? Ini melawan arus. Contoh inspiratif, saya angkat dari kawan dekat saya. Seorang akhwat yang menjaga kehormatanya. Ia dianugrahi kecantikan yang sangat luar biasa. Kalau saya hitung, entah berapa puluh laki-laki yang menginginkanya. Tapi ia jaga. Ketika di pertengahan tahun 2012 ia berkata akan menikah di akhir tahun tersebut. Sayapun bertanya, siapakah laki-laki beruntung yang menjadi pacarnya atau calonnya. Ia menggeleng kepala. Dan berkata “Saya gak pacaran. Allah pasti ngasih ko nanti”. Dan terbukti. Tanggal 3-12-12 ia bertemu dengan seorang ikhwan, tanggal 6-12-12 ia dilamar oleh ikhwan tersebut, 12-12-12 mereka melangsungkan pernikahan. Subhanallah.

4.    Menemukan solusi

Solusi adalah jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Setelah kita tahu masalah kita, tau polanya, mencoba melanggar aturan agar mendapat alternatif penyelesaian, saatnya melakuan gerakan sapu jagat, menuntaskan masalah hingga ke akarnya.

Masalah apa yang kita hadapai. Kalau kita benar melakukan tiga tahapan sebelumnya, maka kita sesungguhnya telah mengetahui solusi apa yang akan kita ambil. Tapi kuncinya kembali pada kita. Berani atau tidak kita mengambil solusi tersebut.

Memiliki mental BOS (memanage, inovatif, perpandanagn kedepan, dan kerja cerdas) dalam kerja mengundang resiko tanggung jawab yang sangat besar. Belajar dan mengajar kreatif, adalah suatu yang sulit dan memerlukan pembiasaan yang luarbiasa. Sanggupkah? Mengamalkan agama adalah tuntutan yang berat, tapi bila dijalankan sehari-hari dengan bertahap dan konsisten. Mau kah kita? Terbuka, jujur dan selalu pengertian dalam hubungan adalah keharusan. Itu berat sekali. Sanggupkah?

Solusi itu terkadang telah kita ketahui. Hanya perlu keberanian kita untuk mengambil dan melaksanakanya. Pesan saya, jangan jadi orang lemah. Bila kita lemah pada kehidupan, maka kehidupan akan keras terhadap kita. Bila kita keras menghadapi hidup, hidup akan menjadi lunak kepada kita.

Ujian dan masalah adalah cara tercepat menaikan level kita bila kita mampu menyelesaikanya dengan sungguh-sungguh.

Image

Cahyadi Muharam

 

Belajar, terutama hikmah kehidupan tak hanya diperoleh dari bangku sekolah. Ia juga dapat kita peroleh dari hal-hal sehari-hari semisal kejadian dalam angkutan kota (angkot) seperti berikut:

Pamanku hendak pergi dari daerah di Gegerkalong ke Margahayu raya (Bandung). Untuk itu beliau menumpang angkot jurusan Ledeng–Margahayu. Beliau duduk di jok belakang tepat di belakang supir. Di sekitaran Setiabudhi, ada seorang bapa setengah baya yang naik angkot tersebut. Perjalanan ketika itu agak tersendat karena Bandung memang termasuk kawasan langganan macet. Ketika angkot memasuki kawasan Kiaracondong bawah (dekat By pass, Sukarno-Hatta) bapa tengah baya tadi kemudian berbicara kepada supir “Pa, kalau BIP masih jauh?”. Dengan spontan Pamanku menjawab “Wah…. Jauh pisan… Sudah sejam yang lalu kita melewatinya!” Bapa tersebut kaget dengan pernyataan pamanku tersebut. Ia kemudian cepat-cepat turun dan memutar balik.

Kawan, bila kehidupan ini kita sebut sebuah perjalanan, seperti halnya perjalanan angkot tadi, maka setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Tapi tak semua perjalanan tersebut sampai pada tujuannya. Kadang ada yang tidak sampai, atau bahkan ada yang melebihinya. Pertanyaannya, apakah kita tahu tujuan kita? Dan apakah kita yakin kendaraan yang kita tumpangi saat ini mengarah pada tujuan kita? Mari kita amati tujuan kita dan angkutan yang kita tumpangi ini dalam berbagai kacamata.

Ketika SMA dulu, penulis pernah memiliki sahabat-sahabat yang memiliki obsesi terhadap beberapa perguruan tinggi. Salah satunya adalah yang sangat terobsesi dengan sekolah ikatan dinas dibawah kementrian keuangan. Ketika kami semua lulus SMA, hamper semua siswa melanjutkan studinya. Termasuk kawan saya ini. Sangat beruntung, ia diterima dengan jalur prestasi di salahsatu perguruan tinggi negri terbesar di Indonesia yang berada di daerah Depok yang memiliki kekhasan jas kuningnya. Perguruan tinggi yang teramat sangat diidamkan oleh sebagian besar pemuda di negri ini. Ia telah berkuliah selama dua atau tiga bulan ketika itu. Namun ketika berkuliah disama ia masih sempat mendaftarkan diri di perguruan tinggi yang selama ini ia idamkan. Ketika pengumuman dibuka, ia lulus di perguruan tinggi yang ia idamkan tersebut. Dan apa yang ia lakukan? Ia meninggalkan kuliahnya di PTN ternama tersebut dan berkuliah di tempat barunya, perguruan tinggi idamanya walau jenjang baru yang ia tempuh hanya diploma, bukan S-1 seperti di PTN sebelumnya. Ketika ditanya, mengapa melakukan hal “bodoh” seperti itu? Dengan enteng dia menjawab. Ini tujuanku.

Seorang sahabat yang dapat dikatakan memiliki posisi mantap dalam pekerjaan. Penghasilanya cukup lumayan bila dibandingkan dengan teman sebayanya ketika itu. Namaun apa yang terjadi? Ketika kami, sahabatnya, menilai ia hanya perlu melanjutkan usahanya ia malah meninggalkan sebagian besar pekerjaanya dan kemudian ia melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. “Kawan, ini tujuanku. Aku lebih senang jadi orang yang banyak ilmu dari pada banyak harta.” Katanya ketika kami mengobrol.

Seorang sahabat lain, memiliki tujuan untuk dapat melanjutkan studi ke luar negri, yaitu ke Al Azhar Kairo. Apakah ia orang kaya? Bukan. Ia hanya anak seorang Ustadz di daerah kabupaten. Namun karena keinginannya kuat. Ia mencarai cara agar dapat mewujudkanya. Cara paling mungkin adalah dengan jalur beasiswa. Dan beasiswa paling menjamin adalah beasiswa thfidz Al Qur’an. Maka semasa SMA dia bersungguh-sungguh menghafal Al Qur’an. Dan hasilnya? Kalau ujiannya lancar, enam bulan kedepan ia akan kembali ke Indonesia dari belajarnya di negri para Fir’aun.

Masih tentang sahabatku, kali ini bukan tentang studi atau pekerjaannya, tapi tentang kisah asmaranya. Ketika SMA dulu, kawanku ini menjalin hubungan “spesial” dengan seorang wanita yang kebetulan tidak se-aqidah dengannya. Namun ia begitu sayang kepanya. Mereka saling berbagi dalam banyak hal walau saya pun tahu ketika itu hubungan mereka “tidak pacaran” dan ditentang banyak pihak. “Aku sayang padanya. Dan kebahagiaanya adalah tujuanku.” Begitu ungkapnya. Ketika bertemu lagi beberapa bulan kebelakang setelah kami sama-sama lulus dari perguruan tinggi yang berbeda, kami mengobrol panjang lebar. Ternyata wanita yang dulu ia dekati telah menjadi mualaf , ia tampak begitu senang akan hal itu. Tapi tahukah anda, kawanku ini dan wanita yang dulu ia sayangi ini telah memiliki calon pendamping masing-masing. Namun hubungan baik antara mereka tetap terjaga. Bahkan seperti saudara. Kawanku menceritakan, ketika ia bertemu dengan wanita tersebut, ia selalu membawa Iqra untuk mengajarinya membaca Al Qur’an dan mengajarinya ilmu agama yang baru ia peluk. “Kawan, tujuanku sejak awal adalah melihatnya bahagia, bukan memilikinya. Apa artinya memilikinya bila ia tidak bahagia. Melihatnya bahagia, apalagi dengan agama barunya saat ini adalah suatu anugrah bagiku.” Ucapnya dalam obrolan hangat sore itu. Itulah cinta karena Allah menurutku dalam hati.

Dari cerita-cerita di atas tampaklah oleh kita tentang cuplikan tujuan jangka pendek yang dapat memotivasi orang melakuan hal-hal yang luar biasa. Apalagi bila tujuan tersebut jangka panjang, seperti akhirat yang abadi. Ya, setiap langkah kita haruslah mengarah pada suatu tujuan. Ketika kita tahu tujuan kita, maka kita akan mantap melangkah dan merasa selalu dituntun. Tujuan pula yang membuat kita semangat dalam menjalani hal-hal yang berat sekalipun. Seorang pelari marathon mampu terus berlari konstan sejauh 10 km karna ia tahu tujunnya dan tahu hadiah yang menantinya di akhir tujuan tersebut.

Untuk mencapai tujuan kita, maka kita harus menggunakan “kendaraan” paling efektif untuk meraihnya. Seperti cuplikan cerita diatas, kita harus teliti memilih jalur mana yang mengarah ka tujuan kita.

Bila tujuan kita adalah ilmu, maka belajarlah, dan dekatilah lingkungan pembelajar. Bila kita merasa sekolah adalah sarana paling kondusif meraih ilmu itu, maka tempuhlah. Percayalah, bila kita yakin akan tujuan kita, mencari ilmu itu akan menjadi mudah, baik dalam hal prosesnya ataupun biayanya. Semua akan menjadi tantangan yang melahirkan banyak solusi cemerlang.

Bila tujuan kita adalah harta, maka berusalah. Bekerjalah dengan sepenuh hati. Cintai pekerjaan kita. Percayalah, besar kecilnya harta tersebut bukanlah dari ukuran nominalnya, tapi dari kebarokahannya. Bila kita bisa menikmati pekerjaan kita dan hasilnya nyaman di hati, itu lebih baik daripada penghasilan besar yang membuat kita terbebani akan hal itu. Ingat, jangan melebihi tujuan kita. Secukupnya saja.

Bila tujuan kita adalah cinta yang sejati, maka jujurlah. Maksud jujur disini bukan apaadanya, tapi selalu mengikuti kata hati dan kebenaran sejati. Cinta sejati itu adalah cinta yang menjaga kita dan bukan membebani kita. Yakinlah, Allah akan menurunkan cinta sejati bila kita mencintai-Nya, dan memiliki ketulusan hati. Seperti halnya sahabatku yang mencintai karena Allah, rasa sayang yang sesungguhnya.

Bila tujuan kita adalah ketenangan hati, maka bersabarlah. Sabar adalah kepasrahan pada yang Maha Kuasa atas segala kehendak-Nya. Kepasrahan ini membuat kita selalu merasa dalam lindungan-Nya dan naungan-Nya. Bila Dia yang melindungi kita, maka siapakah yang dapat mengancam kita dan membuat kita gundah?

Kawanku, mantapkan lah tujuan kita. Segera lah turun dari “angkot” kendaraan yang membawa kita bila kendaraan tersebut telah mengarah bukan pada tujuan kita. Jangan menyia-nyiakan waktu kita tersesat pada kendaraan yang tidak mengarah pada tujuan kita. Pilihlah kendaraan yang paling efektif mengarah pada tujuan kita. Tanyakanlah arah tujuan kita pada orang-orang yang telah sampai atau lebih tahu duluan seperti guru kita, murabi, mentor, dan paling utama orang tua kita. Yakinlah, pertolongan dan petunjuk Allah itu Maha Dekat. Minta lah selalu petunjuk dan pertolonganya disaat kita bingung atau berada di persimpangan. Allah tak akan menyesatkan hamba-Nya yang kembali pada-Nya.

Tujuan kita adalah arah hidup kita. Maka berhati-hatilah memilih tujuan. Jangan sampai tujuan kita mengarahkan pada kesengsaraan.

Image

Cahyadi Muharam

Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu (Q.S. Al Baqarah: 45)

 

Seorang kawan datang pada pada penulis. Kemudian dia mengadukan segudang masalah yang ia hadapi. Ia memintaku untuk mencarikan solusinya. Maka saya jawab. “Bersabarlah”. Secara sinis dia menjawab “Klise banget jawaban téh!”

Suatu kata yang secara spontan sering kita lontarkan ketika menghadapi masalah atau cobaan kehidupan. Tapi sering juga kita merasa kurang bbersahabat dengan kata ini. Pernahkah terjadi pada anda, ketika suatu kemalangan menimpa, dan kita mengadukannya pada teman atau keluarga kita mereka hanya menyuruh kita”Bersabarlah…”. Apa persaan kita? Penulis pernah mengalami hal ini, dan merasa jengkel dengan tanggapan itu. Ingin rasanya berkata, bukan bersabar yang saya butuhkan, tapi solusi konkret agar lepas dari masalah. Pernah? Ya itulah kita. Risi dengan kata sabar.

Sebenarnya apa sih sabar itu? Apa hanya berdiam diri dan menerima segala yang terjadi? Karna itulah gambaran yang terbersit dalam diri kita ketika mendengar kata sabar. Atau mengusap dada sambil menggelengkan kepala melihal hal-hal yang menimpa? Itukah sabar? Bukan, itu adalah pasrah dan putus asa. Sabar tidak seperti itu.

Disaat kita membicarakan sabar, sesungguhnya kita sedang membicarakan sebagian dari agama kita. Coba kita cari ayat-ayat tentang sabar di Al-Qur’an, maka akan sangat banyak kita temukan di dalamnya. Dan yang lebih istimewa lagi, Allah selalu menyertakan sabar ketika menceritakan tentang nabi-nabinya di Al Qur’an.

Seluruh semesta alam ini tegak diatas kesabaran. Kesabaran disini adalah “kebertahapan” menjalani Sunatullah, aturan Allah. Pepohonan bersabar tumbuh dari sebutir biji kecil hingga menjadi pohon yang menjulang tinggi. Bertaham mencapai kedewasaannya walau diserang ulat, diterpa musim yang tak menentu. Matahari bersabar terbit setiap pagi. Memulai dari timur, terbit sedikit demi sedikit, tidak langsung berada di atas kepala. Air bersabar mengikuti siklusnya. Dari kedalaman samudra, diangkat ke langit. Kemudian dihempaskan dipegunungan. Diseret dalam aliran sungai, mengairi daratan, hingga akhirnya bermuara di lautan kembali. Seluruh alam tegak dalam kesabaran. Kesabaran member kuasa yang luar biasa kepada setiap mahkluk.

Seorang kawan berkata bahwa kesabaran itu adalah turunan dari cinta. Ia merupakan keserhanaan sikap dan keberpihakan pada kejujuran juga kebenaran. Itulah sabar. Kita akan bersikap sangat sabar ketika menghadapi suatu hal yang kita cintai. Dan akan selalu mengusahakan yang kita cintai tersebut diperlakukan dengan benar.

Misalnya seorang penghobi berat burung kicau akan sangat telaten merawat dan menjaga peliharaannya tersebut. Ia akan sangat selektif dalam segala hal, makanan, perawatan, obat-obatan, porsi latihan, sangkar, waktu bertanding, pembiakan, bahkan porsi waktu yang ia sediakan untuk peliharaannya itu terkadang lebih besar dari porsi waktu untuk keluarganya. Dan hasilnya, burung kesayangannya akan kerap menjuarai kejuaran kicau. Ini nyata. Itulah bentuk sabar, karna sabar adalah turunan dari cinta. Kita akan sabar bila kita cinta pada hal yang mendatangkan masalah.

Dari penjelasan diatas, dapat kita tarik dua hal, yakni sabar sebagai penenang hati dan kunci dari kesuksesan.

Obat Segala Penyakit

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

(Q.S Al Baqarah 155-157)

Pernah dengar cerita Nabi Ayub A.S.? seorang nabi yang diuji oleh penyakit yang sangat ganas dan menjijikan. Selama delapan puluh tahun beliau hidup bahagia, dan selama delapan belas tahun beliau diuji kesabaranya oleh Allah dengan panyakit. Namun beliau tetap bersabar. Menjalaninya dengan penuh kepasrahan dan tidak berputus asa. Tak pernah beliau mengeluhkan rasa sakitnya. Tak pernah menyalahkan Allah atau orang-orang sekitarnya yang meninggalkannya atas kemalangan yang beliau terima. Tak pernah pula terbersit dalam dirinya untuk meragukan kemampuan Allah menyembuhkannya. Ia percaya bahwa Allah hanya sedang mengujinya. Ia percaya Allah sedang mengajarkan kesabaran kepadanya. Dan setelah Allah merasa cukup akan kesabaran Nabi Ayub, beliau menyembuhkanya dan mengembalikan segala yang ia miliki dulu, bahkan dilipatgandakan.

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Q.S. Al Anbiya 83-84)

Mari kita belajar dari kisah Nabi Ayub A.S. ternyata kesabaran dalam kesakitan, kepahitan dan cobaan hidup itu bukanlah berpangku tangan. Berdiam diri. Tapi mengusahakan yang terbaik agar kehidupan kita menjadi lebih baik.

Ketika kita ditimpa kemalangan hidup, ingatlah, Allah tak akan pernah menimpakan kemalangan diatas kemampuan kita (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan). Maka kembalikan lah masalah tersebut pada Allah. Mintalah jalan keluar dari-Nya. Agar kita mendapat petunjuknya.

Ilustrasi sederhana adalah adalah seorang anak sekolah yang sedang melaksanakan ujian di sekolah. Maka soal yang diberikan akan sesuai dengan tingkat siswa tersebut. Dan siswa tersebut akan kesulitan menjawab soal, menggerutu terburu-buru, mengomel,  bila ia tidak membaca petunjuk pengerjaan soal yang diberikan guru pengajar. Namun bila ia membaca petunjuk pengerjaan, menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti pada guru penguji dan mengisi dengan sepenuh hati, maka ia akan lulus ujian dengan senang dan mudah. Hasil ujianya pun akan sangat bagus. Ia naik ke tingkat selanjutnya.

Begitu juga kehidupan kita. Ketika Allah sang Maha Guru menguji kita dengan masalah, maka kerjakanlah sesuai petunjuknya yang telah ada. Ban bila ada hal yang tak dimengerti, tanyakan lah pada-Nya agar kita mendapat petunjuknya. Ujiian kita pun akan menjadi gampang.

Nah itulah sabar. Melaksanakan Sunatullah secara bertahap, sesuai petunjuknya, tidak putus asa dan selalu optimis menghadapi masalah. Dan berserah diri pada hasil dari yang kita telah upayakan.

Mari kita coba. Insya Allah hati ini akan menjadi tenang. Ketenangan adalah kunci dari pengobatan segala penyakit, terutama penyakit hati.

Kunci Segala Masalah

“Ia yang memiliki kesabaran, dapat memiliki apa yang ia inginkan”

-Benjamin Franklin-

“Jika saya berhasil membuat suatu penemuan yang berharga, hal tersebut lebih merupakan hasil kesabaran saya disbanding dengan keahlian lain yang saya miliki”

-Sir Isaac Newton-

Bila kita perhatikan cerita tentang seorang pecinta burung kicau di muka tadi. Maka kita akan menemukan suatu pelajaran tentang makna kesabaran dalam menjani suatu hal. Kesabaran membuat sesorang dapat bertahan pada suatu kondisi paling sulit dengan tekanan besar, tapi ia tetap bertahan  di dalamnya. Satu hal yang menjadi kunci, cinta. Ketika kita mencintai suatu hal, apapun akan kita lakukan untuk hal tersebut.

Pernah kita membaca biografi orang-orang sukses? Chairul Tanjung, Jusuf Kalla, Bill Gate, B.J. Habiebie, pendiri BCA, pendiri raksasa internet Google atau yang sedang ramai dibicarakan orang, pendiri Aplle. Bagaimana mereka merintis karir? Apakah langsung sukses dan kaya seperti sekarang?

Coba baca lah, satu tokoh saja. Apa yang anda temukan? Kebanyakan orang berfikir mereka semua itu sukses karena bakat yang mereka miliki masing-masing. Bakat lah yang mereka “Kambing Hitamkan” seakan mereka dilahirkan dengan keistimewaan yang tidak tuhan berikan pada orang lain. Benarkah hanya bakat?

Bila kita sedikit teliti maka yang kita dapatkan adalah pelajaran tentang kesabaran. Mereka merintis segala usahanya dari nol. Merintis karir bukan tanpa ganguan dan halangan. Puluhan bahkan ratusan kali kegagalan, kekecewaan dalam merintis karir tersebut. Tapi mereka selalu bangkit dari keterpurukan dengan semangat baru. Itulah kunci sukses mereka. Keuletan menghadapi segala rintangan hidup. Hingga menjadi orang sukses yang karyanya sanngat fenomenal dan bermanfaat bagi kita kini.

Buah kesabaran adalah kesuksesan. Para Nabi sukses dalam da’wahnya karena kesabaran mereka. Para pengusaha sukses dalam usahanya karena kesabaran pula. Tak ada satu pun masalah yang tak dapat dipecahkan bila dihadapi dengan kesabaran. Kesungguhan menghadapinya, mengerahkan segala potensi diri dan berpasrah akan hasil dari ikhtiar itu hanya pada Allah.

Sebuah kata bijak berkata “Pekerjaan yang paling menyenangkan adalah tidak berkerja. Hanya melakukan apa yang kita senanggi dan yakini. Saat kita bekerja, ketika mendapat ujian kita akan merasa berat. Tapi saat kita melakukan apa yang kita senangi maka setiap masalah kita akan hadapi dengan solusi yang lebih banyak.”

Lalu seorang teman berkata, maka dari itu saya saat ini tidak bekerja. Saya hanya melakukan hobi saya, MENGAJAR. Karna saya cinta ilmu, mengajar, dan berda’wah. Maka ia sangat semangat melaksanakannya. Dan orangpun berani bayar mahal agar dia mau melakukan hobinya itu. Dia tak merasa terbebani dan sukses saat ini sebagai pengajar yang handal.

“Kesabaran adalah perlindungan dari dari kesalahan, sama halnya dengan pakaian yang melindungi anda dari rasa dingin. Jika anda menggunakan lebih banyak baju ketika udara semakin dingin, rasa dingin tidak akan memiliki pengaruh terhadap anda. Jika anda menumbuhkan kesabaran dalam diri anda ketika anda melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak akan berpengaruh pada diri anda”

-Leonardo Da Vinci-

Sampailah kita pada poin kesimpulan. Kesabaran itu ternyata bukan berpasrah diri dengan berpangku tangan. Tapi keserhanaan sikap yang dilandasi oleh cinta, kebenaran, dan kejujuran. Dimana dia selalu mengejar dan berorientasi pada keuletan, optimisme dan berserah pada hasil dari usaha yang maksimal.

Kesabaran akan timbul bila kita mencinta hal-hal yang menimbulkan masalah. Bila masalah itu timbul dari pekerjaan, maka cintailah pekerjaan kita. Maka solusi dan jalan kesaban pun akan datang. Bila masalah tersebut berasal dari keadaan kesehatan kita. Maka cintailah diri kita. Perlakukan diri kita dengan istimewa. Jangan memaksakan diri kita dengan hal-hal yang memperburuk keadaanya, dan patuhi aturan pengobatan yang ada. Bila masalah itu timul dari pasangan kita, cintailah dia sepenuh hati. Maka kita akan mengerti akan segala hala yang ia butuhkan. Masalah pun akan segera tereduksi.

Dan yang paling utama, cintailah Yang Maha Sabar, Allah Aza Wa Zalla. Tuhan yang maha menggenggam segala hal. Bila kita mencintai-Nya. Bukan mustahil –Ia akan menurunkan kesabaranya kepada hati kita.

Maka pupuk lah sikap sabar tersebut dalam diri anda.

“Kesabaran tidak dapat diperoleh dalam waktu semalam. Membangun kesabaran sama halnya dengan membangun otot.setiap hari anda harus mengusahakannya”

Eknath Easwaran-

rabithah

Cinta adalah anugrah dari-Mu

Maka jagalah cinta ini ya Rabb

Jangan jadikan cintaku semurni embun

Karena embun akan hilang seiring fajar

Jadikanlah cintaku semurni madu

Karna madu tak pernah lekang oleh waktu, slalu berasa manis

Jangan jadikan cintaku seputih salju

Karena salju membekukan segalanya

Banyak nyawa yang hilang ditengah salju

Jadikanlah cintaku seputih kapas

Yang menawarkan kehangatan dan kelembutan

Penawar dalam setiap kelelahan

Jangan jadikan sebening permata

Karna permata harus dipotong dan dilukai untuk berkilau

Lambang kebangaan diri dan kesempurnaaan yang tak terperi

Jadikanlah cintaku sebening mata air pegunungan

Yang bening dari saat keluar, memberi kesejukan dan kehidupan

Tak ragu untuk menjadi keruh dan menuruni bukit terjal

Lambang pengorbanan dan perjuangan

Jangan jadikan cintaku seharum mawar

Karna mawar punya duri dibalik harumnya

Jadikanlah cintaku seharum melati

Yang setia disaat kebahagiaan pernikahan

Dan setia dalam kesedihan kematian

Jangan jadikan cintaku seluas samudra

Karena banyak kesesatan dan misteri dalam luasnya samudra

Jadikanlah cintaku sesempit liang lahat

Yang hanya cukup diisi satu makhluk dan Khaliq-Nya

Jangan jadikan cintaku semembara api

Yang membakar segalanya

Jadikanlah sehangat mentari pagi

Yang selalu hadir dengan harapan baru

Jadikanlah cintaku sederhana

Cinta yang tulus

Cinta pada-Mu ya Rabb,

Berikanlah cinta yang suci, pada Rasul-Mu ya Allah

Cinta yang menjaga dan member kadamaian.

Image

(Cahyadi Muharam)

Suatu hari saya pernah mengobrol dengan kawan wanita semasa kuliah. “Kang, kriteria suami saya mah harus 5S.” Katanya. “5S? Emang apa saja?” Jawab saya. “ Soleh, Smart, Sugih, Satia dan Sabar.” Katanya ditutup tawa.

Pernah terlibat obrolan seperti itu? Saya yakin setiap kita punya kriteria sendiri dalam menentukan pasangan hidup. Termasuk saya sendiri. Ya saya punya kriteria tersendiri. Tap kali ini kita tak akan membahas kriteria saya, lebih baik kita bahas kriteria yang teman saya ajukan tadi, yang saya yakin hampir semua orang setuju kriteria diatas adalah idealisme yang sangat baik.

Penasaran dengan kriteria diatas, kemudian saya membuka berbagai referensi untuk menemukan hakikat dari setiap kriteria. Dan inilah hasilnya:

  1. Soleh

Mendengar kata soleh mungkin bayangan kita akan melayang ke kawasan pasantren. Dimana ada kiayi dengan serban yang berjuntai, atau para santri/ santri wati yang selalu menenteng kitab/ Qur’an kemanapun mereka pergi. Begitukah yang soleh? Kalau hanya mereka yang soleh, maka kasihan orang yang tak pernah masuk pesantren, karna mereka tak layak dijadikan calon jodoh.

Tak sepenuhnya benar dan tak salah pula itu lah gambaran soleh. Tapi soleh yang sesungguhnya adalah mukmin yang paling baik. Tahukah kita siapa mukmin yang paling baik? Rasulullah bersabda; “Mukmin yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhari Muslim). Lebih jauh Nabi SAW. bersabda: “ Seorang muslim adalah orang yang kaum muslim lainya selamat dari lisan dan tangannya.” (H.R. Bukhari dan Abu Daud). Mukmin, jadi bukan yang rajin qiamullail, baca qur’annya paling baik. Bukan merendahkan hal itu, tapi maksudnya belumlah sempurna ke-mukmin-an seseorang bila dia belum menjadi rahmat bagi lingkungannya.

Satu hal lagi yang harus kita garis bawahi, criteria soleh ini jadi dasar kelayakan seseorang kita nikah. Rasullulah pernah bersabda yang artinya “Nikahilah laki-laki atau wanita diantara karena agamanya” Jadi  kalau tidak beragama/ soleh sebisa mungkin tidak kita dekati secara spesial untuk tujuan lebih serius.

Singkatnya, perjuangkanlah seseorang untuk kita nikahi segigih perjuangan dirinya memegang agama Allah.

Jagalah perasaan dan niat baik kepadanya sekuat dia menjaga solatnya. Pelihara lah kasih sayang kepadanya sebagai mana dia memelihara orang duafa dan lingkungan sekitarnya. Kautkan do’mu untuknya sekuat do’a nya dan sekuat puasa nya.

Jelaslah kini,jadi orang soleh itu adalah muslim yang tidak menjadi ancaman bagi orang lain, menjadi manfaat bagi orang banyak dan tentunya taat dalam ritual ibadah karna itu adalah kewajiban dan kebutuhannya. Sudahkah kita?

2. Smart (Cerdas)

Apakah kita menganggap Albert Eistein pintar? Ya dia memang pintar. Apa B.J. Habiebie pintar? Ya dia memang pintar. Apakah kita pintar? Bila dibandingkan dua tokoh tadi mungkin belum. Jadi? Kita tak layak dijadikan calon jodoh yang baik karena tak pintar?

Ternyata orang pintar bukanlah orang yang IQ nya jenius, atau IP nya cum laude, menjadi mahasiswa atau siswa berprestasi. Bukan. Karna penjahat negri ini lebih banyak dari golongan orang pintar macam itu.

Imam Al Ghazali dalam Ikhya Umulludin menerangkan bahwa orang yang pintar itu adalah yang berilmu. Dan orang berilmu adalah orang yang berakhlak. Jadi makin berilmu seseorang, makin indahlah akhlaqnya.

Terus apakah itu pintar, saya lebih suka menggunakan kata cerdas. Pintar adalah suatu sikap dan karakter. Sikap dimana dia bisa mengambil keputusan disaat yang tepat dengan keputusan yang bijak dan karakter dimana dia pintar menempatkan diri pada posisi dimana dia dibutuhkan dan dapat memberikan kontribusi secara maksimal. Itulah cerdas

3. Sugih (kaya)

Jangan bayangkan Bill Gate atau Sultan Bruney dalam hal kekayaan, karna bila mereka standar dari kaya, hanya ada segelintir orang yang layak dinikahi. Kaya itu ternyata tak bisa lepas dari materi. Tapi orang kaya bukanlah orang yang rajin ganti-ganti gadget, antar jemput mobil pribadi, rumah mewah dan paket liburan wisata ke luar negri. Bukan. Banyak orang yang gagal rumah tangganya karena hal tersbut.

Nabi SAW bersabda: ”Setiap umat Nabi memiliki fitnahnya. Dan fitnah umatku adalah harta”. Jadi harta dunya bagi muslim adalah fitnah yang dapat mencelakakan. Lantas apa yang dimaksud kaya dalam hal ini?

Kaya dalam hal ini adalah orang yang selalu bisa memberi disaat dia sendiri kesulitan dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang yang dia sayangi. Senangkah kita bila diperlakukan istimewa oleh orang yang kita sayangi? Karna orang kaya hatinya, akan berusaha memeberi kita yang terbaik yang ia mampu untuk kita. Bahagianya..

4.  Satia (setia)

Inilah penyebab paling besar pecahnya suatu bahtera rumah tangga. Tercatat lebih dari setengah kasus perceraian disebabkan oleh perselingkuhan, ketidak setiaan, mendua hati, atau apapun namanya. Jadi, jika mau menghindari perceraian, jadilah orang setia.

Orang setia bukanlah orang yang senantiasa ada disamping kita, mengantar kita kemanapun kita pergi, selalu menghubungi kita setiap menit. Orang setia adalah orang yang masih mencintai kita disaat hatinya suka pada yang lain. Orang setia adalah orang yang bisa membedakan mana yang pokok dan mana yang penggoda.

Penggoda dari lawan jenis ini pasti ada. Sudah ada ketentuanya. Akan datang godaan pada kita dalam tiga bentuk, yaitu harta, tahta dan wanita (lawan jenis). Jadi rasa “seperti” mencintai yang kedua pasti akan ada, hanya pertanyaannya akankah kita terlena dan melupakan yang utama?

5.  Sabar

Nasihat standar setiap kita menemui masalah. “Sing sabar!” seakan sabar itu adalah pasrah, nerimo, dan tak melakukan apapun kecuali menerima takdir. Itu kah sabar? Bukan, itu putus asa.

Orang muslim yang baik dikatakan akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika mendapat kesulitan. Dari keterangan tersebut jelas bahwa sabar memang identik dengan kemalangan. Tapi bukan sikap diam menerima kemalangan atau perlakuan buruk. Rasulullah adalah potret sabar. Beliau menerima segala kepahitan hidup dan cobaan. Tapi bukan berarti beliau berdiam diri menerimanya. Banyak kisah yang menceritakan Rasulullah selalu berusaha dengan gigih dalam setiap kesulitannya.

Sabar adalah suatu sikap yang gentleman. Berani mengambil resiko dan hasil terburuk juga hikmah dari setiap peristiwa. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf duluan, dan yang terberat, memaafkan kesalahan orang yang menyakiti kita. Sabar adalah berusaha sekuat tenaga memperbaiki keadaan yang tidak benar utuk kembali baik. Sabar itu adalah selalu menghendaki kebenaran dan kejujuran. Itulah sabar.

Itulah kriteria jodoh yang baik untuk kita. Seseorang rang orang lain merasa aman berada di dekatnya, selalu tahu cara bersikap dan menempatkan diri, mengusahakan yang terbaik bagi yang ia sayangi, hanya memegang janji pada satu hati dan selalu terbuka juga berani mengakui kesalahan. Setiap kita pasti setuju, kriteria tersebut ingin kita dapatkan dari pasangan kita kelak. Tapi ingat satu hal, wanita baik hanya untuk lelaki baik.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)

(Q.S. An Nur 26)

Menyinggung kriteria jodoh, mau kah tahu kriteriaku? Kriteria untuk calon jodohku sederhana. Ialah seorang wanita yang “Mau Menjadi Bagian dari Diriku”. Maksudnya, dia mau menjadi ibu bagi anak-anaku kelak yang bisa membimbing mereka menjadi anak soleh. Mau menjadi kakak bagi adik-adiku dan menjadi teladan bagi mereka. Dan mau menjadi anak bagi orang tuaku dan berbakti kepada mereka. Mau jadi isri yang baik, menerima suami apa adanya dan tak ragu mengingatkan bila suami salah langkah. Bila hal tersebut bisa dipenuhi, maka saya pun sekuat tenaga akan melakukan hal serupa padanya.

 Karena wanita baik hanya untuk laki-laki baik.

Image(Cahyadi Muharam)

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)

(Q.S. An Nur 26)

.Kutipan ayat di atas adalah suatu pembelaan atas kesucian Siti Aishah r.a. dan Shafwan ketika terjadi peristiwa tertinggalnya Siti Aishah r.a. dari rombongan dan ditolong oleh Shafwan. Namun bukan kisah itu yang akan kita bahas, tapi pendahuluan ayat sebelumnya yang akan kita soroti.

Dari ayat tersebut, jelas tersirat bahwa jodoh seseorang sesuai dengan keadaanya. Orang keji hanya berjodoh dengan yang keji pula dan sebaliknya. Jadi, jodoh kita adalah gambaran diri kita. Ingin seperti apa jodoh kita kelak, maka jadi seperti itulah kita.

 

 Pernikahan dan jodoh adalah pilihan

Nabi SAW. Bersabda “Menikah adalah sunatku. Dan barang siapa yang tidak menyukai sunatku maka tidak termasuk umatku.”

Hadist di atas terasa kontradiksi bila kita sandingkan dengan dalil dalam Al-Qur’an berikut:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum 21)

Di keterangan pertama disebutkan bahwa ada golongan manusia yang tidak suka akan penikahan, sedangkan di keterangan kedua disebutkan bahwa setiap manusia diciptakan berpasangan. Jadi mana yang benar?

Kedua keterangan tersebut adalah benar, dan kita yakini kebenarannya. Kunci yang dapat mempertemukan kedua keterangan tersebut adalah kita. Umat Nabi.

Mengapa kita? Ya, tentu kita. Ternyata disinilah Allah menunjukan Ke-Maha Adilan-Nya dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Sebelum saya menjawab pertanyaan tadi, mengapa kita yang menjadi kunci jawaban dari keterangan jodoh diatas, mari cermati cerita di bawah ini.

Pertama, menurut kita siapakah jodoh Nabi Muhammad SAW? Siti Khadijah r.a., Siti Aishah r.a., atau seluruh istri-istrinya? Lalu siapakah jodoh Nabi Ibrahim As.? Siti Hajar atau Siti Sarah? Atau pertanyaan ke-kini-an, kalau ada orang poligami, siapakah jodohnya? Isti pertama atau istri selanjutnya? Lain lagi ceritanya bila bila kita melihat orang yang kawin cerai hingga berkali-kali (Ingat cerita Nunung OVJ/ bukan maksud bergibah hanya untuk contoh) maka siapakah jodohnya? Yang pertama atau yang terakhir? Bingung? Ya memang begitu lah.

Kedua, saya pernah melihat sendiri seorang wanita muslimah yang diusianya saat itu lebih dari usia Nabi ketika melaksanakan haji wada’. Namun anehnya beliau belum pernah menikah. Apakah dia miskin atau tidak pintar? Tidak. Beliau lulusan luar negri dan pimpinan sebuah yayasan pendidikan tingkat provinsi yang mengelola beberapa sekolah ternama dan bertataf internasional. Beliau juga aktifis diberbagai organisasi sosial politik. Karirnya mentereng. Tapi, tidak menikah. Apakah Allah tidak menciptakan pasangan untuknya? Bagaimana dengan surah Ar-Ruum ayat 21 tadi?

Dari dua kisah tadi kita bisa menarik dua kesimpulan, ternyata jodoh kita itu bisa saja lebih dari satu atau ada orang lain yang Allah hadirkan dulu ke dalam hidup kita sebelum bertemu dengan jodoh kita yang hakiki, dan bisa juga kita tidak dipertemukan dengan jodoh kita karena suatu hal. Mari kita bahas satu demi satu.

Allah itu maha Adil dan Mengetahui kadar setiap orang. Memang benar jodoh kita sudah tercatat sebelum kita lahir, tapi untuk mendapatkanya kita perlu memperjuangkanya. Bila diibaratkan jodoh kita adalah mobil yang akan kita dapatkan, maka setiap kita telah memesan mobil tersebut tapi tergadai kepada dealer (Allah pemilik setiap mahluk). Bila modal (kadar keimanan) kita masih kurang untuk menebus mobil tersebut, maka dealer akan menyerankan kita “naik angkutan umum” (pengantar sementara) yang sudah tentu sesuai dengan modal kita dan hanya akan mengantar kita hingga kita cukup modal atau kehabisan modal untuk menebus mobil kita.

Dan bagaimana nasib mobil kita? Apakah dia akan terlantar? Allah Maha Adil, Allah akan meminjamkanya pada orang mampu menebusnya sampai anda sanggup menebusnya atau agar dia siap untuk anda. Anda pun mungkin bisa menjadi perantara seperti ini, karna mungkin modal anda hanya cukup untuk menebus mobil yang lebih sederhana dari yang disiapkan untuk anda, maka anada akan mendapatkanya. Seperti halnya Khadijah r.a yang harus menikah dahulu sebelum bertemu Rasulullah SAW. agar beliau memiliki sifat keibuan dan kasih sayang untuk mendapat pendamping terbaik setelahnya yang mengantarnya pada tujuan yang hakiki.

Jadi, jodoh kita tergantung modal (keimanan) kita pada Allah. Orang beriman akan Allah pertemukan dengan yang beriman pula, oaring setia untuk yang setia, orang sabar untuk yang sabar, orang dermawan untuk yang dermawan. Mau sepeti apa jodoh kita? Tinggal tanya seberapa besar modal kita untuk menebus jodoh kita tersebut.

Untuk kasus kedua, Allah tak akan menimpakan sesuatu ujian diluar kemampuan hamba-Nya. Bila seseorang tak siap menerima jodohnya, maka Allah pun tak akan memaksakanya. Bila seseorang lebih senang berjalan kaki daripada naik angkot atau punya mobil sendiri yang bisa mengantar ke tempat tujuan padahal dia telah disebiakan sebuah kendaraan sendiri, maka tak ada kuasa kita memaksanya. Hanya dia sendiri yang kuasa merubah ketetapan niatnya.

Ada beberapa cuplikan kisah yang terjadi belum lama ini. Ada yang tentang adikku, yang telah serius untuk menatap jenjang pernikahan, tapi niatnya kandas karena mungkin modal nya belum cukup. Atau seorang teman yang telah bertahun-tahun naik angkot dan terpakasa turun karena angkotnya berbelok tidak pada jurusan yang dia tuju.

Ya, adiku sendiri yang mantap menatap jenjang pernikahan. Calonya adalah seorang aktifis patrai politik yang juga seorang imam masjid di daerahnya. Telah lama menjalin silaturahmi dan berjanji nematap jenjang keseriusan yang sesungguhnya. Tapi apa yang terjadi? Ketika sang pujaan melakasanakan kegiatan di suatu daerah, dia dipertemukan dengan wanita lain. Tak sampai disana ternyata kisah mereka berlanjut dan hancurlah semua rencana adiku. Lihatlah bagai mana mudahnya bagi Allah untuk menjadikan hal tersebut.

Temanku bercerita, dia baru saja ditinggal pangerannya yang menjadi tautan hatinya sejak dari SMA. Sejak SMA! Ya, sudah sangat lama. Tapi lihat, begitu gampang Allah membalikan keadaannya. Kandas dalam hanya beberapa hari.

Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabnya sudah kita tahu, modal mereka tak imbang. Salah satu dari mereka terlalu mulia bagi yang lain. Sehingga Allah pun sayang bila orang mulia tersebut harus berlama-lama jadi angkot bagi yang lain. Maka dari itu maka Allah menunjukan calaon baru pada yang Dia kehendaki sebagai tanda sayangnya pada orang yang Dia muliakan itu. Allah seperti berbisik pada kita, inilah yang pas dengan modal (kadar keimanan mu) saat ini.

Nasihatku kala itu:

Bila kita tak dapat meraih MERAK atau CENDRAWASIH.

Karna diri kita hanya seekor PIPIT hina.

Jangan lah berkecil hati dan berburu-buru mencari PIPIT atau GELATIK sebagai penggantinya, walau hanya itu yang pantas bagi kita

Belajarlah…

Walau tak jadi MERAK, paling tidak kita bisa jadi MERPATI.

Karana MERPATI tak pernah ingkar janji

Dia hanya akan kembali pada sarang dimana dia pergi

Dan dia selamanya hanya akan setia pada satu hati.

Pernah seorang yang patah hati melakukan istiharah untuk melihat siapakah jodohnya. Apakah masih mantannya atau tidak? Dan apa yang terjadi? Gambaran yang ia terima saat itu adalah orang yang sedang dekat dengan dia. Karena ya itulah kadar hatinya saat itu. Allah memberinya perasaan cinta pada orang yang sesuai kadar hatinya saat itu.

Satu hal lagi yang sering terlupa. Ternyata syaitan punya andil besar dalam hal rasa dalam hati manusia. Ingatkah kita alasan Adam diusir dari surga? Ya, karena godaan Iblis yang dibisikan pada orang yang paling dicintainya, Hawa. Karena cinta. Dosa manusia pertama, kisah Habil dan Qabil pun karna bisikan Syaitan lewat bisikan atas  nama cinta. Subhanallah..

Lengkaplah semua mozaik kita tentang hal ini. Ternyata jodoh kita adalah sesuai dengan yang kita inginkan, yang kita perjuangkan dan sesuai kadar diri kita.

Inginkah kita memiliki pasangan semulia Siti Khadijah r.a.? Maka, jadilah semulia Muhammad SAW. dan begitu pula sebaliknya.

Inginkah kita memiliki pasangan setabah Siti Hajar r.a? maka, jadilah setaqwa Ibrahim A.S. dan begitu pula sebaliknya

Pernahkah kita membayangkan pasangan yang rupawan seperti Julaikha? Maka jadilah orang yang menjaga harga diri layaknya Yusuf A.S.

Atau kita ingin memiliki pasangan setaqwa Maryam? Jadilah setulus Nabi Isa A.S. sang putra tercinta.

Sebuah nasihat pernikahan yang saya lihat di belakang surat undangan pernikahan seorang teman berbunyi:

Suami yang menikahimu tidaklah semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Nabi Ibrahim A.S., pun tidaklah setabah Nabi Ayub. Wanita yang kamu nikahi tak semulia Khadijah, tidak setabah Siti Hajar. Tapi kalian lah dua insane  yang punya cita-cita membangun keturunan yang shaleh. Pernikahan mengajarkan kita kewajiban. Suami adalah nahkoda perahu, dan istri adalah navigatornya. Suami adalah rumah yang member kedamaian dan perlindaungan, istri adalah penghuninya yang merawat dan menyemai keindahan rumah tersebut. Suami adalah guru dan istri adalah muridnya. Seandainya suami lupa, bersabarlah istri dalam mengingatkanya. Seandainya istri adalah tulang rusuk yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya.

Mari cermati nasihat tersebut, maka kita akan sampai pada suatu simpulan, “siapa jodoh kita, kita yang pilih. Karena wanita baik hanya untuk lelaki baik”